TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Pemberian Susu Formula Ternyata Harus dengan Saran Dokter, Kenapa Ya?

Simak alasan mengapa susu formula tidak bisa diberikan sembarangan

Freepik

Semua ibu pasti tahu bahwa ASI adalah nutrisi terbaik bayi yang harus diberikan secara eksklusif hingga usia 6 bulan, dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih.

Terlebih lagi, pemberian ASI eksklusif mampu menurunkan angka kematian bayi. Bagaimanapun juga ASI adalah hak bayi. Namun, tidak menutup kemungkinan bayi perlu mendapat asupan selain ASI jika terjadi indikasi medis.

Asupan selain ASI yang dimaksud adalah susu formula. Itu saja ada aturan ketat terkait pemberian susu formula pada bayi baru lahir, Ma. Biasanya dokter akan memutuskan hal tersebut setelah mempertimbangkan kondisi bayi dan kondisi ibu dari sisi medis.

Pertanyaannya, indikasi medis seperti apa yang dimaksud?

Berikut Popmama.commengulas panduan pemberian susu formula pada bayi baru lahir, seperti dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

1. Kondisi kesehatan bayi

Freepik/Praisaeng

Ada beberapa kondisi bayi yang memungkinkan terjadinya pemberian susu formula.

  • Terjadi kontra indikasi mendapat ASI, misalnya bayi memiliki kelainan metabolik atau genetik yang membuat tubuhnya tidak memiliki enzim tertentu untuk mencerna salah satu komponen ASI.
  • Kelahiran bayi kurang bulan (BKB) dimana sistem pencernaan bayi belum sempurna, sementara tubuhnya membutuhkan kalori, lemak, dan protein lebih banyak dari bayi cukup bulan. Maka, pemberian ASI perah diutamakan, tetapi bisa ditambah dengan penguat ASI atau susu formula yang telah dihidrolisis untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi prematur.
  • Kelahiran bayi cukup bulan (BCB) dengan kondisi khusus, seperti risiko hipoglikemia, indikasi gejala dehidrasi, berat bayi turun 8-10 persen, hiperbilirubinemia maupun kuning karena ASI, atau kelainan genetik lainnya.

2. Kondisi kesehatan ibu

Freepik/Aircoolsa

Ada beberapa pertimbangan kondisi kesehatan ibu yang membuat opsi pemberian susu formula perlu dilakukan karena ibu tidak bisa menyusui, seperti ibu mengidap HIV positif.

Selain itu, dokter juga bisa meminta ibu tidak menyusui sementara waktu terkait pengobatan yang tengah dilakukan ibu, misalnya ibu sedang menjalani psikoterapi dengan memakai obat penenang.

Ibu yang sakit berat juga bisa tidak menyusui. Sebagai contoh, ibu membutuhkan pemeriksaan dengan zat radioaktif. Dokter akan menyarankan bayi diberi susu formula dan pemberian ASI dihentikan selama 5 kali masa paruh zat itu.

Ketika tidak menyusui, ASI tetap diperah, tetapi dibuang untuk menjaga produksi ASI hingga ibu bisa menyusui kembali.

3. Susu formula sebagai pengganti ASI sementara

Freepik/chainfoto24

IDAI menyatakan, pemberian susu formula akibat indikasi medis umumnya bersifat sementara. Sambil mengatasi masalah kesehatan yang dialami bayi, Mama juga tetap perlu berusaha menyusui bayi secara langsung.

Demikian pula dengan cara pemberian susu formula. Alih-alih menggunakan dot, pengganti ASI disarankan dengan sendok, cangkir, atau selang orogastrik. Ibu juga dianjurkan sesering mungkin menyusui dan memerah payudara agar pengosongan payudara berjalan optimal dan produksi ASI tetap lancar.

Jelas bahwa indikasi medis terkait kesehatan bayi dan ibu menjadi pertimbangan dokter sebelum menyarankan pemberian susu formula pada bayi baru lahir. Namun, IDAI menegaskan, bayi cukup bulan sehat tidak memerlukan tambahan susu formula, kecuali pada keadaan khusus.

Selama ibu dan bayi diberi kesempatan segera menyusu dan tidak saling dipisahkan, proses menyusui tetap perlu diusahakan. Ingat bahwa tujuan pemberian tambahan susu formula adalah untuk memenuhi nutrisi bayi selagi masalah kesehatan bayi atau ibu diatasi.

Itulah mengapa pemberian susu formula tidak boleh sembarangan. Jangan ragu berkonsultasi ke dokter atau konselor laktasi jika Mama menemui kendala dalam menyusui. Selamat mengASIhi, Ma!

Baca juga:

The Latest