TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

5 Fakta Mengenai Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Pastikan selalu diberikan nutrisi yang cukup

Unsplash/Christian Bowen

Setelah bayi dilahirkan, memeriksa kesehatan bayi adalah hal utama yang dilakukan. Salah satunya adalah dengan menimbang berat badan bayi. Jika berat badan bayi menunjukkan angka yang rendah maka ada kemungkinan saat dalam kandungan perkembangannya kurang baik. 

Masalah ini biasa disebut dengan BBLR atau berat badan lahir rendah. Semakin rendah berat badan lahir bayi, maka akan semakin banyak masalah kesehatan yang akan dihadapi. Ada faktor dan penyebabnya mengapa bayi dapat dikatakan BBLR.

Untuk tahu lebih detailnya mengenai Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), berikut Popmama.com akan memberikan penjelasannya. 
 

1. Apa itu berat badan lahir rendah (BBLR)?

Unsplash/Charles Eugene

Berat Badan Lahir Rendah atau BBLR adalah kondisi bayi yang dilahirkan namun berat badannya kurang dari normalnya berat bayi rata-rata. Bayi dikatakan mengalami BBLR jika beratnya kurang dari 2.500 gram atau 2,5 kilogram. 

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi dapat dikelompokkan berdasarkan berat lahirnya, sebagai berikut:

  • Berat badan lahir rendah (BBLR) pada bayi: BB kurang dari 2.500 gram atau 2,5 kilogram.
  • Berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) pada bayi: BB di antara 1.000 gram atau 1 kilogram dan kurang dari 1.500 gram atau 1,5 kilogram.
  • Berat badan lahir amat sangat rendah (BBLASR) pada bayi: BB kurang dari 1.000 gram atau 1 kilogram.
     

2. Apa yang menyebabkan BBLR?

Unsplash/Jimmy Conover

Tentunya Mama ingin tahu apa penyebab berat badan lahir rendah, agar dapat mewaspadai mulai saat ini. Berikut adalah penyebab dari rendahnya berat badan bayi saat dilahirkan:

  • Intrauterine growth restriction atau IUGR: IUGR adalah kondisi yang membuat perkembangan bayi di dalam kandungan menjadi terhambat. Salah satu penyebabnya adalah karena kelainan plasenta, yaitu organ yang menyalurkan darah berisi makanan dan oksigen pada bayi selama di dalam kandungan. Bayi yang mengalami IUGR bisa lahir secara prematur.
  • Kondisi kesehatan ibu hamil: Kesehatan ibu hamil juga menjadi salah satu penyebabnya, karena ada beberapa riwayat penyakit yang dialami selama kehamilan. Seperti anemia, preeklampsia, tekanan darah tinggi, mengonsumsi alkohol dan merokok. 
  • Usia ibu hamil terlalu muda: Bayi yang berat badannya rendah saat lahir, biasanya ditemukan pada ibu hamil yang usianya masih terhitung remaja, yaitu di bawah umur 20 tahun. Menurut Kementerian Kesehatan RI, kehamilan pada usia muda atau remaja antara lain berisiko kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah (BBLR), dan perdarahan persalinan yang dapat meningkatkan kematian mama dan bayi.  
  • Kekurangan gizi: Selama kehamilan, ibu hamil dituntut untuk selalu memakan makanan yang bergizi. Hal ini karena apa yang akan dimakan oleh ibu hamil tersalurkan juga ke janin. Sehingga janin juga menerima apa yang akan dimakan oleh mamanya. Maka dari itu, untuk mengonsumsi makanan kaya akan nutrisi sangat penting bagi ibu hamil. 
  • Kelahiran prematur: Dilansir dari Stanford Childern's Health, berat badan lahir rendah paling sering disebabkan karena kelahiran prematur atau lahir sebelum 37 minggu kehamilan. Bayi prematur memiliki lebih sedikit waktu di dalam rahim  untuk tumbuh dan menambah berat badan. 

3. Masalah kesehatan yang mungkin akan terjadi

Unsplash/Han Myo Htwe

Jika bayi lahir dengan BBLR, akan memiliki risiko lebih tinggi yaitu mengalami kesulitan perkembangan, komplikasi kesehatan, dan yang berbahaya dapat menyebabkan kematian lebih cepat. Dilansir dari Healthline, berikut adalah masalah kesehatan yang mungkin terjadi pada bayi BBLR.

Komplikasi yang dapat timbul akibat berat badan lahir rendah (BLBR), antara lain adalah:

  • Paru-paru yang kurang berkembang atau organ lainnya 
  • Masalah pernapasan 
  • Masalah pencernaan 
  • Masalah neurologis 
  • Masalah mata atau telinga 
  • Sindrom kematian bayi mendadak (SIDS) 

Semakin rendah BBLR, semakin besar risiko komplikasinya. Namun jika Mama dapat merawatnya dengan baik dan tepat, bayi bisa berkembang dengan baik serta tumbuh sehat. 
 

4. Bagaimana cara mencegah terjadinya BBLR?

Unsplash/Hu Chen

Mama dapat mencegah hal ini untuk menghindari bayi lahir dengan berat badan yang rendah. Sebenarnya tidak sulit, cara ini sangat sederhana untuk dilakukan. Seperti mencukupi asupan makanan yang bergizi selama kehamilan, terutama untuk zat besi. 

Kekurangan zat besi akan membuat ibu hamil mengalami anemia dan menyebabkan risiko kematian pada saat melahirkan, dan melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Selain itu jangan lupa juga nutrisi lainnya seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.

Mama juga harus rajin melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan, untuk mengetahui perkembangan janin di dalam perut. Sehingga dapat mengetahui apakah berat janin sudah cukup atau belum. 
 

5. Cara merawat bayi dengan berat badan rendah

Unsplash/Filip Mroz

Jika memiliki bayi dengan berat badan yang rendah, jangan khawatir. Ada berbagai cara untuk merawatnya sehingga perkembangannya bisa meningkat. Dilansir dari Baby Center, berikut cara merawat bayi dengan berat badan lahir rendah:

  1. Menyusui sesuai dengan jadwalnya: Memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama setelah kelahiran. Disarankan untuk memberikan sesuai jadwal menyusui atau setidaknya setiap tiga jam atau bahkan dua jam sekali.
  2. Skin-to-skin: Cara yang satu ini bisa sekaligus ketika sedang memberikan ASI ataupun sekadar menggendong bayi. Di mana kulit mama dengan si Kecil akan menyentuh langsung, dan ini juga dapat menambah berat badan bayi. 
  3. Ikuti aturan tidur bersama bayi: Tidur di kamar yang sama namun tidak di satu tempat tidur. Bayi dapat juga mengenakan box bayi, atau tempat tidur khusus dan diletakkan dalam posisi telentang ketika sedang tidur. 

Itu dia fakta mengenai bayi dengan berat badan lahir rendah atau BBLR. Tak perlu khawatir, Mama bisa mulai mencegahnya dari sekarang. Jangan lupa untuk mengonsumsi makanan yang bergizi selama kehamilan. 

Baca juga:

The Latest