TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Agar Perawatan Maksimal, Kenali 5 Screening Khusus untuk Bayi Prematur

Bayi prematur membutuhkan perawatan khusus karena kondisi mereka yang belum sepenuhnya sempurna

Pixabay/Engin_Akyurt

Pilihan yang terbaik bagi bayi prematur adalah dilahirkan di rumah sakit yang memiliki fasilitas NICU (Neonatal Intensive Care Unit). NICU bisa membantu si Bayi prematur mendapat penanganan medis yang lebih baik dan tepat. Pasalnya, kelahiran yang belum cukup umur ini sering menyebabkan bayi prematur lebih sering mengalami masalah kesehatan.

Menurut Tommys.org, bayi prematur harus tinggal di unit NICU untuk dipantau perkembangannya. Bahkan beberapa tes screening guna memeriksa kondisi tertentu di awal kehidupannya.

Berikut Popmama.com berikan informasi mengenai 5 macam screening untuk bayi prematur, yaitu:

1. Screening paru-paru untuk memperkuat pernapasannya

Freepik

Penyakit paru-paru kronis adalah yang paling sering terjadi pada bayi prematur. Umumnya, ia diberikan cairan penguat paru-paru untuk memastikan sistem pernapasannya sudah dapat berjalan. 

Tujuan dari tes screening paru-paru untuk mengetahui seberapa baik paru-paru bayi berkembang serta memeriksa berapa banyak oksigen dan karbondioksida dalam aliran darahnya.

Dikutip dari Better Safer Care, bayi prematur dengan paru-paru kronis biasanya dipindahkan ke kamar khusus untuk perawatan berkelanjutan.

Dengan dilakukannya screening rutin, hal ini agar mencegah terjadinya masalah kesehatan yang fatal. Namun setelah memasuki usia 2 bulan, paru-paru bayi prematur pun akan berkembang.

2. USG di bagian kepala guna untuk memeriksa otak anak

Pixabay/TryJimmy

Otak bayi prematur biasanya mengalami perbedaan dalam konektivitas yang mungkin memainkan peran dalam gangguan perkembangannya.

Agar tidak berisiko mengalami gangguan dan perdarahan di otak, maka sangat penting melakukan USG di kepala bayi untuk memeriksa bagian otaknya.

The Guardian.com mengatakan, bahwa anak yang dilahirkan prematur lebih berisiko autisme dan kondisi perilaku lainnya seperti ADHD. Di sinilah dokter perlu mencari tahu obat atau gaya perawatan guna membantu anak mencapai potensi yang penuh.

Selain itu, USG di bagian kepala ini juga berfungsi memeriksa kelainan di struktur kepala si Kecil. Pasalnya, efek prematuritas bisa berlanjut hingga ia dewasa.

3. Screening indra penglihatan membantu anak melihat dengan sempurna

Freepik/pch.vector

Bayi prematur lebih cenderung memiliki masalah kesehatan, termasuk kondisi mata. Oleh sebab itu orangtua harus mengetahui cara pencegahannya.

WebMD menjelaskan, kelahiran prematur bisa mengarah ke Retinopathy of Prematory (ROP). Seorang spesialis retina yang memeriksa bayi dengan ROP akan tahu kapan harus memerhatikan kondisi dan mengobatinya berdasarkan pedoman.

Di mana Retinopathy of Prematory berpotensi membuat retina berkembang abnormal dan menimbulkan risiko kebutaan.

Dengan screening indra penglihatan, maka dapat membantu menjaga penglihatan sentral yang memungkinkan anak melihat lurus ke depan, membaca dan melihat warna.

4. Screening pendengaran menyaring gangguan fungsi dengar

Pixabay/Free-Photos

Tes pendengaran bayi prematur adalah tes non invasif yang menyaring kemungkinan masalah pendengaran. Pasalnya, bayi prematur juga memiliki risiko mengalami gangguan pendengaran.

Dilansir dari VeryWellFamily.com, bayi prematur membutuhkan perawatan NICU. Ini karena mereka memiliki risiko lebih besar untuk kehilangan pendengaran dibandingkan bayi dengan kondisi yang baik.

Ada dua jenis screening pendengaran yang umum digunakan untuk bayi prematur, yakni:

  • Otto Acoustic Emission (OAE)

Selama tes OAE, earphone kecil ditempatkan di telinga bayi. Suara dipancarkan dan emisi otoacoustic yang dihasilkan telinga (seperti gema) diukur.

  • Auditory Brainstem Response (ABR)

Selama tes ABR, headphone diletakkan di atas telinga bayi dan elektroda diletakkan di kepala bayi. Suara dimainkan ke dalam earphone dan elektroda untuk mengukur respons otak. 

5. Screening tulang memantau osteopenia pada bayi

Freepik/onlyyouqj

Bayi prematur mungkin tidak menerima jumlah kalsium dan fosfor yang dibutuhkan untuk membentuk tulang. Kekurangan vitamin D juga dapat menyebabkan osteopenia pada bayi.

Medline Plus memaparkan, tes yang paling umum digunakan mendiagnosis dan memantau osteopenia pada bayi prematur meliputi tes darah untuk memeriksa kadar kalsium, fosfor dan protein yang disebut alkaline phosphatase.

Ketika bayi sudah memasuki usia 1 bulan, sebaiknya mulai melakukan screening tulang atau disebut sebagai Osteopenia of Prematurity (OOP). Langkah ini agar tulangnya berkembang kuat.

Biasanya setelah bayi prematur lahir, ia akan mendapatkan kelima screening seperti di atas. Sangat penting bagi orangtua untuk melindunginya dari penyakit tertentu yang bisa berbahaya.

Baca juga:

The Latest