TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Mengenal Glaukoma Kongenital yang Bisa Sebabkan Kerusakan Mata Bayi

Glaukoma kongenital merupakan salah satu jenis penyakit mata pada bayi yang perlu Mama waspadai

Freepik/yanalya

Setiap orangtua tentu ingin buah hatinya lahir dan tumbuh secara sehat. Namun, tidak semua bayi beruntung bisa dilahirkan dalam kondisi sehat dan sempurna.

Ada beberapa kondisi tak terduga yang bisa dialami oleh bayi, bahkan sejak berada di dalam kandungan atau yang disebut dengan penyakit bawaan. Salah satu penyakit bawaan yang yang perlu diwaspadai adalah glaukoma kongenital. 

Penyakit ini menyerang bola mata pada bayi sehingga dapat merusak saraf optik (penglihatan). Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, penyakit glaukoma bisa mengakibatkan hilangnya penglihatan (kebutaan) secara permanen pada bayi atau anak.

Untuk informasi lebih lanjut, berikut ini Popmama.com akan mengulas mengenai glaukoma kongenital pada bayi. Yuk, kita simak bersama!

1. Mengenal apa itu glaukoma kongenital

Pixabay/naama

Glaukoma kongenital atau glaukoma pediatrik adalah kondisi kerusakan saraf optik (penglihatan) akibat tekanan bola mata yang terlalu tinggi pada bayi dan anak-anak. 

Glaukoma lebih sering dialami oleh orang dewasa dan orangtua. Namun, penyakit ini juga bisa dialami oleh bayi yang dapat didiagnosis saat lahir atau tidak lama setelahnya. 

Dilansir dari Glaucoma.uk, glaukoma kongenital termasuk kasus yang cukup langka. Sekitar 5 dari 100.000 bayi lahir dengan glaukoma, atau baru berkembang di masa kanak-kanak.

2. Dua jenis glaukoma yang dapat dialami bayi dan anak-anak

Canva/Favor_of_God

Kondisi glaukoma kongenital terbagi menjadi dua jenis, yakni glaukoma kongenital primer dan glaukoma sekunder. 

Glaukoma kongenital primer

Glaukoma kongenital primer merupakan jenis glaukoma yang paling umum dialami bayi dan anak-anak. Kata primer sendiri berarti penyakit ini tidak disebabkan oleh kondisi penyakit lain, sedangkan kata kongenital berarti penyakit ini sudah terjadi sejak lahir atau penyakit bawaan.

Glaukoma kongenital primer terjadi ketika mata bayi belum berkembang dengan baik di dalam rahim dan menyebabkan gangguan pada cairan yang keluar dari mata. Jika cairan tidak dapat mengalir keluar dengan normal, maka cairan tersebut akan menumpuk di dalam mata dan menyebabkan tekanan mata meningkat. 

Kondisi ini dapat menyebabkan tekanan pada saraf optik dan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada penglihatan. Glaukoma jenis ini cenderung diturunkan dari riwayat keluarga yang mengalami hal serupa.

Glaukoma sekunder

Glaukoma sekunder pada bayi dan anak-anak umumnya disebabkan oleh penyakit lain. Misalnya penyakit sindrom Axenfeld-Rieger, di mana adanya masalah pada perkembangan dengan beberapa bagian mata atau penyakit Anomali Peter di mana adanya perkembangan abnormal pada lensa dan kornea mata.

Selain itu, glaukoma sekunder juga dapat disebabkan oleh efek samping dari obat-obatan tertentu seperti obat golongan kortikosteroid atau akibat dari adanya cedera mata.

3. Penyebab glaukoma kongenital

Freepik/macrovector

Di dalam mata terdapat ruang yang dikenal sebagai ruang anterior atau anterior chamber. Ruang ini penuh dengan cairan bening yang disebut dengan aqueous humor yang fungsinya menggantikan darah dalam menyuplai nutrisi dan oksigen pada lensa dan kornea.

Cairan aqueous humor terus-menerus masuk dan keluar dari ruang anterior, lalu mengalir melalui sudut yang dibentuk oleh kornea dan iris. Fungsi sudut ini adalah untuk memungkinkan aqueous humor terus mengalir keluar dari mata dan memastikan tekanan di dalam bola mata stabil sehingga tidak merusak saraf penglihatan.

Maka dari itu, sudut yang dibentuk oleh kornea dan iris harus tetap terbuka sehingga aqueous humor dapat keluar dari mata.

Pada penderita glaukoma kongenital, bayi mengalami cacat lahir pada perkembangan sudut mata, sehingga cairan aqueous humor tidak dapat mengalir keluar secara normal. Kondisi ini disebabkan oleh perkembangan mata yang tidak normal. 

Alhasil, cairan aqueous humor yang tidak dapat mengalir keluar secara normal menyebabkan tekanan di dalam bola mata meningkat dan menyebabkan kerusakan saraf optik.

4. Gejala glaukoma kongenital

Freepik/rawpixel.com

Gejala glaukoma kongenital pada bayi dapat bervariasi. Berikut adalah gejala yang paling khas ditunjukkan oleh bayi yang menderita glaukoma kongenital:

  • Ukuran mata cenderung lebih lebar dari ukuran normal.

  • Lebih sensitif terhadap cahaya atau fotofobia.

  • Sering menutup satu atau kedua mata, terutama saat berada di tempat terang.

  • Bola mata membuat gerakan yang cepat dan berulang tanpa disengaja (nistagmus).

  • Memiliki penglihatan yang buruk.

  • Beberapa penderita glaukoma kongenital memiliki mata juling (strabismus).

  • Kornea mata terlihat keruh.

  • Mata sering berair atau memerah.

5. Pengobatan glaukoma genital

Canva/sdominick

Pilihan pengobatan glaukoma kongenital dapat bervariasi tergantung pada kondisi bayi. Sebelumnya, dokter akan mendiagnosis dengan cara melakukan pemeriksaan mata bayi secara menyeluruh.

Pada bayi, umumnya pemeriksaan mata dilakukan saat bayi rileks dan mengantuk, seperti saat atau setelah menyusui. Namun, pada beberapa kondisi, pemeriksaan dilakukan dengan memberikan anestesi. 

Jika dokter menyatakan bahwa bayi menderita glaukoma, maka perlu segera dilakukan tindakan agar kondisi penglihatannya tidak semakin memburuk. Pengobatan yang dilakukan bisa berupa operasi atau pemberian obat-obatan.

Operasi umumnya dilakukan dengan alat-alat kecil untuk membuka saluran drainase bagi cairan berlebih dan memperbaiki sirkulasi cairan bola mata. Jika kondisi bayi tidak memungkinkan untuk menjalani operasi, maka dokter akan memberikan obat-obatan berupa tetes mata, obat minum, atau kombinasi keduanya.

Setelah menjalani pengobatan, kondisi mata bayi perlu dikontrol secara berkala. Setelah bayi sudah cukup besar dan mengalami gangguan penglihatan akibat glaukoma kongenital, maka ia mungkin memerlukan kacamata atau lensa kontak untuk membantu penglihatannya.

Demikian rangkuman mengenai glaukoma kongenital pada bayi. Jadi, jika Mama mencurigai adanya gejala tidak normal pada mata si Kecil, jangan ragu untuk memeriksakannya ke dokter mata, ya!

Baca juga:

The Latest