TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Perkembangan Bayi Usia 1 Minggu: Masalah Kuning dan ASI Pertama

Seperti apa perkembangan fisik bayi usia 1 minggu beserta permasalahan kesehatannya?

Pixabay/Sanjasy

Bayi berkembang dengan cara yang sangat menakjubkan. Di usia 1 minggu ini, penglihatan si Kecil masih cukup kabur. Bayi dilahirkan dengan penglihatan yang masih rabun, dengan jarak pandang sekitar 20-35 cm jauhnya. Oleh karena itu, bayi baru bisa melihat wajah mama dengan jelas saat Mama mendekapnya.

Di usia yang masih sangat dini ini, bayi memang belum bisa melakukan kontak mata dengan orang di sekitarnya. Tetapi sebetulnya mereka sudah bisa memandang bagian-bagian wajah mama, misalnya alis, rambut atau pun mulut. Studi mengatakan, bayi baru lahir menyukai wajah manusia ketimbang pola atau warna-warni lainnya.

Kehidupan Orangtua: ASI Pertama

Freepik/Zilvergolf

Dua hingga empat hari setelah bayi lahir, ASI Mama akan mulai keluar dan hal ini disebut dengan engorgement. Sebelumnya, bayi mengonsumsi cairan dari kelenjar buah dada mama yang disebut kolostrum. Proses ini penting, namun seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman pada mama. Mengapa?

Tubuh mama 'memaksa' keluar susu dari kelenjar melalui puting, dan hal ini berpengaruh pada hormon pascapersalinan. Selain itu, sensasi menyusui bayi baru lahir masih terasa asing dirasakan Mama. Payudara Mama akan terasa lunak, keras bahkan panas di tahapan permulaan ASI ini. Pada sebagian orang, terasa sensasi berdenyut. Tapi tenang, Ma, tubuh akan menyesuaikan dengan kondisi asing ini secara alamiah seiring dengan frekuensi keluarnya ASI.

Untuk mengurangi rasa sakit dan tak nyaman karena menyusui pertama kali, Mama bisa melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Mandi air hangat,
  • mengompres dengan kain hangat sebelum menyusui,
  • keluarkan sedikit susu dari setiap payudara sebelum menyusui. Payudara yang penuh membuat pelekatan bayi lebih sulit, yang akan menyebabkan rasa sakit saat menyusui si Kecil,
  • jangan menghindari menyusui karena merasa sakit. Semakin sering Mama menyusui, justru akan lebih baik karena ASI dikelola lebih baik,
  • kompres dengan air dingin setelah menyusui,
  • banyak minum cairan untuk menjaga diri dari dehidrasi.

Bayi Sering Mengalami Jaundice atau Kuning

Jaundice merupakan kondisi kesehatan yang sering dialami bayi baru lahir, berupa warna kulit yang kekuningan dan mata yang putih. Umumnya kondisi ini terjadi di hari kedua atau ketiga setelah bayi lahir dan penting untuk selalu dipantau orangtua. 

Bayi baru lahir memiliki jumlah sel darah merah lebih banyak ketimbang yang dibutuhkan tubuhnya. Saat hati bayi belum dapat memprosesnya dengan sempurna, jumlah bilirubin dalam tubuhnya pun meningkat. Sebagian bilirubin ini dikeluarkan melalui tinja bayi, tetapi sebagian pula tertinggal dalam tubuh bayi.

Bayi prematur atau dengan penyakit genetik sangat rentan mengalami jaundice. Begitu pula dengan bayi yang tidak mendapatkan cukup ASI, karena bilirubin tidak dapat keluar dari tubuh melalui pembuangan. 

Penyakit kuning yang terdeteksi dalam 24 jam pertama kehidupan bayi, bisa jadi disebabkan ketidakcocokan golongan darah bayi dengan mama (mama rhesus negatif sedangkan bayi rhesus positif), infeksi atau adanya masalah pada liver bayi.

Pada beberapa kasus, jaundice tidak berbahaya. Dokter akan mengecek kadar bilirubin pada darah bayi untuk memutuskan tindakan yang perlu dilakukan. Umumnya, jaundice ditangani medis dengan melakukan  fototerapi (terapi sinar ultraviolet) yang bertujuan untuk menurunkan tingkat bilirubin yang menumpuk dan berpotensi menjadi racun di otak bayi (kernicterus).

Jika bayi mama membutuhkan perawatan fototerapi, pastikan si Kecil mendapatkan asupan cairan yang cukup. Dokter akan menyarankan Mama untuk lebih sering menyusui si Kecil atau memberi lebih banyak susu formula agar bayi tidak kekurangan cairan. Bilirubin pun bisa dikeluarkan lebih banyak melalui tinja atau air seni bayi.

Baca Juga:

The Latest