TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Tak Hanya Susu, Anak pun Bisa Mengalami Intoleransi Cokelat

Seringkali masalah pencernaan ini 'dituduh' sebagai alergi, bahkan keracunan. Padahal berbeda.

Freepik

Intoleransi makanan adalah salah satu masalah kesehatan yang umum terjadi dan bisa dialami oleh siapapun. Dilansir dari livestrong.com, intoleransi makanan yang terjadi pada anak seringkali disalahartikan sebagai kondisi dari suatu penyakit tertentu, misalnya infeksi ringan, kelelahan atau alergi.

Masalahnya, Mama mungkin akan kesulitan untuk mendeteksi dini gangguan ini karena gejalanya yang tampak samar dan bias dengan penyakit lain. Seringkali pula anak-anak tidak dapat menggambarkan ketidaknyamanan yang dirasakannya.

Penyebab Intoleransi Produk Cokelat Bukan Hanya Karena Kakao

Pexels/Thanachat Chantaramanee

Intoleransi makanan seringkali dikaitkan dengan produk susu. Padahal intoleransi merupakan gangguan saat tubuh seseorang tidak dapat mencerna kandungan pada produk makanan. Cokelat, misalnya.

Intoleransi terhadap cokelat sangat umum terjadi pada anak. Ini disebabkan karena produk olahan cokelat mengandung bahan-bahan yang berpotensi memicu masalah pencernaan meski dalam tingkat rendah. Bahan-bahan tersebut, antara lain kakao, gula, susu, gluten, kafein, kacang-kacangan, pewarna makanan dan zat tambahan lainnya yang dapat memicu timbulnya intoleransi.

Untuk kasus intoleransi produk olahan cokelat ini, bukan melulu kakao yang jadi penyebab utamanya. Sebagian kasus menyebutkan, anak juga rentan mengalami intoleransi terhadap kafein dan sirup jagung fruktosa tinggi.
 

Mengenal Gejala Intoleransi Cokelat pada Anak

Freepik/freephoto

Gejala intoleransi cokelat pada anak bisa beragam bentuknya. Untuk gejala yang ringan, biasanya anak akan mengalami ruam kulit, gangguan pencernaan, mual, perut kembung, kelelahan, sakit kepala, batuk dan pilek. Sedangkan menurut buku Public Health Nutrition, intoleransi dianggap serius jika menunjukkan gejala seperti gatal-gatal, gangguan pernapasan, pusing, sensasi terbakar di tenggorokan, pembengkakan di mulut dan di sekitar wajah, kecemasan, masalah perilaku, muntah dan diare. 

Untuk mendiagnosa apakah anak mengalami intoleransi terhadap cokelat atau tidak, perlu dilakukan tes alergi. Tes ini untuk menemukan manakah komponen dalam produk olahan cokelat yang menimbulkan masalah. Bisa jadi, bahan utamanya alias kakao atau susu, atau bahan lain yang seringkali tidak disadari terkandung di dalamnya. Perlu diingat, bahwa dalam satu pabrik pembuatan cokelat seringkali menggunakan mesin yang sama untuk mengaduk bahan makanan lain. Ada kemungkinan saat proses pembuatan, bahan lain ikut tercampur walau jumlahnya sedikit.

Jika ternyata yang menjadi penyebab adalah kacang, misalnya, maka berilah anak cokelat yang bebas kacang dan tidak diproduksi satu alat dengan produk yang mengandung kacang. Biasanya ada keterangan di balik kemasannya kok, Ma, meskipun terkadang ditulis dalam huruf yang sangat kecil.

Demikian pula jika susu yang menjadi masalahnya, maka Mama dapat memberikan cokelat hitam dengan kadar kakao tinggi pada anak tanpa campuran susu. 

Namun, jika kakao yang menjadi masalahnya, maka pertimbangkan untuk memberikan anak jenis kudapan lain yang tidak terbuat dari cokelat, melainkan pemanis lainnya. Madu, misalnya.

Saat Mama melihat adanya gejala yang muncul setelah si Kecil makan cokelat atau makanan lainnya, sebaiknya konsultasikan pada dokter atau ahli gizi tentang kemungkinan yang terjadi dan bagaimana penanganan tepat yang harus dilakukan.

Baca Juga:

The Latest