TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Berbahaya, Hati-Hati Jika Anak Perempuan Sudah Pacaran sejak SD!

Berhenti normalisasi anak pacaran sejak SD, efeknya berbahaya!

Pexels/Tan Danh

Pacaran, atau menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis kerap kali dianggap sesuatu yang normal. Namun, tentu saja pacaran seharusnya dilakukan oleh mereka yang telah cukup umur.

Kenyataannya, zaman sekarang tidak sedikit anak SD yang sudah pacaran, lho! Lalu, bagaimana orangtua seharusnya merespon hal ini?

Tidak jarang, sebagai orang dewasa respon yang diberikan justru menganggap seolah pacaran anak SD adalah hal yang lucu, lalu dijadikan bahan bercandaan, dan dinormalisasi. Padahal, ada bahaya yang mengintai.

Seorang dokter Obgyn yang cukup terkenal di media sosial membagikan sebuah cerita menyedihkan tentang anak perempuan yang telah pacaran sejak SD hingga akhirnya hamil di usia muda dan terinfeksi Kondiloma Akuminata.

Dokter Amira Ali, atau yang dikenal dengan akun TikTok.com/dokteramiraobgyn memberikan peringatan untuk orangtua, hati-hati jika anak perempuan sudah pacaran sejak SD!

Berikut Popmama.comtelah merangkum ceritanya untuk Mama!

Mendapat Pasien Usia 18 Tahun dan Mengeluh Perutnya Sakit

Freepik/8photo

Dokter Amira menceritakan bahwa ia mendapat seorang pasien yang berusia 18 tahun dan mengeluh nyeri perut, mengalami flek, dan haid tidak lancar selama 4 bulan. Setelah menjalani USG, pasien ini diketahui sedang dalam kondisi hamil 5 bulan.

Rupanya, ada hal lain yang lebih mengejutkan. Pasien ini rupanya telah menjalani hubungan pacaran selama 8 tahun dengan sang kekasih. Jika dilihat dari usianya, maka pasien perempuan ini telah pacaran sejak duduk di bangku SD.

Pasien Mengidap Kondiloma Akuminata

pexels/paveldaniyuk

Pemeriksaan pun berlanjut, karena pasien ini mengaku alami flek. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia mengidap Kondiloma Akuminata.

Mengutip dari cancer.gov dijelaskan bahwa Kondiloma Akuminata atau yang sering dikenal juga sebagai kutil kelamin adalah salah satu jenis penyakit menular seksual berupa munculnya kutil atau benjolan kecil di organ intim atau anus.

Pada pasien ini, Kondiloma Akuminata muncul di daerah vagina, dan menunjukkan adanya hubungan intim yang tidak aman. Kondisi ini disebabkan oleh human papillomavirus (HPV).

Tidak Siap, Pasien Minta Kandungan Digugurkan

Freepik

Akibat belum siap dengan kehamilannya, pasien ini pun meminta agar kandungannya digugurkan. Hal ini tentu saja ditolak oleh dokter Amira.

Beliau pun memberikan edukasi kepada followersnya, bahwa tindakan aborsi yang tidak didasarkan pada kondisi medis, termasuk dalam tindak pidana.

“Nah itu yang namanya Abortus Provokatus. Kalau sampai digugurkan, baik tenaga medis yang menggugurkan maupun pasiennya, itu ada hukum pidananya.” ucap dokter Amira.

Biasanya, ada faktor sosial ekonomi, kehamilan tidak diinginkan, serta Ibu hamil yang belum siap secara mental menjadi alasan pasien meminta kandungan digugurkan.

Dokter Amira menegaskan, bahwa ini bertolak belakang dengan aturan Abortus, karena tidak sesuai dengan indikasi medis.

Pentingnya Pendidikan Seks Sejak Dini

Freepik/rawpixel.com

Dalam unggahan akun TikTok.com/dokteramiraobgyn membawa sebuah contoh perbandingan kesadaran vaksin HPV dan pentingnya pengaman saat berhubungan intim.

Ia menyebutkan, bahwa di luar negri ada banyak hubungan intim yang dilakukan di luar nikah. Namun, karena banyak yang sudah terpapar informasi dan sadar pentingnya vaksin dan pengaman, tapi perempuan dan laki-lakinya aman.

“Bukan membenarkan hubungan intim (di luar nikah), tetap hubungan intim sebaik-baiknya adalah dilakukan setelah menikah, halal secara hukum dan agama. Tapi, di luar negri sudah aware pentingnya vaksin HPV dan menggunakan pengaman,” ungkap dokter Amira.

Pendidikan Seks Bukanlah Sesuatu yang Tabu

Pexels/Tima Miroshnichenko

Maraknya kasus serupa menjadi alarm bagi orangtua untuk memberikan perhatian dan pendidikan lebih terhadap anak. Selama ini, pendidikan seksual masih dianggap sesuatu yang tabu. Terlebih jika diajarkan kepada anak sejak usia dini.

Pendidikan seksual terhadap anak mencakup banyak hal, termasuk fungsi alat kelamin, bagaimana cara menjaga kebersihan alat vitalnya, dan melindungi diri dari kekerasan seksual. Jika bukan orangtua, lalu siapa yang akan mengajarkan hal-hal ini kepada anak?

Tidak ada kata terlalu dini, jika membicarakan pendidikan seksual dengan anak. Orangtua pun diharapkan mampu berbicara secara terbuka, jujur, dalam memberikan informasi terkait seks dan seksualitas.

Bingung? Mama Bisa Mulai dari Sini

Freepik/freepik

Mengutip dari raisingchildren.net.au, ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk mengajarkan anak pendidikan seks sejak dini:

  1. Jelaskan sesuatu sesuai usia anak
    Daya tangkap dan pemahaman anak akan sesuatu tentu berbeda saat ia kecil, dan dewasa. Mulailah dengan sesuatu yang singkat, faktual, dan positif sesuai dengan usia anak.
  2. Sebut nama bagian tubuh dengan benar
    Tidak perlu menganggap ini aneh ya, Ma. Cara ini membantu menyampaikan pesan bahwa membicarakan bagian tubuh itu sehat dan baik-baik saja. Anak juga jadi lebih bisa mengenal bagian tubuhnya sendiri.
  3. Berikan aturan do’s and don'ts
    Mengajarkan pada anak untuk memberikan batasan terhadap tubuhnya sendiri adalah hal yang penting. Ajarkan sedini mungkin, aturan tentang do’s and don’ts terhadap tubuhnya ya, Ma.
  4. It’s okay to say “I don’t know” to your children
    Ma, Mama juga tidak harus selalu mengerti semua pertanyaan si Kecil. Ada kalanya, Mama juga kesulitan menjawab pertanyaan mereka. Alih-alih memberikan jawaban tidak benar, Mama bisa menjawab “belum tahu” dan mencoba mencari jawabannya bersama dengan si Kecil.
  5. Mulai percakapan sekarang!
    Anak mungkin merasa canggung jika harus memulai perbincangan tentang hal yang cukup sensitif ini. Jadi, nggak ada salahnya Mama dan Papa mengawali perbincangan tanpa merasa canggung dengan anak, ya!

Banyaknya kasus kehamilan di luar nikah dan terjadi di usia muda bukan tidak mungkin untuk dicegah. Maka, pendidikan seks sejak dini menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan orangtua untuk menyelamatkan masa depan anak. Semoga artikel ini bermanfaat.

Baca juga:

The Latest