TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Peka Terhadap Suara, Ini Tanda Anak dengan Pendengaran Sensitif

Karena kepekaan tinggi inilah, mood dan temperamen anak bisa berubah

pexels.com/Pixabay

Manusia dianugerahi indra pendengaran untuk menghubungkan dirinya dengan dunia di sekitarnya. Indra pendengaran ini memiliki sensitivitas tinggi di awal kehidupan, kemudian berangsur-angsur berkurang seiring tingginya paparan kebisingan sehari-hari.

Namun, ada kondisi-kondisi tertentu di mana seseorang atau anak memiliki pendengaran yang sensitif. Anak dengan pendengaran sensitif atau yang dikenal dengan hiperakusis seringkali merasa tidak nyaman saat mendengar suara-suara keras yang sebenarnya bisa ditoleransi mereka yang memiliki pendengaran normal.

Kondisi ini bisa jadi sulit dideteksi karena umumnya hadir dalam bentuk gejala perilaku, bukan gejala fisik.

Meski seringkali dikaitkan dengan penderita sindrom Williams, tetapi dampak dari hiperakusis pada anak ini dapat berkurang seiring dengan waktu dan perawatan yang tepat. 

Berikut Popmama.com membahas kondisi anak dengan pendengaran sensitif lebih lanjut, simak yuk Ma.

Hiperakusis, Kasus Super Langka

Freepik/dianagrytsku

Dilansir dari livestrong.com, disebutkan bahwa kasus pendengaran sensitif ini termasuk jarang terjadi dengan perbandingan satu dari setiap 50.000 orang di seluruh dunia.

Penderita hiperakusis mungkin akan sangat peka terhadap suara tertentu, misalnya suara musik yang terlalu keras, suara gergaji mesin, tangisan anak kecil, atau bahkan pada kasus tertentu ia akan sangat sensitif pada berbagai suara gemerisik, apapun itu sumbernya.

Saat suara-suara tersebut terasa sangat menyakitkan untuk telinganya, anak mungkin akan tampak spontan menutupi telinga dengan tangannya atau berusaha untuk menjauhi sumber suara tersebut. 

Hiperakusis Dapat Mengganggu Keseharian Penderitanya

Freepik/jcomp

Hiperakusis parah bisa jadi akan mengganggu aktivitas harian penderitanya. Masalahnya, tak semua anak bisa mengungkapkan gejala sehingga orangtua bisa mengetahui ketidaknyamanan yang dirasakannya.

Bisa jadi ia akan mudah marah, gugup, cemas, gelisah, tegang, dan menangis saat berada di tempat-tempat ramai dan bising atau saat mendengar suara tertentu seperti tepuk tangan yang keras dan lain sebagainya. 

Hiperakusis bisa muncul seketika atau secara perlahan-lahan. Jika tidak ditangani dengan tepat, anak dengan pendengaran sensitif seringkali akan sulit berkonsentrasi di sekolah dan bahkan mengalami depresi saat terpapar suara yang dianggap berisik bagi telinganya. 

Penyebab Hiperakusis Belum Ditemukan

sott.net

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab munculnya gangguan pendengaran ini. Namun, beberapa faktor seperti tinnitus atau telinga berdenging, kerusakan otak atau telinga akibat trauma atau cedera, penyakit Meniere atau gangguan telinga dalam dianggap sebagai faktor pemicunya.

Terkait sensitivitas pendengaran ini, biasanya dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan fisik, pengamatan riwayat kesehatan anak serta tes untuk mengukur pendengaran anak. 

Setiap kasus hiperakusis memiliki penanganan yang berbeda tergantung dari faktor pemicunya. Namun yang pasti, terapi konseling bisa jadi salah satu solusi penanganan bagi anak penderita hiperakusis untuk membantunya mengatasi ketidaknyamanan yang dirasakannya.

Selain itu, dokter mungkin akan menyarankan terapi suara dengan alat khusus untuk membantu mengurangi kepekaan mereka terhadap suara. 

Baca Juga:

The Latest