TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Ajarkan Sosialisasi, 7 Contoh Permainan Asosiatif untuk Balita

Mengajarkan anak untuk bersosialisasi melalui permainan asosiatif, penting lho Ma!

Freepik/Odua

Saat si Kecil tumbuh, kebiasaan bermainnya akan berubah. Untuk waktu yang lama, Mama dan anggota keluarga harus menjadi teman bermainnya di rumah atau di taman.

Dan ini akan kembali berubah ketika anak perlu bermain dengan balita lain di kelompok bermain, di taman bermain, di prasekolah, di acara sosial, dan lain-lain.

Di sinilah permainan asosiatif dapat berperan dalam kehidupan anak, khususnya kehidupan sosialnya.

Permainan asosiatif atau associative play ditandai dengan adanya pertemuan antar anak yang bermain. Selama bermain, anak mulai fokus pada permainan orang lain, bukan hanya pada permainannya sendiri. Mereka kemudian dapat berbicara dan mulai berinteraksi satu sama lain.

Untuk membangun keterampilan sosial pada anak sejak dini, penting bagi Mama untuk mengenali tahapan bermain asosiatif pada balita.

Kali ini Popmama.com akan membahas tujuh contoh permainan asosiatif yang cocok untuk balita. Simak di bawah ini yuk!

Manfaat Permainan Asosiatif bagi Perkembangan Balita

Freepik/Studiopeace

Ketika anak mama masih berusia balita, ia sangat tertarik untuk menemukan hal-hal baru sehingga sering mengabaikan dunia di sekitarnya dan menjadi egois. Ketika anak memasuki tahap permainan asosiatif, ia biasanya akan mulai bercabang dari pengalamannya sendiri, berinteraksi dengan orang lain, dan berteman.

Dilansir dari Healthline, anak mungkin mulai bermain asosiatif ketika ia berusia 3 atau 4 tahun, atau sedini 2 tahun. Tahap permainan ini biasanya berlangsung sampai ia berusia sekitar 4 atau 5 tahun, meskipun anak-anak akan terus bermain dengan cara ini pada waktu-waktu tertentu, bahkan setelah memasuki tahap permainan berikutnya.

Kemudian, dilansir dari WebMd, permainan asosiatif dapat membantu meningkatkan keterampilan bahasa, pemecahan masalah, dan kerja sama sosial secara umum. Si Kecil juga akan belajar cara berbagi atau menukar mainan dan berpikir sendiri.

Ia mungkin berkomunikasi tentang aktivitas umum atau bahkan mengizinkan atau menolak anak lain ke lingkaran permainannya.

Setelah mengetahui manfaatnya, kini simak yuk apa saja contoh permainan asosiatif yang tepat untuk balita!

1. Balok bangunan atau LEGO

Freepik/pre

Ketika Mama menghadiri acara orangtua dan anak, seringkali ada sudut area bermain yang menunjukkan permainan. Area khusus ini biasanya memiliki berbagai macam mainan untuk dimainkan anak-anak. Salah satunya membangun balok menara atau LEGO.

Ketika anak berada dalam tahan bermain asosiatif, si Kecil mungkin membangun menara balok sendirian di antara anak-anak lainnya.

Tak lama kemudian, ia mungkin melihat menara yang dibangun anak lain atau memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Balok bangunan dan LEGO cocok digunakan untuk bermain asosiatif, karena jenis permainan ini tidak memiliki rencana, organisasi, dan kompetisi formal apa pun.

2. Bersepeda

Freepik

Mama mungkin pernah melihat situasi di mana anak-anak mengendarai sepeda atau skuternya sebagai sebuah kelompok.

Ketika anak-anak terlibat dalam permainan asosiatif dalam pengaturan ini, mereka belum tentu saling mengenal.

Kegiatan ini juga seringkali tidak ada koordinasi atau rencana sebelumnya, tentang situasi saat ini, atau ke mana mereka akan pergi. Mereka hanya berkeliling, bersebelahan, hingga akhirnya mengobrol.

3. Melukis bersama

Freepik

Seni menjadi aktivitas yang sering dilakukan anak dari usia berapapun, bahkan dari balita. Permainan asosiatif seperti melukis ini, memungkinkan anak untuk melukis kanvas bersama saudara atau teman, dengan menggunakan kuas dan cat yang sama.

Mereka dapat membuat karya seni terpadu tanpa mengomunikasikan atau mengomentari apa yang sedang dilukis oleh anak lainnya. Permainan asosiatif yang satu ini tidak memiliki aturan umum yang membutuhkan kesopanan atau komunikasi verbal. Melukis dengan atau bersama anak lain sudah cukup.

4. Bermain dengan bergabung bersama anak-anak lain

Freepik/Kalinovskiy

Ketika Mama dan anak pergi ke taman, mungkin si Kecil melihat seorang anak yang bermain dengan mainan berwarna-warni, dan ia memutuskan untuk bergabung dengannya dan melakukan apa yang dia lakukan.

Meskipun mereka mungkin atau tidak mengobrol, tidak membuat rencana formal atau menetapkan aturan apa pun. Setiap bagian dari permainan asosiatif, dibuat agar mereka terus bermain. Formalitas seperti salam, obrolan ringan, selamat tinggal, dan upaya terkoordinasi tidak pernah ada dalam pikiran mereka pada tahap ini.

5. Menari bersama

Freepik/A3pfamily

Pernahkah Mama dan anak menghadiri sebuah acara di mana ada aktivitas menari di dalamnya? Seperti acara ulang tahun teman, acara pernikahan, dan lain-lain. Selama acara, anak mama mungkin memutuskan untuk bergabung dengan anak-anak lain di lantai dansa.

Saat ini, menari bukan menjadi hal yang kompetitif. Meskipun mungkin ada beberapa cekikikan, sedikit obrolan, dan sesekali bernyanyi bersama, menari tidak akan melibatkan sesi berbicara yang berkepanjangan satu sama lain.

6. Berbagi ruang bermain

Freepik

Permainan asosiatif lainnya ditunjukkan ketika si Kecil dapat membiarkan balita lain yang berkunjung bergabung dengannya di ruang bermain yang telah ditentukan.

Mereka dapat berbagi permainan masak-masakan, peralatan bermain, dan mainan lainnya tanpa bentuk organisasi atau upaya apa pun untuk mengoordinasikan waktu bermain.

Meskipun mungkin tampak seperti mereka saling menjauh dari kehadiran satu sama lain, ini tidak terjadi. Sebaliknya, mereka sadar dan menikmati berbagi ruang bermain mereka dengan orang lain. Ini menanamkan konsep berbagi pada si Kecil lho!

7. Bermain kolam pasir

Freepik/Kay4yk

Kolam pasir adalah hal biasa bagi balita ketika mengalami beberapa permainan asosiatif. Membangun istana pasir bisa menarik banyak perhatian anak-anak lain.

Saat membangun kastil dari pasir, anak mama mungkin bergabung dengan balita lain dan bekerja sama dalam menyelesaikan strukturnya. Selama permainan ini, komunikasi seperti, "Bisakah saya meminjam sekop itu?" atau “Bolehkah saya membuat taman di kastil?” umum terjadi.

Selain meningkatkan sosialisasi, kegiatan ini juga bisa meningkatkan kemampuan komunikasi balita. Ketika anak mengajukan pertanyaan seperti, "Bagaimana kita bisa membuat kastil lebih besar?" dan “Bolehkah aku datang lain kali?”.

Hal ini karena balita mempelajari apa yang harus dikatakan untuk menyampaikan pesannya kepada orang lain. Banyak anak mulai menjalin persahabatan yang langgeng selama bermain asosiatif.

Nah itulah beberapa contoh permainan asosiatif yang tepat untuk balita. Jika si Kecil merasa belum nyaman dalam tahap permainan ini, Mama dapat membantu balita dengan menjadi seseorang yang bermain dengannya terlebih dahulu.

Mama kemudian dapat menunjukkan kepada anak keterampilan berbagi dan berinteraksi dengan cara sendiri. Jika khawatir tentang perkembangan balita, bicarakan dengan ahli seperti dokter anak atau terapis. Mereka dapat merekomendasikan spesialis, jika diperlukan.

Baca juga:

The Latest