TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Cara Bijak Menghukum Anak Sesuai dengan Usianya

Jangan sampai salah dan menganggu tumbuh kembangnya ya, Ma

Freepik/master1305

Mengasuh dan mendidik anak memang bukanlah perkara yang mudah. Sebagai orangtua, Mama dan Papa harus lebih berhati-hati dalam menentukan pola asuh seperti apa untuk sang buah hati. Sebab, penentuan pola asuh juga menjadi pondasi penting agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di masa mendatang.

Ketika si Kecil menunjukkan perilaku yang tidak Mama suka, sering kali respon yang Mama berikan adalah mengomeli atau bahkan menghukum anak. Meski maksudnya untuk menghentikan perilaku tersebut, namun nyatanya menghukum anak juga perlu dipertimbangkan, Ma.

Agar tidak salah saat memberikan hukuman, serta tidak membuat tumbuh kembang anak menjadi terganggu, kali ini Popmama.com telah merangkum cara bijak menghukum anak sesuai usianya.

Jangan sampai salah ya, Ma!

1. Usia 0-3 tahun: metode 'timeout'

Freepik/freepik

Saat mereka mulai berteriak, melempar barang-barang, atau perilaku buruk lainnya, hal ini tentu membuat Mama geram dan ingin memarahi mereka. Sebaiknya tahan dulu ya, Ma. Yuk kita mulai dengan metode 'timeout'.

Caranya adalah dengan membawa anak ke tempat yang lebih tenang dan tidak banyak barang untuk ia lempari, lalu alihkan perhatiannya. Mama bisa meninggalkan anak selama 1-2 menit dengan pura-pura pergi ke kamar mandi. Tahap meninggalkan ini disebut tahap refleksi.

Saat sudah 1-2 menit berlalu dan 'timeout' berakhir, Mama bisa kembali untuk memeluk anak dan minta ia untuk tidak mengulangi perilaku seperti tadi. 

Jadi, cara ini dirasa lebih tepat alih-alih memberikan hukuman dengan memukul atau membentak anak yang justru bisa menimbulkan trauma di masa mendatang.

2. Usia 3-7 tahun: hukuman dan penghargaan

Freepik/tirachardz

Jika di usia batita anak masih belum sepenuhnya memahami apa saja hal-hal baik dan buruk, namun di usia balita sampai sekolah, mereka sudah memahami hal baru yang lebih luas dari sebelumnya.

Mama masih bisa menggunakan metode 'timeout' untuk anak usia ini. Namun, tambahannya Mama bisa memberikan penghargaan jika anak berhasil menenangkan diri dan merefleksikan kesalahannya dari hukuman yang Mama berikan.

Perlu diketahui bahwa menghukum anak itu bukan hanya memberikan mereka hukuman atas perilaku buruk mereka saja, Ma. Tetapi juga mengakui perilaku baik yang sudah mereka lakukan.

Hadiah yang bisa Mama berikan padanya saat menghukum bisa berupa pujian. Misalnya, "Tadi kakak hebat lho, mau berbagi mainannya sama teman. Kan main bareng lebih asyik daripada sendiri ya, kak?"

Anak jauh lebih senang dan merasa dihargai jika mendapat pujian dari orangtuanya. Sehingga cara seperti ini akan lebih efektif daripada menghukum anak karena tidak mau berbagi mainan dengan temannya.

Pastikan juga pujian yang diberikan menggunakan kata-kata spesifik atas perilaku baik yang mereka lakukan ya, Ma.

3. Usia 7-12 tahun: hindari hukuman mengancam

Freepik/peoplecreations

Di usia yang semakin beranjak remaja, anak lebih banyak bereksplorasi dan sering kali perilaku yang mereka lakukan sedikit menantang, bahkan sampai membuat Mama pusing melihatnya. Saat seperti ini, tak sedikit orangtua yang berakhir menghukum dan mengancam anak remaja mereka.

Di usia memasuki remaja, sebaiknya hindari hukuman sambil mengancam ya, Ma. Dengan ancaman, dikhawatirkan nantinya akan membuat kepercayaan anak kepada orangtuanya menjadi memudar dan membuat mereka tidak termotivasi untuk mengubah perilakunya karena ia berpikir semua sudah dikendalikan oleh orangtuanya.

Untuk itu, cara menghukum anak yang memasuki usia remaja adalah dengan menerapkan konsistensi hukuman dari perilaku anak. Usahakan untuk membuatnya percaya dengan apa yang Mama dan Papa katakan.

Orangtua memang ingin yang terbaik untuk anaknya, namun tak ada salahnya sesekali mendengarkan apa yang anak inginkan kok, Ma.

4. Usia 13 tahun dan seterusnya

Freepik/Cookie_studio

Usia 13 tahun dan seterusnya pertanda anak sudah memasuki usia remaja yang baru akan beranjak dewasa. Di usia ini mereka sudah memahami konsekuensi dari perilaku yang mereka perbuat.

Untuk menghukum anak usia remaja yang beranjak dewasa, Mama bisa memberikan hukuman berupa mencabut hak istimewa yang anak miliki. Misalnya mengambil handphone miliknya untuk beberapa saat, sampai tugasnya benar-benar diselesaikan dengan baik.

Untuk meminimalisir adanya hukuman, Mama dan anak bisa membuat kesepakatan bersama terlebih dahulu. Misalnya menetukan kapan anak belajar, dan kapan bisa bermain. Buatlah negosiasi yang baik tentang pengaturan kesehatan anak mama.

Sebab perlu diketahui, usia remaja ini mereka masih perlu diterapkan batas ketertiban dalam hidupnya, Ma. Bahkan saat Mama dan Papa memberikan kebebasan dan tanggung jawab yang lebih besar padanya.

Itu dia cara bijak menghukum anak berdasarkan usianya. Perhatikan kembali metode seperti apa yang bisa Mama berikan untuk mendisiplinkan anak. Jangan sampai cara yang Mama lakukan justru membuat anak tidak mau mengubah perilaku tersebut.

Tetap semangat dalam mendisiplinkan anak-anak ya, Ma!

Baca juga:

The Latest