TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Cara Meningkatkan Percaya Diri Anak Setelah Pandemi Berkepanjangan

Kurang bersosialisasi dapat membuat anak mengalami kecemasan dan takut terhadap orang baru

Pexels/Monstera

Terjadinya pandemi berkepanjangan membuat si Kecil menjadi jarang bersosialisasi di lingkungan sekitarnya di luar rumah, khususnya setelah adanya PSBB atau PPKM. Tidak jarang bahwa dampak ini memberi keterkejutan kepada anak maupun orangtua.

Menurut para ahli, balita dan anak yang memasuki usia pra-sekolah kerap mengalami tanda-tanda terjadinya kecemasan saat perpisahan. Ini terjadi karena kurangnya keterampilan dalam bersosialisasi dan beberapa kesulitan lainnya dalam konsentrasi.

Berdasarkan survey, sekitar 77% orangtua merasa khawatir terhadap anaknya karena takut tidak dapat bersosialisasi nantinya, terutama ketika diajak keluar rumah atau bertemu orang baru.

Semasa terjadinya PPKM di masa pandemi ini membuat anak menjadi lebih sering di rumah dan tidak bertemu orang baru sehingga anak tidak dapat bersosialisasi. Hal ini menyebabkan anak menjadi pemalu dan merasa takut dan cemas apabila ditinggalkan oleh orangtuanya.

Untuk mengatasi hal tersebut terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membuat anak menjadi tidak malu dan dapat mulai bersosialisasi dengan orang baru.

Berikut Popmama.com sudah merangkum langkah apa saja agar membuat anak dapat tetap percaya diri setelah pandemi yang berkepanjangan. Simak penjelasannya, yuk!

1. Mulai dari proses kecil

Pexels/Pavel Danilyuk

Terjadinya pandemi juga membuat orangtua menjadi lebih sering bekerja di rumah. Waktu yang digunakan untuk bekerja di rumah pun terkadang tidak menentu.

Hal ini membuat orangtua merasa perlu untuk menyisakan waktunya agar dapat menghabiskan waktu bermain bersama si Kecil. 

Menurut Georgina Hood, pendiri dan direktur Point Pots Nurseries menyebutkan bahwa, “Jika si Kecil belum menjelajahi cara bermain dan belajar berbagi mainannya, maka seseorang di sekitarnya dapat membantunya untuk mulai bersosialisasi dan melatih perkembangannya tanpa harus memaksanya,”

Berdasarkan pandangannya, tidak perlu untuk memaksakan anak agar dapat bersosialisasi secara langsung. Namun, mulailah dengan langkah kecil untuk memperkenalkan anak kepada lingkungan sekitarnya. 

Walaupun hal ini terbilang cukup sulit karena ini merupakan masalah utama yang dihadapi oleh anak setelah masa pandemi, tetapi bukan berarti orangtua harus memaksa anak agar dapat bersosialisasi.

2. Mengakrabkan diri merupakan sebuah kunci

Pexels/Lukas

Mengakrabkan diri kepada si Kecil merupakan hal dasar dan kunci utama agar anak dapat memulai sosialisasi terhadap lingkungannya.

Georgina Hood menyebutkan, saat paling penting dalam membantu anak agar dapat akrab dengan lingkungannya tidak harus melalui keluarga besar. Namun, bisa dimulai dengan lingkungan sekitar seperti bermain bersama teman sebayanya.

Langkah ini termasuk sederhana dan cukup penting mengingat beberapa anak ada yang lebih mudah akrab ketika bersama teman sebayanya dibandingkan dengan orang dewasa.

3. Membangun kepercayaan diri anak

Pexels/Anna Shvets

Mengingat terjadinya pandemi berkepanjangan, akhirnya membuat anak dan orangtua lebih sering mengerjakan pekerjaannya di rumah. 

Dalam hal ini terkadang membuat anak menjadi takut untuk ditinggalkan walaupun hanya ditinggal pergi orangtuanya dalam kurun waktu yang tidak lama. Sehingga membuat anak akan menjadi cemas dan menangis.

Ketika anak mulai cemas dan menangis tentu membuat Mama juga ikut merasa kasihan dan menjadi stres karena bingung harus melakukan tindakan apa ketika terdapat keperluan mendesak yang mengharuskan untuk pergi keluar rumah.

Saat terjadinya hal seperti ini, Mama harus dapat membiasakan diri dengan perpisahan secara perlahan-lahan.

Mama dapat meminta bantuan seseorang yang dipercaya untuk dapat menemani si Kecil ketika Mama harus pergi keluar beberapa saat.

Buatlah anak merasa nyaman dengan mereka dan beri pemahaman bahwa Mama harus pergi sebentar dan kembali lagi ketika sudah selesai.

Anak akan belajar memahami bahwa orangtuanya akan kembali dan dapat belajar untuk terbiasa ketika terpisah dengan orangtuanya.

4. Tidak memperlihatkan emosi atau kekhawatiran ketika harus berpisah dengan anak untuk beberapa waktu

Pexels/Nicholas Githiri

Saat Mama meninggalkan si Kecil dengan keluarga atau di tempat penitipan anak, terkadang membuat anak bersedih dan menjadi rewel karena merasa akan ditinggalkan.

Tidak hanya pada anak, Mama pun terkadang kerap merasa tidak enak apabila harus meninggalkan si Kecil. Hal ini merupakan hal yang wajar karena kecemasan perpisahan dapat terjadi dengan kemungkinan yang berbeda, termasuk pada orangtua.

Meskipun Mama merasa khawatir saat meninggalkan si Kecil, namun Mama tidak harus memperlihatkan raut emosional Mama. Ingatlah bahwa anak dapat menafsirkan raut emosional yang kita keluarkan.

Georgina menyebutkan bahwa, “Anak-anak dapat memperhatikan dan menangkap bentuk komunikasi yang dikeluarkan orang tuanya. Baik itu secara verbal maupun non verbal. Mereka dapat merasakan sama halnya dengan yang kita rasakan, seperti rasa khawatir, stres, atau tidak dapat tenang.”

5. Meluangkan waktu untuk bersantai

Pexels/Ketut Subiyanto

Penting bagi orangtua untuk dapat meluangkan waktu dengan bersantai selama beberapa saat. Walaupun hanya sekedar bersantai ditemani dengan secangkir teh sambil menghadap ke luar. 

Hal ini dapat Mama lakukan tergantung dari situasi yang ada. Mama juga dapat menikmati waktu bersantai sendiri atau dengan mengajak si Kecil untuk bersantai bersama sebelum Mama melanjutkan pekerjaan.

6. Mengikuti langkah si Kecil

Pexels/Anete Lusina

Berbagai hal yang terhubung dengan tumbuh kembang anak, mengikuti langkah anak dan bermain bersama di tempat mereka biasanya merupakan hal yang penting. 

Ketika Mama merasa lebih mudah untuk bergaul atau merasa harus meninggalkan si Kecil dalam kurun waktu yang lama, penting bagi Mama untuk tidak merasa terpaksa ketika bersamanya. 

Buatlah diri senyaman mungkin dan lakukan secara perlahan ketika bermain dengan si Kecil. Ingatlah bahwa Mama lebih mengetahui perkembangan mereka, sehingga Mama dapat melakukan langkah yang tepat ketika bersama anak.

Beberapa cara tersebut merupakan langkah-langkah apa saja yang harus Mama lakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri anak setelah pandemi yang berkepanjangan. 

Perlu diingat bahwa sifat anak dapat berubah tergantung bagaimana dan cara menjalaninya. Sehingga, Mama tidak perlu khawatir apabila saat ini anak memiliki sifat pemalu dan sulit untuk bersosialisasi di lingkungannya.

Mengajarkan anak untuk dapat bersosialisasi secara perlahan-lahan dapat membantu perkembangan anak agar tidak cemas dan takut ketika bertemu dengan orang baru.

Semoga informasi tersebut dapat membantu mama untuk meningkatkan kepercayaan diri anak setelah pandemi berkepanjangan hingga saat ini.

Baca juga:

The Latest