TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

7 Kekerasan Verbal pada Anak yang Sering Tidak Orangtua Sadari

Membandingkan anak termasuk dalam tindakan kekerasan secara verbal

Freepik/rawpixel.com

Kekerasan verbal adalah sebuah tindakan menyentuh atau menjatuhkan seseorang melalui kata-kata tanpa menyentuh fisiknya. Kekerasan verbal bertujuan untuk merendahkan, menghina, mengintimidasi atau menghujat seseorang.

Menggunakan nada suara yang merendahkan maupun penggunaan kata yang berlebihan juga termasuk dalam tindak kekerasan verbal.

Kekerasan verbal dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pada anak-anak. Secara tidak sadar, bukan teman atau orang lain, namun orangtua juga kerap melakukan kekerasan verbal pada anak.

Tidak seperti kekerasan fisik, kekerasan verbal dapat mengganggu mental dan kesehatan anak. Bagi sebagian anak yang mengalami, kekerasan verbal yang terjadi secara berkelanjutan juga bisa memengaruhi tumbuh kembang anak dari berbagai aspek.

Umumnya, kekerasan verbal pada anak membuat korbannya menjadi memiliki rasa bersalah terhadap suatu hal. 

Banyak orangtua yang mengaku tidak pernah melakukan kekerasan verbal, padahal sebenarnya terdapat beberapa orangtua yang melakukan kekerasan verbal secara tidak sadar.

Lalu, apa saja kekerasan verbal yang terjadi pada anak? Berikut Popmama.com sudah merangkum kekerasan verbal pada anak yang sering tidak disadari oleh orangtua.

1. Mengabaikan atau tidak mau mendengarkan anak secara sengaja maupun tidak sengaja

Freepik/wayhomestudio

Orangtua tanpa sadar sering kali menolak mendengarkan pendapat anak, baik itu untuk pilihan yang mereka ambil sendiri maupun pendapat lainnya. Orangtua kerap akan menghakimi dan memberikan pilihan mereka agar diikuti oleh anak.

Hal ini terjadi karena orangtua menganggap pilihan mereka adalah yang paling benar. Padahal, anak belum tentu menyukai hal tersebut. Anak pun biasanya akan terpaksa menerima dan tidak dapat menolak permintaan dari orangtua.

Tindakan ini sebenarnya dapat dihindari dengan menjalin komunikasi yang baik antara anak dan juga orangtua. Orangtua mau mendengar pendapat anak, serta sebaliknya.

Dengan begitu tentu akan menemukan celah dan jalan tengah yang bisa didapatkan antara permasalahan yang sedang dibahas. Sehingga sang anak pun akan merasa dihargai dan tidak diabaikan.

2. Membentak anak dengan keras

Freepik/master1305

Membentak anak merupakan tindakan yang sering dilakukan oleh orangtua tanpa sadar. Membentak termasuk dalam kekerasan verbal yang sering terjadi. 

Namun, terkadang terdapat orangtua yang membentak anak dengan keras hanya karena kesalahan kecil, bahkan tidak jarang orangtua membentak anak di depan umum. 

Selain membuat anak merasa malu, tindakan ini juga menunjukkan superioritas orangtua untuk menarik perhatian anak agar mau mendengarkannya.

3. Menuduh anak melakukan sesuatu hal yang tidak ia lakukan

Freepik/master1305

Tuduhan merupakan tindakan yang tidak disukai oleh orang-orang, apalagi pada anak. Tuduhan dapat termasuk tindakan mencela seseorang, apalagi apabila tindakan tersebut sebenarnya tidak pernah dilakukan seperti yang dituduh.

Tidak jarang, anak sering kali mendapat perlakukan seperti ini dari orangtua. Para orangtua terkadang langsung memberikan spekulasi dan berprasangka buruk terhadap anak tanpa mengonfirmasi terlebih dahulu mengenai tindakan tersebut.

Sebaiknya, sebelum Mama menuduh sang anak akan lebih baik Mama dapat mengonfirmasi terlebih dahulu dan juga mencari buktinya. Tuduhan yang diberikan pada anak kerap akan membuat anak jadi menyalahkan seseorang akibat tindakan yang dilakukan.

4. Membandingkan anak dengan orang lain

Freepik

Selain membentak, membandingkan anak dengan orang lain termasuk dalam kekerasan verbal. Anak sering dibandingkan baik dengan saudara ataupun dengan tetangga.

Walaupun niatnya sebenarnya baik agar anak termotivasi, namun terkadang perkataan yang diberikan orangtua dengan merendahkan salah satunya membuat anak merasa sedih.

Kebiasaan merendahkan anak di depan orang lain juga termasuk dalam kekerasan verbal. Memiliki kebiasaan seperti ini sudah sepatutnya untuk ditinggalkan, karena pada dasarnya setiap anak-anak tentu memiliki keahlian dan kemampuan yang berbeda-beda.

5. Memberi label negatif pada anak

Freepik/master1305

Menyebut anak dengan sebutan ‘anak nakal’ ataupun ‘anak bodoh’ termasuk dalam tindakan melabeli anak dengan sebutan yang negatif. Memberi label pada anak seperti ini tentu dapat berpengaruh pada tingkat kepercayaan diri anak.

Semakin sering orangtua melabeli anak seperti itu, akan membuat sang anak pun merasa bahwa dirinya memang seperti itu dan tidak bisa berusaha. Ia pun akhirnya memiliki pribadi yang penakut dan tidak percaya diri secara berlebihan.

Bahkan ia pun juga bisa tidak mau menerima dirinya dan terkadang sampai menyalahkan diri sendiri.

6. Melakukan body shaming pada anak

Freepik/master1305

Tidak hanya pada teman sebaya, tindakan body shaming juga dapat terjadi dilingkungan keluarga, terutama orangtua. Orangtua terkadang melakukan body shaming pada sang anak dengan melabeli mereka.

‘si pesek’, ‘pendek’, atau ‘gendut’ merupakan salah satu kebiasaan yang sering dilakukan oleh orangtua pada anaknya. Padahal, tindakan tersebut termasuk dalam body shaming.

Tindakan ini pun dapat membuat anak mengalami penurunan percaya diri dan tidak dapat mencintai dirinya sendiri.

7. Memberi ancaman pada anak

Freepik/karlyukav

Apabila sang anak tidak mau menuruti kemauan orangtua, maka Mama biasanya akan memberi ancaman pada anak. Tindakan ini sebenarnya termasuk dalam kekerasan secara verbal.

Dengan mengancam anak, tentu akan membuat anak jadi merasa terintimidasi dan tidak dapat mengambil pilihan lain. Tentunya hal ini sangat tidak baik untuk perkembangan sang anak.

Jika hal ini terjadi, Mama dapat memberikan pemahaman dan penjelasan pada anak secara tegas agar anak dapat mengerti dan tidak harus memberi ancaman padanya.

Nah, itulah berbagai contoh kekerasan verbal pada anak yang sering terjadi tanpa orangtua sadari. Ingatlah, kesalahan pola asuh tentu akan memiliki dampak pada tumbuh kembang anak, termasuk kekerasan verbal.

Baca juga:

The Latest