TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Tips dan Trik Keluarga Sehat Mental Pada Masa Penuh Tantangan

Perlunya menjaga kesehatan mental diri sendiri yang nanti ditularkan pada anggota keluarga lain

Freepik/Senivpetro

Perkembangan teknologi saat ini semakin maju dengan adanya revolusi industri 4.0 yang menekankan pada unsur kecepatan dari ketersediaan informasi, hal ini juga yang membuat para penggunanya dapat selalu terhubung dan mampu berbagi informasi satu dengan yang lain.

Tidak dapat dipungkiri lagi, anak-anak kini menjadi salah satu pengguna yang juga merasakan perubahan pada revolusi industri 4.0. Apalagi dengan adanya kondisi pandemi Covid-19, anak secara mau tidak mau harus beradaptasi dengan teknologi yaitu mengikuti pembelajaran dari rumah.

Perubahan kebiasaan ini kemudian menjadi tantangan bagi anak serta orangtua di rumah. Bagaimana orangtua harus bisa membuat anak tetap sehat secara fisik, dan juga secara mentalnya.

“Itu juga dirasakan oleh anak kita, ia juga merasakan kebosanan yang sama, stres yang sama, dan menjadi lebih berat bagi mereka karena belum bisa mengolah perasaannya sebaik orangtuanya,” ujar Putu Andani, M.Psi., Psikolog.

Kali ini Popmama.com pada kegiatan Popmama Parenting Academy bersama Putu Andani, M.Psi., Psikolog akan memberikan informasi seputar tips dan trik menjaga keluarga tetap sehat mental di masa penuh tantangan 4.0.

Yuk simak informasinya ya!

1. Mengenali apa itu mental serta ciri-ciri seseorang yang memiliki sehat mental

Freepik/pressfoto

Menurut KBBI, mental bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga. Sehingga mental yang sehat bisa diartikan keadaan sehat secara batin dan watak seseorang.

Ciri-ciri seseorang memiliki sehat mental adalah, individu sadar akan kemampuannya. Misalnya seorang Mama sadar mengenai kemampuan pengasuhannya. Misalnya Mama mahir dalam bermain bersama anak, namun masih butuh latihan untuk memandikan anak atau memakaikan baju anak.

“Kesadaran akan kemampuan diri menjadi penting untuk setiap orang, agar kita selalu ingat akan jati diri kita. Dan ketika keadaan sedang kurang baik, kita tidak hanya berfokus pada kekurangan-kekurangan namun juga pada kelebihan diri,” ungkap Putu.

Kemudian, individu bisa menghadapi stres sehari-hari secara efektif. Stres dan masalah tentu saja menjadi hal yang selalu muncul dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tanpa perlu dicari, stres dan masalah akan terus datang dengan sendirinya.

Maka itu, individu yang sehat mental perlu memiliki strategi pribadi yang ia tahu akan efektif untuk menurunkan tingkat stres sehari-hari.

Dan ciri-ciri yang terakhir, seseorang dapat dikatakan sehat mental jika dirinya bisa bekerja produktif dan berguna untuk sekitarnya. Bekerja produktif memiliki definisi yang luas, sehingga tidak hanya dibatasi jadi “bekerja untuk mendapatkan penghasilan” atau “menghasilkan barang”.

Seorang Mama yang bermain dengan anaknya juga merupakan definisi dari bekerja produktif. Karena dari hal ini, Mama akan menciptakan kesehatan mental yang baik untuk anak-anaknya.

2. Kesehatan mental sebuah keluarga dipengaruhi oleh kesehatan mental setiap anggota keluarganya

Freepik/User6529390

Menurut Putu, kesehatan mental sebuah keluarga dipengaruhi oleh kesehatan mental setiap anggota keluarganya, anggota keluarga yang sehat secara mental akan membentuk keluarga yang tangguh dan sehat mental.

Keluarga sehat mental akan mengetahui kapasitasnya sebagai sebuah keluarga dan kuat bersama dalam menghadapi stres sehinggga dapat berfungsi secara optimal sebagai keluarga yang utuh.

Misalnya ketika Mama sedang sakit, maka seharusnya Papa secara sukarela membantu pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan Mama. Anak-anak juga mau terlibat membantu, misalnya dengan menyibukan diri sendiri dan tidak menuntut Mama untuk selalu menemani anak bermain.

Dari contoh tersebut, bisa terlihat keluarga tersebut tangguh menghadapi stres bersama, dan tentunya membantu Mama untuk menjadi pulih lebih cepat.

3. Tantangan yang dialam keluarga pada saat masa pandemi berlangsung

Freepik/Galinkazhi

Pada masa pandemi ini, ketangguhan setiap keluarga pasti sangat diuji. Adanya tantangan yang seringkali muncul dan perlu dihadapi oleh keluarga pada masa pandemi ini, dan terkadang bisa menjadi sumber konflik yang cukup sering terjadi dalam keluarga.

Beberapa tantangan tersebut adalah:

Stres

Stres pada masa pandemi ini seperti terjadi secara terus menerus, seperti menguras tenaga, dan seperti tidak ada habisnya stres terus muncul. Hal ini bisa terjadi karena seluruh anggota keluarga perlu berhadapan dengan rasa bosan dan adaptasi rutinitas yang drastis.

Orangtua dan anak saat ini berkegiatan di rumah, memiliki kepentingan masing-masing. Ketika rutinitas ini terus dijalankan akhirnya mengalami rasa bosan, namun pilihan untuk rekreasi juga menjadi terbatas.

Perilaku anak yang semakin menantang

Mungkin beberapa Mama merasakan bahwa perilaku anak pada masa pandemi, seakan-akan menjadi lebih menantang dibanding sebelum pandemi. Walaupun bagi beberapa Mama yang memiliki anak usia 1-3 tahun, sebelumnya sudah menunjukkan perilaku menantang, seperti tantrum.

“Sebelum pandemi, anak sudah menunjukkan perilaku yang menantang seperti tantrum, selalu bilang tidak dengan apa yang Mama sampaikan, kemudian saat anak sulit meregulasi perasaannya mereka bisa marah, menendang, memukul, dan anak selalu ingin semuanya serba cepat dan instan,” ujar Putu.

Namun bisa karena stres yang juga dirasakan oleh anak, saat pandemi ini berlangsung perilaku menantang tersebut menjadi bertambah atau lebih menantang lagi. Hal ini juga bisa menjadi sumber stres sendiri bagi orangtua selama masa pandemi.

Time management keluarga

Mengatur waktu dalam keluarga selama pandemi ini terkadang juga menjadi permasalahan. Sebelum pandemi, mungkin sudah berfokus pada masalah ini. Seperti Mama mengeluh macet di jalan yang menghabiskan waktu untuk berkumpul dengan anak dan keluarga.

Namun sayangnya, saat masa pandemi keluhan ini juga tidak berkurang bahkan justru bingung bagaimana membagi waktu dengan semua anggota keluarga di rumah pada waktu yang bersamaan.

Misalnya, Mama dan Papa sering berdebat membagi waktu untuk menjaga anak. Sedangkan, kakak dan adik saling berebut untuk jadwal menonton televisi. Atau Mama dan Kakak juga saling berebut memakai laptop untuk bekerja dan sekolah.

4. Perlunya memiliki strategi baru untuk membantu anggota keluarga menjadi lebih sehat mental

Freepik

Dengan tantangan yang baru dan berbeda selama masa pandemi ini, Mama perlu memiliki strategi baru untuk membantu anggota keluarga menjadi lebih sehat mental. Namun, pastikan dimulai dari kesehatan mental orangtua terlebih dahulu. Kenapa?

Karena sebagai orangtua, Mama dan Papa adalah orang yang lebih dewasa dibandingkan anak-anak. Sehingga dapat lebih mudah beradaptasi dan juga menjadi cerminan untuk anak-anak.

Jika Mama sudah bisa mengelola stres dengan baik, maka anak tentunya bisa melihat hal tersebut dan merasakan suasana di rumah menjadi lebih baik dan berbeda.

5. Langkah-langkah untuk mengelola tantangan stres dalam keluarga

Freepik/fwstudio

Strategi yang dapat Mama lakukan untuk mengelola stres selama masa pandemi, bernama Stress Reduce 101. Diharapkan strategi ini lebih efektif dan efisien dari cara sebelumnya untuk mengelola stres. Berikut adalah langkah-langkahnya:

Langkah pertama: Kenali hal yang paling sering memicu emosi

Uniknya, setiap orang memiliki pola stres yang berulang atau sama pada tema-tema tertentu. Cuma terkadang Mama kurang peka untuk mengenalinya.

Misalnya, ada seseorang yang lebih stres dn sangat panik ketika anaknya sudah menangis sangat kencang. Sementara, orang lain bisa saja saat anaknya nangis dengan kencang, namun bisa marah jika mendengar suaminya harus lembur.

Sehingga bisa terlihat hal ini sangat berbeda bagi setiap individu. Oleh karena itu, Mama bisa memperhatikan kapan saja Mama merasa jantung berdetak lebih cepat seperti hilang kendali atas tubuh, yang menimbulkan stres dan rasa mau marah.

Langkah kedua: Kenali cara paling cepat untuk meredakan emosi

Apabila sudah ditemukan pola yang memicu stres, coba Mama eksplorasi atau cari tahu apa hal yang paling efisien dan efektif untuk menurunkan tingkat stres pada saat itu.

Terdapat beberapa cara yang bisa coba Mama eksplor, apakah dengan mengatur napas, berbicara dengan diri sendiri, hitung mundur, minum air putih, atau cara lainnya yang lebih spesifik.

Misalnya dengan mengatur napas, saat Mama marah detak jantung akan menjadi lebih cepat namun kalau berhenti sejenak untuk 2-3 kali tarik napas panjang dan dihembuskan. Maka detak jantung akan menjadi lebih perlahan.

Detak jantung yang perlahan akan membuat tubuh mengirim sinyal ke otak bahwa tubuh sudah tenang dan tidak jadi marah.

Atau misalnya Mama juga bisa melakukan self-talk atau berbicara dengan diri sendiri untuk membantu Mama menyusun ulang hal-hal yang perlu dilakukan. Seperti, mengatakan dalam hati “oke tenang, pertama kita bisa menggendong adik, lalu ambil handphone, lalu akan diskusi dengan suami.”

Ucapkan kata-kata tersebut dalam hati untuk membantu mengatur pikiran yang sedang berantakan.

Langkah ketiga: Self compassion

Setelah melakukan kedua langkah di atas, namun Mama tetap merasa ada hal yang gagal dipenuhi yang membuat Mama menjadi down. Untuk mengatasinya, Mama dapat melakukan self compassion atau mengasihi diri sendiri.

Hal ini tidak terbatas hanya pada melakukan me time atau memberikan waktu untuk diri sendiri. Namun, self compassion ini jauh lebih dalam karena bisa berupa memaafkan diri sendiri, atau memberikan pada diri sendiri waktu beristirahat.

Misalnya Mama mengalami penyesalan karena anak terjatuh pada saat Mama harus menjawab telefon dari kantor, sehingga semua terjadi begitu cepat dan diluar kendali. Rasa penyesalan yang meninggalkan jejak pada diri menjadi sulit hilang.

Namun hal ini bisa terjadi karena Mama belum menyempatkan waktu untuk berkomunikasi pada diri sendiri, untuk sekadar mengakui apa yang dirasakan saat itu. Setelah ini, Mama bisa memaafkan diri kita.

“Tiga langkah di atas bisa dipraktikan setiap harinya untuk lebih cepat dan lebih efisien dalam menghadapi dan mengolah emosi sehari-hari, karena bagaimanapun stres di masa pandemi ini tidak pernah selesai kapan datangnya,” ujar Putu.

6. Menelusuri kembali permasalahan apa yang membuat Mama lebih cepat reaktif

Freepik

Namun apabila masih ada waktu luang atau waktu kosong, sangat baik bagi Mama untuk menelusuri kembali permasalahan apa yang membuat Mama cepat reaktif atau merespon melebihi batas sewajarnya.

Kemudian, Mama bisa mengetahui penyebab-penyebab yang dapat menjadi kelemahan diri sendiri dan kehilangan kendali. Nantinya akan ada jawaban permasalahan yang muncul dari diri sendiri Mama.

Selanjutnya Mama bisa bekerja dengan permasalahan tersebut. Ketika sudah tahu bisa memahami bahwa Mama memiliki banyak kelebihan-kelebihan yang lain, walaupun memiliki kekurangan.

7. Selama masa pandemi, semua orang termasuk anak-anak berada di titik terendah

Freepik/Odua

Di atas sudah dibahas mengenai selama masa pandemi Covid-19 ini, yang di mana sebelumnya anak yang mungkin sering menantang Mama, kini menjadi lebih menantang lagi. Namun yang perlu dipahami adalah pada pandemi ini, semua orang termasuk anak berada di titik terendah.

“Itu juga dirasakan oleh anak kita, ia juga merasakan kebosanan yang sama, stres yang sama, dan menjadi lebih berat bagi mereka karena belum bisa mengolah perasaannya sebaik orangtuanya atau bahkan mengenali perasaannya,” ungkap Putu.

Di momen ini anak juga butuh adaptasi, semua adaptasi selalu menghasilkan stres. Bisa stres yang baik atau yang memacu anak untuk meraih sesuatu, atau stres yang berdampak buruk.  

Adaptasi juga berat karena anak berada di usia belajar seharusnya bisa belajar dengan benda atau dengan interaksi yang nyata dari orang dewasa langsung, namun saat ini mereka harus belajar lewat layar gadget.

8. Shifting Focus untuk mengubah pemikiran agar anak juga tidak semakin menantang

Freepik/prostooleh

Saat mengetahui tingkat stres anak juga tinggi, penting untuk mengubah pemikiran agar tingkat stres anak menjadi tidak bertambah supaya perilaku anak juga tidak semakin menantang. Mama bisa mengakalinya dengan Shifting Focus.

Fokus orangtua sebelum pandemi, misalnya anak bisa lebih mandiri, lebih sopan, lebih teratur, bisa bermain dalam kelompok, dan sebagainya. Namun selama pandemi, usahakan untuk tidak hanya terpaku pada fokus tersebut.

Namun saat pandemi ini berfokus lebih kepada apa yang secara internal Mama rasakan. Karena, Mama juga mengalami stres saat pandemi berlangsung. Sehingga fokusnya, adalah meregulasi diri sendiri terlebih dahulu. Kemudian berusaha menurunkan tingkat stres diri sendiri sehingga bisa menular ke anak dan pasangan.

Walaupun Mama berfokus melakukan berbagai cara untuk mengajarkan anak tentang banyak hal, namun jika dari diri sendiri Mama tidak senang atau tidak merasa rileks, maka hal yang difokuskan pada tidak akan tercapai, akibat penyampaian dan interaksinya yang tidak positif.

Sehingga penting untuk mengingat, konsep happy parent – happy kids. Secara mau tidak mau Mama terlebih dahulu fokus dengan bagaimana cara mengelola stres diri sendiri, bisa bahagia, dan lebih optimal. Lalu menularkan kebahagiaan itu untuk keluarga.

9. Mengubah pemikiran secara perlahan untuk bisa lebih mengatur time atau life management

Freepik/cookie_studio

Untuk tantangan di masa pandemi yang ketiga atau time/life management. Saat sebelum pandemi, mengatur waktu bisa dapat dijelaskan dengan baik, namun setelah pandemi akan menjadi lebih sulit diatur.

Banyaknya kebutuhan bisa membuat Mama menjadi lebih lelah. Namun sebenarnya yang membuat lelah secara emosional adalah prioritas, emosi, energi, kebutuhan diri, dan tuntutan sekitar. Mama bisa coba untuk mengubah pemikiran perlahan, dengan menjawab pertanyaan berikut ini:

  • Seberapa banyak energi yang kita keluarkan untuk sesuatu?
  • Seberapa dalam emosi yang kita rasakan untuk hal itu?
  • Seberapa penting hal ini menjadi prioritas diri?

Kalau ternyata sebuah hal dapat membuat lelah secara emosional, mungkin Mama perlu menurunkan ekspektasi-ekspektasi dan mengubah fokus ke cara yang lain. Time/life Management ini perlu disesuaikan pada setiap kebutuhan dan masalah masing-masing keluarga.

“Bagaimanapun stress reduce, self management, dan life management ini memiliki tujuan untuk kesehatan mental yang lebih baik. Di mana jika Mama memiliki kesehatan mental yang lebih baik, maka pastinya menular pada pasangan dan anak-anak,” ujar Putu.

Nah itu dia Ma, strategi untuk menjaga kesehatan mental menurut Putu Andani, M.Psi., Psikolog yang di mana harus menjaga kesehatan mental diri sendiri terlebih dahulu agar dapat ditularkan pada suami dan anak-anak selama masa pandemi ini.

Jika Mama ingin mengetahui informasi lainnya mengenai Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020, Yuk segera cek di Instagram @popmama.parenting.academy atau dari Popac.popmama.com ya!

Semoga informasinya bermanfaat Ma!

The Latest