6 Cara Efektif Menjaga Bayi Tetap Sehat Secara Emosional!

Cegah risiko gangguan kesehatan mental jangka panjang pada buah hati sedini mungkin

28 September 2021

6 Cara Efektif Menjaga Bayi Tetap Sehat Secara Emosional
Pexels/Sarah Chai

Siapa bilang stres hanya dapat dirasakan oleh orang dewasa? Jangan salah, bayi juga bisa merasakannya lho! Bahkan jika kondisi stres bayi terjadi terus menerus, ia berisiko mengalami gangguan kesehatan jangka panjang.

Berdasarkan penelitian, bayi yang terpapar hormon stres kortisol tingkat tinggi di awal-awal usianya cenderung lebih rentan memiliki permasalahan prilaku dan penyakit terkait stres di masa yang akan datang. Stres berlebih pada bayi juga dapat menghambat perkembangan otak dan memperpendek usia.

Untungnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua untuk menjaga tingkat stres bayi tetap rendah dan kondisi emosionalnya tetap sehat sedini mungkin. Simak rangkumannya dalam artikel Popmama.com yang satu ini, yuk!

1. Berpikir seperti bayi

1. Berpikir seperti bayi
Freepik/cookie_studio

Semakin baik pemahaman Mama akan perasaan dan pemikiran bayi, semakin besar peluang Mama untuk meminimalisir stresnya. Berbagai studi menunjukkan bahwa orangtua yang dapat memahami anaknya sejak bayi memiliki hubungan kedekatan yang jauh lebih kuat ke depannya dan anak cenderung tumbuh dengan kemampuan sosial yang sangat baik.

Salah satu contohnya adalah ketika bayi rewel dan mengamuk setiap hendak mandi. Mama mungkin melihatnya sesederhana ‘bayi benci kegiatan mandi’ atau ‘bayi tidak suka air’ dari kaca mata orangtua. Padahal bisa jadi dalam prosedur memandikan bayi, ada hal yang mengganggu atau membuatnya tidak nyaman seperti bayi dibiarkan lama kedinginan atau perubahan temperatur ekstrim membuatnya terkejut.

Berusaha untuk memahami si Kecil dengan berpikir sepertinya akan menyelamatkan Mama dari banyak kesulitan, membuat Mama lebih empati, dan memberi pemahaman lebih tepat akan apa yang tidak disukai bayi dan bagaimana cara mengatasinya.

2. Hati-hati dalam bersikap

2. Hati-hati dalam bersikap
Freepik/cookie_studio

Tahukah Mama, bayi dapat merasakan stres saat pengasuhnya tidak responsif secara emosional dan ikut stres ketika orang di sekitarnya sedang merasakan stres? Sensitivitas ini sudah dimilikinya sejak lahir sebelum ia mampu membedakan gestur senang dan marah pada usia 6 bulan. Ya, ternyata bayi sudah peka dengan tanda-tanda emosional orang di sekitarnya sejak sangat dini

Jika Mama atau pengasuh bayi dengan sembarangan menunjukkan tanda-tanda emosional negatif, bayi akan ikut merasakannya. Jadi, penting untuk mampu mengelola emosi, stres, serta pembawaan diri dengan baik di sekitar bayi.

Editors' Picks

3. Berikan sentuhan penuh kasih sayang

3. Berikan sentuhan penuh kasih sayang
freepik.com/freepik

Sentuhan penuh kasih sayang akan memicu bayi untuk melepaskan hormon bahagia seperti oksitosin dan pereda rasa sakit alami, opioid endogen. Hormon-hormon ini memiliki efek menenangkan dan dapat menahan produksi hormon stres kortisol sehingga dalam jangka panjang bayi memiliki pola ketahanan terhadap stres yang lebih kuat.

Tapi Mama tetap harus berhati-hati karena tidak semua sentuhan dirasa nyaman oleh buah hati. Bayi yang menerima sentuhan tidak diinginkan justru akan memproduksi kortisol lebih tinggi, lho. Perhatikan betul reaksi bayi untuk setiap sentuhan yang diterimanya. Jika bayi tidak bereaksi senang dan tenang atau bahkan terlihat risih, jangan sentuh bayi dengan cara atau pada titik yang sama lagi.

4. Bawa bayi berjalan santai

4. Bawa bayi berjalan santai
Pexels/PolinaTankilevitch

Meski sudah dilakukan sejak zaman dulu, ilmu sains membenarkan bahwa bayi merasa senang ketika dibawa berjalan keliling dengan santai dan menganggapnya lebih menenangkan dibanding hanya digendong saja dalam posisi diam. Menarik, bukan?

Ya, saat si Kecil rewel Mama bisa coba menggendongnya sambil membawanya berjalan santai keliling rumah agar ia lebih mudah tenang. Berbagai penelitian menyatakan bahwa bayi yang digendong dan dibawa berjalan santai akan mengalami penurunan detak jantung dalam konteks sehat dan lebih mudah berhenti bergerak atau menangis.

5. Ajak bayi bicara tatap muka

5. Ajak bayi bicara tatap muka
Freepik

Berbicara tatap muka dengan bayi memiliki banyak manfaat, seperti memicu pelepasan hormon bahagia bayi seperti oksitosin, melatih bayi untuk mengatasi emosi negatif, hingga membantu bayi mengembangkan hubungan kedekatan yang sehat dan kuat.

Tidak hanya sembarang bicara, Mama perlu memperlakukan bayi seperti rekan diskusi, memvalidasi perasaannya, merespon apapun yang ia ucapkan meski belum terlalu jelas, dan memberikannya dukungan saat ia terlihat frustrasi.

Tapi sama halnya dengan sentuhan fisik, beberapa bayi bisa menjadi tidak nyaman jika dalam komunikasi verbal ini wajah mama terlalu dekat atau ia sudah lelah mendengar mama bicara terlalu lama. Pastikan untuk memperhatikan reaksi bayi dalam berkomunikasi dan peka untuk bertindak setelah ia menunjukkan ketidaknyamanan.

6. Hadir secara emosional saat bayi tidur

6. Hadir secara emosional saat bayi tidur
pexels/william-fortunato

Bayi disarankan untuk tetap tidur bersama Mama selama paling tidak enam bulan pertama usianya, meski tidak di ranjang yang sama. Hal ini penting untuk meminimalisir risiko terjadinya sudden infant death syndrome (SIDS) dan melatih ketenangan bayi.

Banyak orangtua yang belum menyadari betapa pentingnya berinteraksi penuh kesadaran dan perhatian dengan buah hati selama waktu tidurnya. Kehadiran penuh orangtua secara emosional selama waktu tidur bayi dapat membantunya mengembangkan pola perubahan hormonal yang lebih sehat sepanjang harinya dan membantunya tidur lebih lama.

Mama dapat melatih kebiasaan ini dengan melakukan rutinitas yang tenang dan sunyi untuk membantu bayi tertidur di malam hari, tidak melakukan interaksi sosial dengan bayi ketika ia sedang tertidur, tidak melakukan hal-hal yang dapat membuat bayi terganggu atau tidak nyaman, dan dengan sigap merespon ketika bayi terbangun dan menangis frustrasi di sela-sela waktu tidurnya.

Kondisi kesehatan dan kesejahteraan mental bayi yang baik akan berdampak positif juga pada tumbuh kembangnya di kemudian hari. Meski mungkin terlihat mudah, Mama perlu memiliki pengelolaan diri dan emosi serta kepekaan yang baik, lho. Silakan konsultasi pada dokter kepercayaan apabila Mama mengalami kesulitan. Semoga informasi ini bermanfaat dan selamat mencoba!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.