9 Faktor Penyebab Sakit Kepala pada Bayi, Jangan Diabaikan!

Jangan lengah, waspadai 9 pemicu sakit kepala bayi ini ya, Ma!

2 Agustus 2021

9 Faktor Penyebab Sakit Kepala Bayi, Jangan Diabaikan
Freepik/etajoefoto

Seperti orang dewasa dan anak-anak biasa, bayi juga bisa merasa pusing atau sakit kepala lho, Ma. Beberapa tipe sakit kepala yang umum dialami bayi adalah sakit kepala tegang, cluster, dan migrain.

Bayi yang mengalami sakit kepala akan menunjukan tanda seperti sering rewel sambil memegang kepala, menarik-narik telinga di sisi kepala yang sakit, tidak nafsu makan, bereaksi kolik atau menjadi sangat pendiam, berkedip lebih sering dari biasanya, hingga mual dan muntah tanpa sebab.

Lalu sebenarnya apa yang menyebabkan bayi sakit kepala? Cari tahu sembilan faktor penyebab sakit kepala pada bayi dalam artikel Popmama.com berikut ini!

1. Kurang tidur

1. Kurang tidur
Unsplash

Apabila bayi kurang beristirahat, otot dan sarafnya menjadi cepat lelah dan dapat memicu sakit kepala tegang. Pastikan bayi tidur cukup sesuai usianya berikut ini ya, Ma:

  • Usia 0 bulan: total 16-17 jam
  • Usia 1-3 bulan: total 14-16 jam
  • Usia 4-12 bulan: total 14 jam

2. Faktor genetik

2. Faktor genetik
Unsplash/Raul Angel

Mama atau Papa dengan riwayat migrain memiliki peluang 50 persen untuk menurunkannya pada bayi dan 90 persen apabila keduanya memiliki riwayat migrain. Selain migrain, sakit kepala cluster juga dapat diturunkan melalui genetik.

3. Kurangnya asupan nutrisi dari makanan

3. Kurang asupan nutrisi dari makanan
Freepik/cookie_studio

Asupan makanan yang buruk dapat menyebabkan tekanan darah rendah pada bayi sehingga meningkatkan risiko sakit kepala. Bayi yang kurang minum, terutama pada cuaca panas juga rentan merasakan sakit kepala.

Editors' Picks

4. Penyakit umum

4. Penyakit umum
Freepik/freepic.diller

Beberapa penyakit umum seperti flu, demam, infeksi sinus atau telinga dapat memicu sakit kepala pada bayi. Ini merupakan pemicu utama yang paling sering menjadi penyebab bayi mengalami berbagai macam sakit badan dan kepala.

Penting untuk jaga antibodi bayi dengan melakukan imunisasi dan memberi makanan bergizi seimbang.

5. Tumbuh gigi

5. Tumbuh gigi
Freepik/User6014584

Tidak semua, namun banyak bayi yang merasakan sakit kepala dalam proses pertumbuhan gigi. Ketika gigi tumbuh, rasa sakit yang dirasakan saraf dapat menjalar hingga kepala dan memicu sakit kepala.

6. Stres dan cemas

6. Stres cemas
Freepik/pch.vector

Proses adaptasi bayi terhadap lingkungan di luar rahim, mengenal anggota keluarga, pindah ke rumah baru, dan berbagai penyesuaian yang harus dilakukannya seringkali membuat bayi cemas dan stres. Hal ini dapat memicu sakit kepala tegang pada bayi.

7. Cedera kepala

7. Cedera kepala
Freepik/user7123622

Salah satu penyebab sakit kepala pada bayi paling populer lainnya adalah cedera pada kepala. Berbeda dengan luka terbuka dari cedera kepala yang mudah dideteksi, efek lanjutannya dapat bersifat lebih internal.

Kondisi seperti gegar otak atau pendarahan dalam kepala tentu dapat membuat kepala bayi terasa sangat sakit meski tidak terlihat apapun dari luar.

8. Konsumsi obat-obatan

8. Konsumsi obat-obatan
Pexels/Karolina Grabowska

Sebagian bayi memiliki kondisi tubuh yang rentan bereaksi negatif terhadap obat-obatan tertentu. Salah satu reaksi negatif yang kerap terjadi akibat kandungan obat tertentu adalah sakit kepala. Perhatikan reaksi bayi setiap 2-3 jam setelah Mama berikan obat tertentu.

9. Infeksi dan kelainan neurologis

9. Infeksi kelainan neurologis
Pexels/Rene Asmussen

Beberapa infeksi dan kelainan saraf seperti meningitis, epilepsi, dan aneurisma otak dapat memicu rasa sakit kepala hebat pada bayi. Waspadai bayi yang sering menunjukkan gejala sakit kepala terus menerus dan segera periksakan ke dokter.

Itu dia sembilan faktor penyebab sakit kepala pada bayi. Jika Mama masih kesulitan memastikan penyebab sakit kepala yang sering menyerang buah hati, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter kepercayaan ya, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.