Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Penyebab split night sleep dijelaskan oleh organisasi Sleep Foundation. Kondisi ini terjadi karena dua sistem biologis utama yang mengatur tidur bayi belum bekerja secara selaras, yaitu ritme sirkadian dan tekanan tidur.
Ritme sirkadian merupakan jam biologis internal yang mengatur kapan tubuh merasa mengantuk dan kapan harus terjaga. Ritme ini sangat dipengaruhi oleh kondisi terang dan gelap. Saat lingkungan mulai gelap, tubuh secara alami melepaskan hormon melatonin yang membantu memicu rasa kantuk.
Sebaliknya, ketika lingkungan terang, produksi melatonin menurun sehingga tubuh menjadi lebih waspada. Pada bayi, ritme sirkadian belum terbentuk secara sempurna, terutama di usia awal kehidupan.
Akibatnya, bayi belum sepenuhnya mampu membedakan waktu siang dan malam. Inilah yang membuat sebagian bayi bisa merasa segar dan terjaga di malam hari, meskipun seharusnya sudah memasuki waktu tidur.
Tekanan tidur atau dikenal juga sebagai dorongan tidur homeostatis. Ini adalah kebutuhan tidur yang meningkat seiring lamanya seseorang terjaga. Semakin lama bayi terjaga di siang hari, semakin besar tekanan tidurnya, sehingga tubuh terdorong untuk tidur lebih lama dan lebih nyenyak di malam hari.
Namun, jika tekanan tidur terlalu rendah, misalnya karena bayi tidur siang terlalu lama atau terlalu sering, dorongan untuk tidur di malam hari bisa berkurang. Saat tekanan tidur menurun sementara ritme sirkadian belum cukup kuat, bayi bisa terbangun di tengah malam dengan perasaan segar dan sulit untuk kembali tidur, hal inilah yang disebut dengan gangguan tidur atau Split night sleep pada bayi.