Perkembangan Indera Perasa pada Bayi. Mama Harus Pelajari!

Perlu diketahui untuk membentuk preferensi selera makan bayi dan persiapan MPASI nih!

24 September 2021

Perkembangan Indera Perasa Bayi. Mama Harus Pelajari
Freepik/freepik

Penting bagi orangtua memahami proses dan tahapan perkembangan bayi. Hal ini agar orangtua dapat memberikan yang terbaik demi mendukung pertumbuhan dan perkembangan buah hatinya.

Salah satu yang penting untuk orangtua pahami adalah proses perkembangan indera perasa pada bayi. Jika Mama mengetahui perkembangan indera perasa bayi, nantinya akan lebih mudah untuk Mama membuat si Kecil doyan makan. 

Untuk menambah pengetahuan Mama, yuk kenali proses perkembangan indera perasa bayi. Kali ini Popmama.com telah merangkumnya untuk Mama. Langsung saja dibaca yuk, Ma!

1. Perkembangan indera perasa dimulai sejak dalam kandungan

1. Perkembangan indera perasa dimulai sejak dalam kandungan
Pixabay.com/Skitterphoto

Tahukah Mama, indera perasa bayi sudah mulai berkembang sejak masih di dalam rahim lho. Mulut dan lidah janin sudah terbentuk dengan indera perasa kecil pada usia kehamilan 9 minggu.

Di usia kehamilan 12 minggu, indera perasa janin sudah mulai belajar mengenal rasa melalui cairan ketuban. Makanan dan minuman yang Mama konsumsi akan melewati aliran darah dan masuk ke dalam cairan ketuban. Kemudian janin akan dapat merasakan cairan ketuban dan memiliki pengalaman pertama untuk mengenali rasa.

Editors' Picks

2. Indera perasa bayi baru lahir sangat sensitif

2. Indera perasa bayi baru lahir sangat sensitif
Freepik/freepic_diller

Setelah lahir, bayi memiliki indera perasa yang sangat sensitif. Bayi baru lahir dapat merasakan manis dan asam. Namun, bayi cenderung lebih menyukai rasa manis. Itulah alasan mengapa bayi menyukai rasa ASI ibunya. 

Indera perasa masih berhubungan dengan indera penciuman bayi. Bayi baru lahir memiliki perkembangan indera penciuman yang baik. Bayi dapat mencium arah mana dia diberi makan dan dapat membedakan antara ASI ibunya dan ASI orang lain.

Seiring berjalannya waktu hingga usia 3 bulan, bayi akan belajar membedakan rasa manis dan pahit. Biasanya bayi akan menolak rasa pahit untuk menjaga dirinya tetap aman jika tidak sengaja menelan apapun yang terasa pahit.

3. Indera perasa bayi usia 3 hingga 6 bulan

3. Indera perasa bayi usia 3 hingga 6 bulan
Freepik/cookie-studio

Saat menginjak usia 3 bulan, lidah bayi akan semakin berfungsi dengan baik. Selain mengenal rasa, bayi akan mulai belajar memahami tekstur. Itulah alasan mengapa bayi sering kali memasukan benda ke dalam mulutnya seperti mainan atau benda-benda lainnya. 

Saat menginjak usia sekitar 5 bulan, indera perasa bayi sudah dapat mulai mengenali rasa asin. Namun, sebaiknya hindari memberikan makanan asin yang mengandung garam pada bayi. Pada dasarnya, ASI sudah mengandung sodium yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi.

4. Perkembangan indera perasa bayi usia 6 hingga 12 bulan

4. Perkembangan indera perasa bayi usia 6 hingga 12 bulan
Pixabay.com/5686750

Usia bayi 6 hingga 12 bulan merupakan waktu yang tepat bagi bayi untuk mengeksplorasi rasa dan tekstur makanan. Bayi akan mulai menemukan rasa makanan yang disukainya. Tak hanya itu, bayi juga mungkin akan menolak makanan tertentu yang tidak disukainya. 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi selera bayi, salah satunya adalah faktor genetik. Bayi mungkin akan cenderung menyukai makanan yang sebelumnya ia rasakan saat masih di dalam kandungan. Itulah pentingnya mengonsumsi aneka makanan bernutrisi di masa kehamilan.

Selain itu, bayi juga dapat menyukai makanan yang biasa ia makan. Ada beberapa hal yang dapat Mama lakukan untuk membentuk selera anak, salah satunya adalah dengan memberikan berbagai variasi MPASi.

5. Membentuk preferensi selera makan anak

5. Membentuk preferensi selera makan anak
Pexels.com/AMSW Photography

Dilansir dari Baby Spark, rasa yang dicicipi bayi sejak dalam kandungan dapat membentuk pilihan dan selera makanannya di kemudian hari. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi ibu hamil untuk mengonsumsi makanan yang bernutrisi agar dapat mengirimkan rasa makanan sehat kepada janin.

Selain itu, ketika bayi sudah cukup usia untuk mendapatkan MPASI, cobalah untuk memberikan variasi makanan. Jika bayi menolak beberapa makanan, jangan menyerah, Ma. Coba lagi sedikit demi sedikit hingga bayi dapat terbiasa dan menerimanya. 

Jika bayi menunjukan reaksi seperti muntah setelah mengonsumsi makanan, mungkin ia mengalami trauma pada rasa tertentu. Dalam kasus ini sebaiknya konsultasikan ke dokter ya, Ma. Karena bisa jadi anak akan menjadi picky eater yang dapat terbawa hingga usia dewasa nanti. 
 

Nah itulah tahapan proses perkembangan indera perasa pada bayi. Berikan suasana gembira saat memberi makan bayi untuk memberikan pengalaman makan yang menyenangkan. Tetap semangat dalam memberikan yang terbaik untuk si Kecil ya, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.