Begini Pro Kontra Shandy Aulia Beri MPASI ke Anak sebelum 6 Bulan

Mulai dari dicibir warganet hingga dibilang anaknya kurang gizi

15 Juli 2020

Begini Pro Kontra Shandy Aulia Beri MPASI ke Anak sebelum 6 Bulan
Instagram.com/shandyaulia

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Makanan Pendamping ASI (MPASI) disarankan untuk diberikan saat bayi sudah berusia enam bulan. Dalam unggahan vlog Shandy Aulia pada 11 Juli 2020 lalu, Mama satu anak ini sudah memberikan MPASI di saat usia bayinya belum genap enam bulan.

Putri Shandy Aulia, Claire Herbowo yang berusia lima bulan itu diberi pure avocado yang dicampur dengan ASI dan sedikit madu. Karena hal ini, kolom komentar Youtube Shandy ramai dengan pendapat warganet.

Berkat videonya ini juga, Shandy Aulia mendapat banyak cibiran. Agar tidak salah paham, ia pun menjelaskan mengapa ia memberikan MPASI kepada anaknya sebelum enam bulan. Selain itu, apakah aman memberikan MPASI kepada bayi sebelum berusia enam bulan?

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!

1. Sempat bingung sebelum memutuskan memberi MPASI dini

1. Sempat bingung sebelum memutuskan memberi MPASI dini
Instagram.com/shandyaulia

Baru-baru ini, Shandy Aulia memutuskan untuk memberikan MPASI dini untuk putri semata wayangnya. Istri dari David Herbowo ini menjelaskan memang dirinya sempat bingung, mengingat putrinya belum genap berusia enam bulan.

Ia pun memutuskan untuk berkonsultasi kepada dokter anak Dr. Eric Gultom Sp A.(K) dan dokter gizi Dr. dr. Samuel Oetoro, MS SpGK untuk pemberian MPASI ini. Sempat dilanda galau, pada akhirnya selain sudah percaya terhadap saran dokter, Shandy pun juga percaya pada instingnya sebagai seorang Mama. Sebelum memberikan MPASI, bintang Eifel I'am in Love ini tidak hanya berkonsultasi kepada satu orang saja.

"MPASI lebih dini adalah sebuah pilihan mutlak dari seorang ibu bila memang kondisi bayi siap untuk MPASI, tentunya dengan berkonsultasi dulu pada dokter ahlinya dan juga dengan pantauan dokter," tulisnya pada Minggu, (12/7/2020).

2. Memilih MPASI dini karena sudah berkonsultasi dengan dokter

2. Memilih MPASI dini karena sudah berkonsultasi dokter
Instagram.com/shandyaulia

Saat bayinya menginjak usia lima bulan, Shandy melihat pertumbuhan Claire sangat positif. Ada beberapa faktor yang membuatnya yakin bisa memberikan makanan pendamping untuk Claire. Dalam kolom komentar Shandy, dokter Samuel menjelaskan salah satu faktornya adalah kesiapan anak yang dilihat dari saluran cernanya.

"Kalau kita mau memberi makan anak, kita harus tahu kondisi anak kita dan kondisi saluran cernanya, kalau semuanya ok di usia empat bulan sudah bisa dicoba pemberian makan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak kita, sudah tentu yang halus mudah dicerna, bersih, dan jumlah yang diberikan bertahap mulai dari sedikit. Claire usianya sudah empat bulan lebih menjelang lima bulan," jelas dokter Samuel pada Senin (13/7/2020).

Mengutip dari Parents, American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut Mama bisa mulai memberi anak makanan pendamping dengan rentang usia 4-6 bulan, tapi hal ini sangat tergantung pada kondisi bayi mama, ya. Berikut adalah beberapa tanda bahwa si Kecil siap diberi makanan pendamping:

  • Bisa duduk tegak (didudukkan tegak) dan mengangkat kepalanya.
  • Penasaran melihat sesuatu makanan atau yang orang lain makan.
  • Refleks lidah dorong pada bayi sudah mulai hilang. Refleks ini adalah kondisi di mana bayi secara otomatis mendorong makanan ke luar dari mulutnya.
  • Masih lapar meski mendapatkan ASI/ susu formula dalam jumlah yang cukup untuk waktu satu hari (10 kali menyusui atau 32 ons susu formula).

Namun, yang perlu diingat adalah Mama jangan merasa buru-buru untuk memberikan makanan pendamping ini. Pendapat AAP mengungkapkan bahwa kebanyakan bayi baru siap untuk mendapatkan makanan pendamping antara 5-6 bulan umurnya. Paling penting adalah berkonsultasi ke dokter. Sebab, dokter yang sebaiknya menentukan dan mendiagnosis apakah bayi sudah siap mendapatkan MPASI.

Jangan pernah memberikan makanan padat pada bayi saat bayi belum siap dan cukup umur. Pemberian MPASI di waktu yang terlalu dini dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan pada bayi, seperti gangguan pencernaan, risiko tersedak, dan risiko menyapih dini akibat produksi ASI yang berkurang.

Editors' Picks

3. Shandy memberikan pure alpukat untuk MPASI Claire

3. Shandy memberikan pure alpukat MPASI Claire
Instagram.com/missclaireherbowo

Selain sudah berkonsultasi dan mendapat arahan dokter, menu yang dipilih Shandy Aulia untuk MPASI anaknya juga tidak sembarang. Ia memilih buah alpukat untuk menu MPASI karena Claire baru di tahap pengenalan makanan.

"Termasuk pilihan menu MPASI yang saya berikan pada Claire saat ini sudah saya konsultasikan baik-baik dengan Dokter Gizi. Saya memilih untuk FULL ASI dan disertai MPASI di usia Claire belum 6 bulan (TIDAK SUFOR) adalah keputusan dan bentuk cara saya merawat Claire. Dan yang terbaik menurut versi saya untuk anak saya," jelas Shandy.

Dokter yang juga menangani MPASI Claire, dr. Samuel berkata, pemberian alpukat ini hanya sebagai snack dan bukan untuk menambah asupan kalori bagi Claire.

"Alpukat yang diberikan untuk Claire bukan untuk menambah asupan kalori karena Claire tumbuh kembangnya baik berarti asupan ASI-nya, jumlah dan kualitasnya sudah ok, pemberian alpukat hanya untuk mengenalkan makanan yang halus karena Claire perkembangannya baik sekali, pergerakannya baik dan mulutnya sudah terlihat ingin mengecap sesuatu. Jadi alpukat ini untuk melatih pengecapan Claire, jadi hanya sebagai snack," tuturnya.

4. Menambahkan madu pada MPASI Claire, tidak berbahaya?

4. Menambahkan madu MPASI Claire, tidak berbahaya
Instagram.com/missclaireherbowo

Madu memang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Namun, madu justru berbahaya jika diberikan kepada anak berusia di bawah satu tahun. Karena madu mengandung Clostridium botulinum yang berbahaya bagi anak di bawah 12 bulan. Bakteri itu bisa menyebabkan keracunan serius yang disebut botulisme.

Keracunan ini bisa terjadi karena anak di bawah satu tahun belum memiliki daya tahan tubuh dan sistem pencernaan yang mampu melawan bakteri tersebut.

Hal itu pula yang menjadi bahan perbincangan warganet di kolom komentar Shandy Aulia. Mama berusia 33 tahun ini menjelaskan mengapa ia mencampur madu dalam MPASI milik Claire. Ia menyebut pemberian madu ini sangat sedikit dan hanya untuk mengurangi rasa alpukat yang cenderung agak pahit.

Perihal bahaya madu untuk anak di bawah satu tahun ia sudah tidak awam. Oleh karenanya, ia tidak memberikan sembarang madu.

"Saya memberikan madu sudah berkonsultasi pada dokter gizi terlebih dahulu. Selama madu murni yang di gunakan sudah melewati proses penyaringan berulang kali dan di gunakan hanya sedikit sekali boleh boleh saja," tuturnya.

Tentunya madu yang berikan ini tidak mengurangi rasa pure alpukat yang ia berikan. Mengingat Shandy Aulia juga mempertimbangkan bahwa memberikan anak makanan cenderung manis akan berdampak pada perkembangannya ke depan.

"Saya memahami betul apa yang saya berikan pada anak saya bukan asal asalan tanpa mengerti apa yang saya berikan," jelas Shandy.

Pemberian madu kepada anak memang harus hati-hati. Dokter Samuel kembali menjelaskan, pemberian madu pada Claire ini hanya untuk menetralisir rasa pahit buat alpukat. Dengan porsi yang sangat sedikit pure alpukat pun tidak akan terasa manis sehingga kualitasnya tidak berpengaruh.

"Claire diberikan madu sangat sedikit 1/4 sendok teh hanya untuk menetralisir rasa pahit buah alpukat, jadi tidak terasa manis dan bukan untuk penambah kalori. Dan madu yang diberikan benar-benar madu yang sudah disaring berulang dan mengalami proses semi steril artinya bebas bakteri dan parasit," tuturnya.

5. Shandy Aulia bantah tuduhan warganet kalau anaknya kurang gizi

5. Shandy Aulia bantah tuduhan warganet kalau anak kurang gizi
Instagram.com/missclaireherbowo

Curiga sudah memberikan MPASI di bawah enam bulan, warganet berasumsi bahwa anak Shandy Aulia mengalami kekurangan gizi. Aktris film Cinta Itu Buta ini membantah tuduhan itu. Ia menjelaskan bahwa kondisi putrinya saat ini sehat dan baik-baik saja.

Perempuan kelahiran Jakarta ini menyayangkan anggapan bahwa bayi yang sehat harus montok dan memiliki tubuh yang gemuk.

"Harus montok, harus seperti Roti sobek dan pipi yang cubby baru bisa ada rasa nyaman dan tenang pada si ibu dan bayi silakan saja, tapi untuk Claire saya nyaman dan tenang dengan berat anak saya sekarang ini karena cara pandang saya bayi sehat tidak harus dengan tampak bobot yang montok dan gendut," tuturnya.

Menurutnya yang terpenting adalah Claire ini sehat dan tumbuh sesuai tahapan usianya. Dalam postingan yang diunggah 12 Juli 2020 lalu ini juga Shandy menyebutkan ciri-ciri bayi kurang gizi yakni pertumbuhan bayi tidak berjalan seperti yang seharusnya, berat badan bayi tidak bertambah, bayi mengalami perubahan perilaku seperti merasa gelisah dan sering rewel. Kemudian bayi mudah merasa lelah dan tidak aktif karena persediaan energi kurang optimal ketimbang bayi seusianya.

Namun, dari semua ciri yang disebutkan tak satu pun yang dialami anaknya.

"Bila Claire lebih mungil dan tidak montok seperti bayi ibu-ibu pada umumnya bukan berarti anak saya kurang gizi. Kalau ada pemikiran bayi dinilai harus montok baru terlihat bergizi silakan saja, semua memiliki cara pandang berbeda-beda. Tapi untuk Claire saya sudah mengucap syukur dan nyaman dengan pertumbuhan anak saya yang sehat. Saya tidak menekan diri saya dan anak saya untuk harus target montok," ungkapnya.

Dikutip dari Feeding Matters, setidaknya ada lima tanda anak kekurangan gizi atau malnutrisi, yaitu:

  • Kurang berat badan/ pertumbuhan berat lambat/ berat badan berkurang.
  • Tidak bertumbuh tinggi.
  • Kurangnya nafsu makan atau minum susu/ASI.
  • Tidak bisa makan dengan baik karena gangguan pencernaan.
  • Anak cenderung kurang aktif atau tidak ada keinginan untuk bermain.

6. Sempat sedih karena komentar warganet, Shandy tak asal memberikan MPASI untuk Claire

6. Sempat sedih karena komentar warganet, Shandy tak asal memberikan MPASI Claire
Instagram.com/missclaireherbowo

Sebagai seorang Mama, tentunya Shandy Aulia ingin selalu memberi yang terbaik untuk anaknya. Tak terkecuali mengenai MPASI dini ini ia sudah mempertimbangkan matang dan berkonsultasi tentang aman atau tidaknya untuk diberikan.

Namun, banyaknya warganet yang berasumsi dirinya asal-asalan tentu cukup menyakitkan. Shandy percaya pasti akan selalu ada perbedaan pendapat. Oleh karenanya, yang bisa ia lakukan adalah fokus membesarkan dan merawat Claire sebaik mungkin.

"Akan ada perbedaan pendapat dan rasa aman/secure dalam hal merawat anaknya masing-masing dan apabila tidak sepaham dan sejalan dalam pandangan kita merawat anak, mengapa harus saling menyakiti dalam tutur kata dan merasa paling yang terbaik menjadi seorang ibu?," ungkap Shandy.

Cara ibu untuk memberikan yang terbaik bagi anak boleh saja berbeda, tapi tujuannya tetap sama yaitu agar anak tumbuh dengan sehat dan baik.

"Karena setiap IBU memiliki cara merawat dan mendidik anak BERBEDA. Tapi bertujuan SATU ingin memberikan yang terbaik bagi anak kita," - Shandy Aulia

Itulah tadi penjelasan dan jawaban Shandy Aulia mengenai komentar warganet soal MPASI dini anaknya. Kita sebagai Mama tentunya tidak ingin salah dan asal dalam memberikan sesuatu kepada anak. Makanya pertimbangan matang dan konsultasi kepada ahli adalah jalan terbaik ketika menemui kebingungan. Satu lagi, yuk saling dukung sesama Mama!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.