Normalkah Bila Bayi Sering Buang Air Besar? Ketahui Faktanya di Sini!

Warna, bentuk, dan bau kotoran bayi bisa jadi pertanda kondisi kesehatannya

21 Oktober 2020

Normalkah Bila Bayi Sering Buang Air Besar Ketahui Fakta Sini
Pixabay/Mahesh Patel

Mama mungkin bingung bila bayi sering buang air besar. Jangan panik, Ma ternyata frekuensi buang air besar pada bayi berbeda-beda bergantung dari usia dan tahap perkembangannya. Secara umum, frekuensi buang air besar pada bayi akan berkurang seiring ia bertambah usia.

Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya karena usus bayi yang sudah berkembang sempurna sehingga bisa menyerap nutrisi atau ASI lebih baik.

Fakta menariknya, ternyata Mama bisa melihat kondisi kesehatan bayi dari warna, jenis feses, hingga bau kotoran mereka. Oleh karena itu penting bagi Mama untuk selalu memerhatikan kotoran bayi setiap ia BAB khususnya pada 24 jam pertama setelah ia lahir.

Agar Mama lebih paham, berikut Popmama.comrangkum informasi lengkap mengenai makna dari kondisi feses bayi.

1. Frekuensi normal buang air besar pada bayi usia 0-6 bulan

1. Frekuensi normal buang air besar bayi usia 0-6 bulan
freepik.com/wavebreakmedia-micro

Dilansir dari laman Firstcry bayi setidaknya akan mengalami frekuensi BAB setidaknya empat kali sehari dalam beberapa hari setelah kelahirannya. Bahkan ada beberapa kasus untuk bayi yang diberi ASI akan BAB setiap setelah menyusui.

Dalam sehari frekuensi buang air besar si kecil ini bisa hingga 12 kali. Jadi Mama nggak perlu khawatir kalau bayi sering buang besar di awal kehidupannya. Frekuensi bayi yang sering BAB ini bisa berlangsung dari 3-5 hari bahkan seminggu sejak ia lahir.

Kemudian, untuk bayi berumur 12 minggu seperti dilansir dari Todays Parent ia bisa mengeluarkan feses 1-8 kali sehari bergantung dari keadaan sistem pencernaan mereka. Beberapa bayi ASI sering kali tidak BAB bahkan hingga 7-10 hari lho. Hal ini normal jika bayi masih merasa nyaman. Sementara untuk bayi dengan susu formula ia bisa BAB hingga 2 kali sehari.

Ketika bayi berusia empat bulan dengan kondisi belum mengonsumsi makanan padat ia akan BAB sekitar dua kali sehari. Frekuensi BAB si Kecil akan berkurang seiring perkembangan usianya. Namun, jika si Kecil BAB tiga kali sehari juga masih normal kok.

Setelah bayi mendapatkan MPASI, Mama akan menghadapi perbedaan baik dari frekuensi maupun konsistensi feses si Kecil. Pada usia ini bayi mungkin lebih jarang BAB tapi waktu BAB-nya menjadi lebih teratur dari hari ke hari. Namun, jika bayi sering mengalami sembelit, diare, atau belum BAB lebih dari seminggu segera hubungi dokter ya.

Editors' Picks

2. Bentuk dan Jenis kotoran bayi yang normal

2. Bentuk Jenis kotoran bayi normal
Freepik

Fesef bayi bisa menjadi pertanda apakah si Kecil memiliki gangguan pencernaan atau tidak. Berikut bentuk fese bayi yang normal dikeluarkan.

Bayi baru lahir

Bayi baru lahir memiliki bentuk kotoran yang lembek seperti aspal atau disebut mekonium. Kondisi mekonium yang gelap ini terbentuk karena cairan ketuban, lendir, sel kulit mati, bilirubin, dan sel darah merah. 

Bayi dengan ASI ekslusif

Untuk bayi yang mengonsumsi ASI ekslusif maka bentuk kotorannya akan seperti pasta, berbiji atau bahkan cairan. Jika Mama menemukan feses bayi sangat cair, jangan khawatir dulu karena hal itu bisa saja normal terjadi.

Bayi non ASI ekslusif

Bayi yang tidak mengonsumsi ASI secara ekslusif maka bentuk fesesnya akan mirip seperti orang dewasa yakni bisa padat, menggumpal, atau berbentuk lembek seperti tanah liat.

3. Warna feses bayi bisa menandakan penyakit atau gangguan

3. Warna feses bayi bisa menandakan penyakit atau gangguan
Mustbestmom.com

Untuk feses bayi yang baru lahir dan diberikan susu formula dengan yang diberikan ASI akan ada perbedaan. Oleh karenanya, Mama jangan panik dulu ya jika bertanya kepada teman dan mendengar kalau feses yang keluar dari si Kecil berbeda.

Untuk bayi yang diberi ASI, warna kotorannya cenderung seperti berwarna kuning layaknya saus mustard dengan tekstur sangat lembek dan sedikit berair.

Sementara itu, untuk bayi yang diberikan susu formula warna kotorannya cenderung lebih tua atau berwarna kuning pucat, cenderung kecoklatan, atau hijau kecoklatan. Tekstur kotoran lembut, tetapi tidak selembek bayi dengan ASI.

Berikut rangkuman dari warna feses bayi normal dan tidak normal yang menandakan bahaya:

  • Berwarna kuning atau coklat, ini adalah warna feses yang normal. Warna yang dihasilkan disebabkan oleh sterkobilin yaitu bagian dari empedu yang dikeluarkan lewat feses.
  • Warna kehijauan, biasanya warna hijau pada feses bayi karena kotoran tidak lama di dalam usus besar sehingga tidak berubah menjadi kuning atau coklat. Warna BAB bayi ini wajar.
  • Warna putih, kalau feses bayi mama berwarna putih karena tidak ada pewarnaan sama sekali dari empedu. Hal ini bisa menjadi pertanda ada masalah pada empedu di Kecil. Kalau bayi mengeluarkan kotoran berwarna ini, segera bawa ke dokter ya.
  • Kemerahan atau kehitaman, warna kotoran bayi ini bisa jadi pertanda buruk karena biasanya ada masalah pada saluran cernanya. Kalau bayi Mama mengeluarkan feses berwarna merah bercampur lendir dan bentuknya cair bisa jadi itu disentri. Namun, jika fesenya berwarna hitam merupakan tanda perdarahan saluran cerna di bagian atas seperti kerongkongan dan lambung.

4. Jenis-jenis bau feses bayi yang normal dan tidak

4. Jenis-jenis bau feses bayi normal tidak
freepik.com

Selain bisa mendeteksi masalah kesehatan lewat jenis dan bentuk feses, Mama juga bisa mendeteksi masalah pada bayi lewat bau kotorannya. Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah jenis-jenis bau kotoran bayi yang normal dan tidak.

Bau feses busuk

Jika Mama mencium bau sangat busuk bahkan seperti telur busuk dari feses bayi maka patut dicurigai, karena bisa jadi pertanda tidak baik bagi pencernaan si Bayi.

Bau sangat asam

Kalau Mama mencium bau asam dari feses bayi maka bisa jadi pertanda ada gangguan penyerapan gula atau biasa disebut intoleransi laktosa yang membuat bayi tidak bisa mengonsumsi susu sapi.

Bau amis

Pada kondisi ini kemungkinan si Kecil mengalami infeksi amuba atau jamur. Kalau menemukan hal ini segera bawa bayi ke dokter ya.

Itulah tadi informasi mengenai penyebab bayi sering buang air besar dan deteksi kesehatan bayi dari bentuk, jenis, hingga bau feses.

Semoga informasi tentang bayi sering buang air besar bisa bermanfaat ya, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.