Kapan Bayi Boleh Digendong Menghadap ke Depan?

Berbagai teknik menggendong bisa dilakukan, salah satunya adalah menggendong bayi menghadap ke depan

4 Mei 2021

Kapan Bayi Boleh Digendong Menghadap ke Depan
Pexels/sklei

Menggendong bayi memang kegiatan yang sering dilakukan oleh setiap orangtua. Menggendong bayi bisa membantu menenangkan si Kecil sekaligus memperkuat ikatan batin antara Mama dan bayi. Bagi bayi prematur, menggendong adalah salah satu cara untuk menunjang tumbuh kembangnya. 

Berbagai teknik menggendong bisa Mama lakukan, salah satunya adalah menggendong bayi menghadap ke depan. Untuk diketahui, menggendong bayi menghadap ke depan bisa menstimulasi perkembangan otak bayi dan mempererat hubungan emosional si Kecil dan Mama. 

Meski begitu, menggendong bayi menghadap ke depan tidak boleh dilakukan sembarangan karena bisa mengganggu struktur dan fungsi tubuhnya. Mama perlu mengenali terlebih dahulu kapan bayi siap digendong menghadap ke depan. 

Berikut Popmama.com merangkum tanda-tanda bayi sudah siap digendong menghadap ke depan. 

1. Memiliki otot leher yang kuat

1. Memiliki otot leher kuat
Freepik/pch.vector

Memasuki usia lima bulan, bayi akan mulai mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, menggendong bayi menghadap ke depan bisa membantu si Kecil mengenali lingkungan sekitarnya. 

Namun, Mama harus pastikan si Kecil sudah memiliki otot leher yang kuat dan penglihatan yang baik. Otot leher yang kuat bisa membantu bayi mengangkat kepala dengan baik dan kepalanya tidak mudah terjatuh akibat guncangan saat digendong menghadap ke depan. 

Bayi berusia 5-6 bulan umumnya sudah bisa mengangkat kepalanya dengan baik dan memiliki otot leher yang kuat. 

Editors' Picks

2. Tinggi bayi sudah cukup

2. Tinggi bayi sudah cukup
Parents/Beco

Kriteria selanjutnya adalah tinggi si Kecil sudah cukup untuk digendong menghadap ke depan. Apabila Mama menggendong bayi menggunakan baby carrier, pastikan dagu bayi sudah ada di atas gendongan sehingga dia bisa melihat lingkungan sekitarnya dengan baik. 

Jika tinggi badan bayi belum cukup, menggendong menghadap ke depan dikhawatirkan bisa menghambat pernapasan si Kecil. 

3. Bisa duduk sendiri

3. Bisa duduk sendiri
Pexels/J carter

Bayi yang bisa duduk tanpa bantuan juga menandakan si Kecil sudah siap untuk digendong menghadap ke depan. Ketika menggendong bayi, pastikan bokong si Kecil berada di atas tangan mama. Gunakan satu tangan untuk menopang bokong si Kecil, sementara tangan lainnya untuk mendekap bayi pada bagian dada. 

Apabila Mama menggendong si Kecil menggunakan baby carrier, maka pastikan bahan gendongan yang digunakan sudah cukup nyaman dan aman untuk bayi.

4. Nyaman saat digendong menghadap ke depan

4. Nyaman saat digendong menghadap ke depan
Pexels/Yan

Faktor terpenting saat memutuskan menggendong bayi menghadap ke depan adalah bayi terlihat nyaman dan tertarik mengamati dunia sekitarnya. Meski otot leher bayi sudah kuat, bayi terkadang tidak nyaman digendong menghadap ke depan sehingga si Kecil akan rewel dan menangis. 

Bila bayi sudah mulai rewel, Mama harus mengembalikan posisi menggendong si Kecil ke posisi yang dia sukai. 

Tips Menggendong Bayi

Tips Menggendong Bayi
Pexels/Pixabay

Meski menggendong bayi menghadap ke depan terlihat menyenangkan, Mama tetap harus memantau ekspresi si Kecil selama digendong. 

Ketika bayi sudah mulai lelah atau mengantuk, sebaiknya jangan paksakan si Kecil untuk menghadap ke depan. Kembalikan posisi bayi menghadap ke Mama agar bayi kembali merasa nyaman. 

Kemudian, jangan terlalu lama menggendong bayi menghadap ke depan karena guncangan saat berjalan bisa menyebabkan bayi merasa tidak nyaman dan mengganggu pernapasannya. 

Itulah beberapa tanda yang menunjukkan bayi sudah siap digendong menghadap ke depan. Terpenting adalah Mama tidak memaksakan menggendong bayi menghadap ke depan ketika si Kecil mulai rewel atau menunjukkan rasa tidak nyaman. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.