Awas! Terlalu Banyak Asupan Air Putih pada Bayi Sebabkan Keracunan

Kenali gejala dan penyebabnya, Ma

19 Mei 2021

Awas Terlalu Banyak Asupan Air Putih Bayi Sebabkan Keracunan
Freepik/valuavitaly

Air merupakan sumber daya penting untuk kelangsungan hidup manusia.

Seperti halnya orang dewasa, bayi memiliki kebutuhan air, meski sedikit tetapi penting. Namun memberi air dengan jumlah banyak ternyata dapat mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh mereka.

Ketidakseimbangan elektrolit yang terganggu dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang parah, seperti suhu tubuh yang rendah dan kejang. Keadaan ini dikenal sebagai keracunan air.

Keracunan air pada bayi jarang terjadi, tetapi mungkin terjadi jika bayi diberi air dalam jumlah berlebih, seringkali melalui pengenceran susu formula yang berlebihan.

Agar ini tidak terjadi pada bayi mama, simak ulasan Popmama.com mengenai penyebab, gejala, dan pencegahan keracunan air pada bayi.

Berapa Banyak Air yang Dapat Diminum oleh Bayi?

Berapa Banyak Air Dapat Diminum oleh Bayi
Freepik

Bayi di bawah usia enam bulan sebaiknya tidak minum air. Kebutuhan hidrasi mereka pada usia ini secara optimal dipenuhi oleh ASI. Dengan demikian, memberi mereka air dapat membuat mereka berisiko lebih tinggi mengalami keracunan air. Dari enam bulan hingga 12 bulan, Mama dapat memberikan 0,5 hingga 1 cangkir (115-235 ml per hari) air untuk bayi setiap hari jika diperlukan.

Kuantitas air yang disarankan dan pemberian ASI cukup untuk memenuhi kebutuhan hidrasi bayi. Namun, dalam beberapa kasus, seperti cuaca panas dan sakit, minum lebih banyak air seharusnya tidak menjadi masalah. Meskipun demikian, berhati-hatilah agar ini tidak menjadi kebiasaan saat bayi masih belum butuh banyak air.

Editors' Picks

Gejala Keracunan Air pada Bayi

Gejala Keracunan Air Bayi
Freepik/photodiod

Kelebihan air di dalam tubuh menyebabkan hiponatremia, di mana kadar natrium tubuh turun secara tidak normal. Itu bisa memengaruhi fungsi beberapa organ, termasuk otak.

Di bawah ini adalah beberapa tanda dan gejala umum bayi hiponatremia:

  • Urine yang sangat jernih,
  • pusing dan lesu,
  • lekas ​​marah dan kerewelan pada bayi yang biasanya ceria,
  • suhu tubuh rendah (hipotermia) kurang dari 36 derajat celcius,
  • mual dan muntah,
  • pembengkakan pada ekstremitas, yaitu lengan, tungkai, dan wajah,
  • napas tidak teratur.

Dalam kasus ekstrim, keracunan air dapat menyebabkan kejang dan koma. Jika Mama menemui gejala di atas terjadi pada bayi, segera bawa bayi ke dokter ya, Ma.

Penyebab Keracunan Air pada Bayi

Penyebab Keracunan Air Bayi
Freepik/yana.aybazova

Bayi tidak mengonsumsi air secara sukarela atau atas keinginannya sendiri. Dengan demikian, keracunan air terjadi saat bayi diberi kelebihan air oleh pengasuh dengan cara berikut:

  • Air minum dan jus encer: Bayi hingga usia enam bulan tidak membutuhkan air. Kebutuhan hidrasi mereka secara optimal dapat dipenuhi dengan pemberian ASI eksklusif. Namun, beberapa orangtua mungkin mulai memberi makan air dan jus yang diencerkan untuk bayi mereka agar mereka tetap terhidrasi dan menawarkan nutrisi. Ini tidak cocok untuk bayi karena ginjalnya belum sempurna untuk memproses air.
  • Susu formula yang diencerkan secara berlebihan: Merek susu formula yang berbeda membutuhkan jumlah air yang berbeda. Para ahli menyarankan orangtua untuk mengikuti instruksi pada kemasan dan menggunakan rasio pencampuran seperti yang disebutkan. Ini penting karena menggunakan lebih sedikit air dari yang disebutkan dapat membuat susu formula terlalu kental, yang dapat menyebabkan sembelit pada bayi. Di sisi lain, menggunakan terlalu banyak air dapat mengencerkan formula, mengganggu keseimbangan elektrolit dan asupan nutrisi, meningkatkan risiko keracunan air.
  • Pemberian minum dengan cangkir: Para ahli menyarankan untuk menghentikan penggunaan botol untuk bayi secara bertahap antara 12 dan 24 bulan. Jadi, bayi mulai menyesap air dari cangkir, menyebabkan mereka menelan air berlebih saat tidak diawasi.

Penanganan untuk Keracunan Air

Penanganan Keracunan Air
Freepik/Pressfoto

Keracunan air pada bayi adalah keadaan yang tidak dapat ditangani di rumah. Oleh karena itu, jika bayi menunjukkan gejala asupan air yang berlebihan, disarankan untuk membawa bayi ke dokter. Bergantung pada tingkat keparahan gejala, dokter akan memetakan rencana perawatan untuk memulihkan keseimbangan elektrolit tubuh dan mengatasi gejala.

Dalam kebanyakan kasus, membatasi asupan air bayi dan membiarkan kelebihan air keluar dari tubuh melalui buang air kecil akan mengatasi kondisi tersebut. Namun, pada kasus yang parah, dokter mungkin merekomendasikan diuretik dan pemulihan kadar natrium melalui infus.

Tips Mencegah Keracunan Air pada Bayi

Tips Mencegah Keracunan Air Bayi
Freepik/Wavebreakmedia

Berikut beberapa tips sederhana untuk memastikan bayi mengonsumsi air secara tepat dan dalam jumlah yang tepat.

  • Jangan berikan air kepada bayi di bawah usia enam bulan. Bayi berusia lebih dari enam bulan bisa minum 115-235 ml air setiap hari.
  • Bicaralah dengan dokter anak untuk mempelajari cara menentukan apakah bayi mengalami dehidrasi dan apakah harus memberinya air. Bahkan dalam cuaca panas, bayi mungkin tidak memerlukan air dan sering menyusu sudah cukup.
  • Jangan pernah mencairkan susu formula secara berlebihan. Mama harus mengikuti rasio pencampuran yang ada pada kemasan susu formula.
  • Jangan pernah meninggalkan bayi tanpa pengawasan saat mereka menyesap air dari cangkir dan saat mereka mandi. Membiarkan bayi tidak diawasi dapat menyebabkan konsumsi air berlebih secara tidak sengaja.

Keracunan air pada bayi jarang terjadi, tetapi dapat menyebabkan efek samping, seperti kejang. Mama dapat menghindarinya dengan tetap waspada pada jumlah air yang diberikan kepada bayi dan mengikuti rasio pengenceran yang tepat saat menyiapkan susu formula.

Secara keseluruhan, keracunan air dengan mudah dapat dicegah jika Mama menjaga asupan air bayi tetap terkendali.

Semoga informasi ini bermanfaat, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.