Apa itu Mikrosefali? Ini 5 Hal yang Harus Mama Tahu!

Ukuran lingkar kepala penting untuk mendeteksi gangguan pada perkembangan otak, seperti mikrosefali

17 September 2019

Apa itu Mikrosefali Ini 5 Hal Harus Mama Tahu
Pexels/Pixabay

Setiap orangtua mengharapkan bayinya tumbuh dengan sehat dan sempurna. Pertumbuhan bayi dan anak-anak yang normal dapat dipantau melalui milestone-milestone yang telah ditentukan dunia kedokteran, meskipun semua bayi punya tahapan perkembangannya masing-masing.

Untuk mengetahui perkembangan bayi, dokter biasanya mengukur tiga hal, yaitu berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Lingkar kepala seringkali tidak diacuhkan, tetapi sesungguhnya penting untuk mendeteksi gangguan tumbuh-kembang, misalnya mikrosefali.

Apa itu mikrosefali? Apa dampaknya bagi perkembangan bayi? Berikut Popmama.com merangkum informasi lengkapnya, dilansir dari verywellfamily.com.

Apa itu Mikrosefali?

Apa itu Mikrosefali
Pexels/Tracey Shaw

Mikrosefali merupakan kondisi bawaan lahir di mana ukuran kepala bayi jauh lebih kecil dari ukuran normal bayi dengan usia dan jenis kelamin yang sama. Kasus mikrosefali bisa dibilang cukup langka, terjadi antara dua hingga 12 bayi per 10.000 kelahiran di Amerika Serikat.

Selama kehamilan, kepala janin tumbuh seiring dengan pertumbuhan otaknya. Namun, pada bayi yang mengalami mikrosefali, seringkali otak tidak tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga kepala pun tidak bertumbuh.

Mengenali Tanda Mikrosefali

Mengenali Tanda Mikrosefali
Freepik/Praisaeng

Gejala mikrosefali cukup bervariasi, tetapi secara umum meliputi:

  • Kepala yang terlihat sangat kecil,
  • tangisan bernada tinggi,
  • bayi mengalami masalah menyusu,
  • kejang,
  • keterlambangan perkembangan,
  • cacat intelektual,
  • kelenturan lengan dan kaki,
  • masalah penglihatan,
  • masalah pergerakan dan keseimbangan,
  • gangguan pendengaran.

Tingkat keparahan mikrosefali beragam, seperti halnya gejala yang ditampakkan. Untuk itulah dokter perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap si Kecil, termasuk melakukan tes agar dapat menemukan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Editors' Picks

Penyebab Mikrosefali pada Bayi

Penyebab Mikrosefali Bayi
Freepik

The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan adanya hubungan infeksi akibat virus zika yang menyebabkan bayi lahir dengan kondisi mikrosefali. Namun, pada kebanyakan bayi, penyebabnya tidak dapat diketahui pasti. Pada sebagian bayi, bisa jadi karena faktor genetis, tetapi juga bisa jadi karena paparan pra-kehamilan, antara lain:

  • Terpapar bahan kimia saat berada di dalam rahim,
  • kekurangan vitamin atau nutrisi yang tepat dalam makanan mama saat hamil,
  • penggunaan obat-obatan dan alkohol oleh ibu selama masa kehamilan,
  • fenilketonuria yang tidak diobati,
  • gangguan pasokan darah ke otak janin saat dalam kandungan,
  • infeksi maternal selama kehamilan (rubella, toksoplasmosis atau cytomegalovirus).

Diagnosis Mikrosefali pada Bayi

Diagnosis Mikrosefali Bayi
Unsplash/Rawpixel

Mikrosefali bisa terdiagnosis pada saat bayi masih dalam kandungan melalui teknologi ultrasound, selama akhir trimester kedua atau awal ketiga. Setelah bayi lahir, dari hasil pemeriksaan fisik dapat menunjukkan hasil ukuran kepala yang lebih kecil dari yang diharapkan atau keterlambatan perkembangan yang mungkin timbul. Hal ini memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Pada bayi dan balita, dokter akan mengukur lingkar kepala setiap kali kunjungan rutin bulanan dan membandingkannya dengan skala standar rentang tipikal dan atipikal. 

Tes diagnostik dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis atau mengkonfirmasi mikrosefali dan kelainan otak, meliputi:

  • Pengukuran lingkar kepala, 
  • X-ray,
  • CT scan untuk melihat gambaran detil tulang, jaringan dan organ-organ lainnya,
  • MRI untuk mendapatkan gambaran organ dan struktur tubuh,
  • tes darah,
  • tes urine.

Terapi untuk Penderita Mikrosefali

Terapi Penderita Mikrosefali
Freepik/Bearphotos

Mikrosefali merupakan kondisi seumur hidup yang tidak dapat disembuhkan atau diperbaiki. Tetapi perawatan yang dilakukan akan berfokus untuk meminimalkan dan mencegah kecacatan lebih lanjut, dengan mempertimbangkan keterlambatan perkembangan dan membantu anak memaksimalkan potensi dan kemampuan mereka. 

Baca Juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!