4 Faktor yang Berpengaruh Terhadap Berat Badan Bayi

Bayi Mama kurus atau gemuk, tak selalu makanan yang jadi penentunya

27 Mei 2020

4 Faktor Berpengaruh Terhadap Berat Badan Bayi
Babyrulestheworld.com

Setiap orangtua mendambakan bayi yang sehat dan kuat. Banyak yang menghubungkan 'sehat' dengan bayi yang besar dan gemuk. Sementara itu, melihat bayinya kurus dan kecil, orangtua merasa sedih bahkan minder karena selalu dibanding-bandingkan.

Padahal, di satu sisi, bayi yang gemuk tak selalu sehat. Bahkan dikhawatirkan akan berkembang menjadi obesitas. Di sisi lain, bayi yang kurus juga tidak berarti kurang gizi. Ada hal-hal yang menjadi faktor penentu berat badan si Kecil. Berikut Popmama.com merangkum daftarnya, dilansir dari usnews.com:

1. Karakter tubuh orangtua

1. Karakter tubuh orangtua
Freepik/Senivpetro

Jika sang Ibu atau kedua orangtua kelebihan berat badan, kemungkinan besar sang Anak juga akan mengalami kelebihan berat badan. Faktor lingkungan dan genetik berpengaruh besar terhadap hal ini. Bayi yang memiliki ibu gemuk, memiliki peluang 50 persen untuk tumbuh gemuk pula. 

Selain itu, ras orangtua juga berperan dalam pembentukan karakter tubuh anak. Sejarah keluarga dari kedua belah pihak orangtua juga perlu diperhatikan karena itu akan membentuk seperti apa kecenderungan bentuk dan berat badan anak.

Editors' Picks

2. Berat lahir

2. Berat lahir
Unsplash/Christian Bowen

Bayi yang lahir dengan ukuran yang tergolong besar, belum tentu akan tumbuh menjadi orang dewasa yang besar nantinya. Begitu pula sebaliknya. Tetapi, memang berat lahir bayi akan berpengaruh pada kesehatan anak di masa depan. 

Bayi yang lahir dengan berat badan yang ideal, tidak terlalu besar atau kecil, adalah mereka yang lahir dari sang Ibu yang mengandung dengan berat badan yang sesuai. 

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, ibu hamil yang kekurangan berat badan ketika hamil, harus menambah berat badannya antara 12,7 kg hingga 18,14 kg. Ibu hamil dengan berat rata-rata harus menambah berat antara 11,3 kg hingga 15,9 kg. Sedangkan ibu hamil yang kelebihan berat badan, disarankan menambah berat badan antara 4,9 kg hingga 9,07 kg. 
 

3. Kurva pertumbuhan

3. Kurva pertumbuhan
Freepik

Adalah hal yang sia-sia saja apabila Mama membandingkan bayi mama dengan teman sebayanya. Bayi usia empat bulan yang berat badannya 5,4 kg bisa sama-sama sehatnya dengan yang berat badannya 8,1 kg sepanjang bobot tersebut adalah hasil ganda dari berat lahir mereka. 

Itulah sebabnya dokter anak memantau pertumbuhan bayi bukan hanya dari berat badannya, melainkan juga dari tinggi badan dan lingkar kepalanya. Selama  semua pertumbuhan dalam ukuran-ukuran tersebut relatif stabil, tak perlu ada yang dikhawatirkan, Ma.

Jika pertumbuhan tinggi badan anak dalam persentil ke-50 dan ke-90 untuk berat badan, kemungkinan anak Mama perlu ditambah lagi asupan gizinya untuk mendorong pertumbuhannya agar lebih optimal.

4. Kebiasaan makan

4. Kebiasaan makan
freepik.com

ASI adalah cara terbaik mencegah obesitas pada bayi. Bayi memiliki kebutuhan yang sangat kuat untuk menyusu. Ketika beralih ke susu botol, ada kecenderungan bayi makan berlebihan karena setiap kali menangis, hal itu diterjemahkan orangtuanya sebagai 'lapar'. Akibatnya, mereka mulai terbiasa mengasosiasikan tangisan dengan lapar.

Menyusui adalah perisai alami terhadap makan terlalu banyak. Bayi mulai menyusu ketika ia lapar dan berhenti ketika mereka sudah puas.  Dr. Robert Murray dari Ohio State University mengatakan bahwa para ibu beralih ke susu formula karena mereka khawatir terhadap penurunan berat badan bayi mereka dalam satu-dua minggu pertama kehidupan akibat pasokan ASI yang buruk. Padahal, pada kenyataannya, fluktuasi itu adalah hal yang normal.

"Itu bukan tanda bahwa Mama harus berhenti menyusui," ujarnya.

Membiasakan Makan yang Baik Sejak Dini

Membiasakan Makan Baik Sejak Dini
freepik.com/tonefotografia

Dr. Robert Murray berpendapat, cara yang bisa dilakukan sejak dini untuk memperkenalkan kebiasaan makan yang sehat adalah dengan belajar mengenali isyarat lapar. Secara alami, tiap manusia punya sinyal lapar dan sinyal kenyangnya sendiri. Jangan mengacaukannya dengan buru-buru memberikan makan saat ia rewel. Respons setiap kali bayi menangis tidak boleh berupa menyodorkan makanan, karena kerewelannya itu bisa didasari oleh berbagai hal. Tidak selalu karena lapar.

Jika terus dibiarkan, maka akan menjadi kebiasaan. Makanan kemudian diasosiasikan sebagai kenyamanan, bukan lagi sebagai pendukung pertumbuhan dan kesehatan fisik.

Semoga informasi ini bermanfaat, Ma!

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.