Waspada Silent Reflux, Penyebab Bayi Menangis setelah Menyusu

Silent reflux atau yang juga disebut dengan laryngopharyngeal reflux ini banyak dialami bayi

20 Oktober 2020

Waspada Silent Reflux, Penyebab Bayi Menangis setelah Menyusu
Shutterstock/goodluz

Bagi kebanyakan bayi, waktu makan adalah waktu yang sangat disukainya. Ketika mulai menyusu, ia bisa tenang dan asyik sendiri dengan dunianya. Selesai menyusu pun, kebanyakan bayi akan tetidur pulas karena sudah kenyang. 

Namun, bagi sebagian bayi, waktu makan justru jadi waktu yang 'menyeramkan'. Selesai menyusu, tak jarang ia malah makin gelisah, rewel, menangis, dan sulit ditenangkan. Hmm, apa yang salah ya? Apa yang terjadi pada si Kecil? Bisa jadi ia mengalami silent reflux, Ma.

Berikut Popmama.com merangkum informasi seputar silent reflux pada bayi yang penting diketahui, dilansir dari Momjunction:

Mengenal Silent Reflux

Mengenal Silent Reflux
Freepik

Silent reflux atau yang juga disebut dengan laryngopharyngeal reflux, adalah suatu kondisi di mana asam lambung mengalir mundur ke dalam laring dan saluran hidung. Beberapa orang menganggap kondisi ini adalah perpanjangan penyakit GERD, di mana asam lambung mengiritasi kerongkongan.

Mengapa disebut silent refluxalias refluks diam? Karena kondisi ini tidak memiliki tanda dan gejala yang mencolok. Cairan perut yang dimuntahkan akhirnya jatuh kembali ke perut dan biasanya bayi yang kebanyakan mengalami silent reflux ini. 
 

Editors' Picks

Penyebab Terjadinya Silent Reflux

Penyebab Terjadi Silent Reflux
freepik.com/atstock-productions

Studi menyebutkan, satu dari lima bayi mengalami kondisi reflux. Hal ini normal untuk bayi berusia di bawah satu tahun. Faktor penyebabnya, antara lain:

  • Sfingter esofagus, yaitu otot di ujung esofagus yang membantu perjalanan makanan dari pipa makanan ke perut, masih belum berkembang dengan baik. Penyaring esofagus yang belum berkembang membuat isi perut mengalir mundur ke kerongkongan dan inilah yang menyebabkan refluks.
  • Alergi makanan, termasuk juga intoleransi laktosa, dapat memicu silent reflux.
  • Masalah neurologis dapat menyebabkan masalah makan dan silent reflux pada beberapa bayi.
  • Cacat pada laring, seperti laringomalasia, meningkatkan kemungkinan terjadinya silent reflux.
  • Tidur telentang setelah makan.

Tanda dan Gejala Silent Reflux

Tanda Gejala Silent Reflux
Freepik/wavebreakmedia

Bayi dengan silent reflux biasanya tampak sehat dan hanya menunjukkan ketidaknyamannya sebelum atau sesudah menyusu. Silent reflux tidak menunjukkan gejala yang intens seperti GERD. Tetapi berikut ini tanda yang bisa Mama cermati:

  • Bernapas dengan suara mengi atau bergetar,
  • jeda napas saat tidur (apnea),
  • kesulitan makan (bayi mungkin melengkungkan punggung mereka dan menarik diri dari puting mama),
  • batuk terus-menerus,
  • tersedak dan muntah,
  • infeksi telinga atau sering menarik dan memegang telinganya,
  • menangis dan rewel setelah menyusu.

Bagaimana Silent Reflux pada Bayi Didiagnosis?

Bagaimana Silent Reflux Bayi Didiagnosis
freepik.com/pch.vector

Dokter anak mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan gejala-gejalanya. Jadi, pastikan Mama sudah mencatat semua tanda yang muncul atau merekam video saat bayi menunjukkan gejala tersebut. Dokter akan memeriksa tinggi dan berat badan bayi untuk menentukan apakah mereka cukup menyusu.

Prosedur diagnostik yang rumit, seperti tes barium atau endoskopi, biasanya dilakukan jika tidak ada perbaikan pada kondisi bayi setelah mengamati prosedur perawatan.

Pengobatan dan Perawatan Silent Reflux

Pengobatan Perawatan Silent Reflux
Pixabay/congerdesign

Sebagian besar silent reflux yang dialami bayi berangsur-angsur hilang seiring dengan pertumbuhannya dan sfingter esofagusnya matang. Hingga saat itu tiba, dokter mungkin akan menganjurkan penanganan refluks dengan beberapa tindakan serupa yang diambil dalam kasus GERD, antara lain:

  • Setiap selesai menyusu, sendawakan bayi dan pertahankan ia dalam posisi tegak selama 30 menit.
  • Jika bayi minum susu formula, konsultasikan dengan dokter anak untuk penggantian susu formula. Jika bayi mengalami masalah intoleransi laktosa, dokter akan merekomendasikan susu formula khusus, seperti susu formula yang terhidrolisis.
  • Sebaiknya Mama menghindari makanan pedas, kafein, makanan asam, dan produk olahan susu jika masih dalam masa menyusui bayi.
  • Ikuti isyarat lapar bayi dan beri makan ia sesuai permintaannya. Jika memungkinkan, beri makan porsi lebih kecil tetapi lebih sering dalam jarak waktu dua hingga tiga jam.
  • Jika bayi mama berusia di atas enam bulan, cobalah memberi makan bubur atau sereal yang kental untuk meminimalisir regurgitasi dan refluks

Silent reflux pada bayi dapat mengganggu tidur dan kenyamanannya karena mereka jadi lebih sering terbangun. Untuk mengatasinya, ubahlah gaya hidup bayi sesuai anjuran dokter untuk meredakan silent reflux dan membantu bayi tidur lebih nyenyak. 

Semoga informasi ini bermanfaat. 

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.