Cara Mengajarkan Bayi Usia 9 Bulan Arti Kata “Tidak”

5 tips penting agar bayi mengerti saat dilarang

11 Oktober 2021

Cara Mengajarkan Bayi Usia 9 Bulan Arti Kata “Tidak”
Instagram.com/campo_on_tour

Salah satu gestur penting yang perlu dipahami buah hati sedini mungkin adalah gestur larangan atau kata “tidak”. Selain untuk membatasi dan menjaganya dari hal yang kurang baik hingga membahayakan, konsep kata “tidak” juga penting untuk membangun dan menjaga batasan dirinya di kemudian hari.

Pada praktiknya, Mama mungkin sering mendapati anak yang tidak mau mengerti dan melawan saat dilarang oleh orangtuanya dengan kata ini. Hal ini bisa jadi karena kurangnya pemahaman dan konsistensi orangtua semasa pengenalan kata “tidak” atau konteks larangan pada buah hatinya sejak bayi.

Agar si Kecil mudah memahami larangan dalam konteks yang benar, yuk simak informasi Popmama.com mengenai lima tips penting yang perlu Mama lakukan dalam mengajarkan arti kata “tidak” pada bayi usia 9 bulan berikut ini!

1. Kenalkan gestur 'berhenti' terlebih dahulu

1. Kenalkan gestur 'berhenti' terlebih dahulu
Freepik/drobotdean

Jauh sebelum mulai menekankan kata “tidak,” Mama disarankan untuk mengenalkan gestur tubuh khusus yang menandakan ketidaksetujuan, larangan, atau perintah untuk berhenti kepada bayi. Contoh kecil adalah menggerakkan telunjuk ke kanan dan kiri sambil menggelengkan kepala dan berkacak pinggang.

Bayi memiliki kemampuan untuk merasakan perubahan ekspresi positif dan negatif serta dapat betul-betul memahaminya di usia 4-6 bulan. Akan jauh lebih mudah bagi Mama untuk mengatakan “tidak” dan betul-betul didengar oleh si Kecil dengan bantuan gestur tubuh yang sudah dimengertinya terlebih dahulu.

Editors' Picks

2. Tetapkan tanda suara untuk 'berhenti'

2. Tetapkan tanda suara 'berhenti'
Freepik/azerbaijan_stockers

Gestur yang menandakan perintah untuk berhenti atau menyiratkan makna tidak setuju hanya bisa berhasil jika bayi sudah memperhatikan Mama. Akan lebih sulit jika harus melakukan ini di tempat yang ramai atau penuh distraksi. Untuk itu, Mama perlu menetapkan tanda suara yang bermakna sama.

Mama bisa menggunakan kata atau bunyi apa saja yang dirasa nyaman, namun dengan intonasi dan nada suara yang konsisten setiap menyuarakannya. Agar bayi paham maknanya, mulai bunyikan tanda ini bersamaan dengan gestur berhenti yang sudah Mama biasa lakukan.  

3. Kuasai tatapan penanda 'berhenti'

3. Kuasai tatapan penanda 'berhenti'
Freepik/drobotdean

Ada sebuah ekspresi khusus yang digunakan untuk mendisiplinkan anak secara umum. Meski pada awalnya Mama perlu bantuan gestur dan kata-kata, pesan dari ekspresi ini cukup kuat hingga di kemudian hari Mama bisa hanya memberikan tatapan ini dan buah hati sudah langsung mengerti.

Miringkan kepala sedikit, tatap buah hati dengan intens, gunakan ekspresi wajah serius dan nada suara yang tegas saat menyebut namanya dan mengatakan bahwa Mama tidak menyukai prilakunya. Bayi akan merasakan emosi Mama dari tatapan mata dan getaran suara yang intens dan terfokus hanya padanya.

4. Berikan alternatif pengganti dari hal yang dilarang

4. Berikan alternatif pengganti dari hal dilarang
Freepik/prostooleh

Jika Mama hanya fokus melarang, bayi akan cepat marah atau sedih karena merasa tidak dimengerti dan bingung cara menyalurkan keinginannya serta menyikapi larangan Mama. Jadi, hal lain yang perlu Mama pikirkan sebelum mengatakan “tidak” pada si Kecil adalah arahan solusi atau distraksi setelahnya.

Misalnya, Mama mendapati si Kecil hendak mencoret-coret dinding rumah. Setelah memberikan gestur, tanda suara, tatapan penanda ‘berhenti’, serta penjelasan bahwa Mama tidak senang dengan prilakunya, segera berikan si Kecil media lain untuk menggambar seperti kertas atau kanvas. Dengan begini ia juga belajar bahwa ada media lain yang lebih tepat untuk menggambar dan mewarnai selain dinding.

5. Katakan tidak setelah terlibat langsung

5. Katakan tidak setelah terlibat langsung
Pexels/JepGambardella

Pengelolaan emosi bayi tentu masih belum baik dan ia benci ketika tidak mendapatkan apa yang ia mau. Akan jauh lebih baik jika buah hati memahami kata “tidak” sebagai upaya Mama menjaga atau mengarahkannya dibanding sebagai pengekangan.

Untuk melakukan itu, biasakan untuk berusaha memahami terlebih dahulu perspektif dan alasan si Kecil berprilaku atau menginginkan sesuatu sebelum mengatakan “tidak”.

Setelah memahami motifnya, Mama baru dapat dengan bijak menimbang apakah kemauannya betul-betul harus dilarang atau apakah ada jalan lain agar keinginannya tetap bisa ia dapat tanpa merugikan dirinya atau orang lain.

Jika setelah pertimbangan Mama masih memutuskan untuk mengatakan “tidak”, beri si Kecil pengertian sederhana diikuti kata-kata penyemangat seperti “Adik anak baik dan pintar, pasti bisa sabar sampai besok” dan sejenisnya sesuai konteks.

Perlu diingat bahwa pengenalan konsep larangan dan arti kata “tidak” pada bayi memerlukan proses dan waktu yang tidak instan. Jadi, tetap bersabar dan konsisten ya, Ma. Semoga informasi ini bermanfaat!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.