Jangan Sampai Terlewat, Ini Pentingnya Vaksinasi bagi Anak

Orangtua harus waspada terhadap berbagai mitos terkait vaksinasi yang tidak benar

10 Juli 2020

Jangan Sampai Terlewat, Ini Penting Vaksinasi bagi Anak
Unsplash/CDC

Para orangtua mungkin sudah tak asing lagi dengan vaksinasi atau imunisasi, salah satu bentuk pencegahan primer terhadap suatu penyakit.

Vaksinasi bekerja dengan cara memasukkan antigen atau penyebab penyakit (virus/bakteri atau komponen virus/bakteri) yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh.  

Dengan tujuan memicu terbentuknya kekebalan tubuh terhadap antigen tersebut sehingga dapat mencegah penyakit secara efektif dan efisien. Untuk itu, Mama perlu memberikan vaksin pada si Kecil. 

Secara lebih lanjut, berikut Popmama.com rangkum manfaat, fakta, dan beberapa informasi penting tentang vaksinasi sehingga Mama tahu betapa pentingnya hal tersebut bagi si Kecil. 

1. Cara kerja vaksinasi dalam melawan infeksi

1. Cara kerja vaksinasi dalam melawan infeksi
Unsplash/Jonathan Borba

Secara umum, sistem kekebalan tubuh dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Nonspesifik, tidak menarget antigen tertentu. Contohnya, lapisan kulit dan makrofag. 
  • Spesifik, memiliki target tertentu. Contohnya, antibodi khusus (antibodi campak, antibodi hepatitis B, dll).

Sistem kekebalan tubuh spesifik ini akan bekerja lebih cepat dan efektif dalam mengatasi infeksi. Namun, jika sistem kekebalan tubuh spesifik tidak membentuk respon dengan cepat dan akurat, infeksi bisa meluas bahkan mematikan. 

Di sinilah peran vaksinasi bagi tubuh. Bertugas untuk memperkenalkan antigen sehingga bisa memicu produksi antibodi yang spesifik dan bertahan lama dalam melawan penyakit. 

2. Vaksinasi bisa mencegah penyakit

2. Vaksinasi bisa mencegah penyakit
Unsplash/Edward Cisneros

Ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan tubuh dari vaksinasi. Berikut di antaranya: 

  • Menurunkan angka kejadian penyakit

Hal ini terbukti dari beberapa penyakit yang kasusnya menurun setelah diberi vaksinasi. Contohnya, penyakit polio yang pada tahun 1980 kasusnya mencapai 53.000, setelah vaksinasi diberikan jumlah kasus berkurang menjadi 42 di tahun 2016.

Penyakit lain juga mengalami penurunan jumlah kasus setelah ditemukannya vaksinasi, seperti difteri, tetanus, dan rubella. Bahkan, penyakit cacar/smallpox sudah berhasil dimusnahkan pada 1980. 

  • Menciptakan kekebalan kelompok

Vaksinasi dapat menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity. Kekebalan kelompok berperan untuk melindungi orang lain yang rentan terhadap penyakit. Misalnya, individu dengan imunitas yang rendah atau dalam masa kemoterapi. 

Namun, apabila cakupan vaksinasi rendah dan kekebalan kelompok tak terbentuk, maka dapat terjadi kejadian luar biasa (outbreak), seperti difteri dan hepatitis A yang kasusnya baru-baru ini terjadi. 

  • Melindungi orang sekitar 

Contohnya pada vaksin rubella. Vaksinasi rubella sangat penting diberikan walaupun infeksinya tidak berat. Pada anak atau orang dewasa yang terinfeksi rubella, hanya akan mengalami gejala ringan dan dapat sembuh sendiri.

Namun, apabila infeksi rubella terjadi pada ibu yang sedang hamil, bisa menimbulkan kematian atau kecacatan, seperti katarak bawaan, kelainan jantung, ketulian, gangguan mental, dan lain-lain pada janin. 

Editors' Picks

3. Tidak benar bahwa vaksin menyebabkan autisme

3. Tidak benar bahwa vaksin menyebabkan autisme
Unsplash/Tanaphong Toochinda

Ada banyak informasi yang keliru terkait vaksinasi. Salah satunya kabar bahwa vaksin bisa menyebabkan autisme pada anak. Padahal hal tersebut tak benar adanya. 

"Hoax mengenai kaitan vaksin MMR dengan autisme bermula dari penelitian seorang dokter bedah bernama Wakefield dengan hanya mengambil 18 sampel di tahun 1998 dan sudah dibongkar sejak 2011," kata dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M. Sc, Dokter Spesialis Anak - RS. Pondok Indah Bintaro Jaya.

Ia menambahkan, berbagai penelitian lain yang lebih akurat dan melibatkan sampel jauh lebih besar membuktikan bahwa tidak ada kaitan antara vaksin MMR dengan autisme.

Kemungkinan, usia pemberian vaksin MMR (sekitar 1 tahun) bertepatan dengan usia di mana gejala-gejala autisme mulai tampak, sehingga seolah-olah berkaitan. 

Jadi, Mama tak perlu khawatir berlebihan saat memberikan vaksinasi pada si Kecil. Sejauh vaksin yang diberikan sesuai kebutuhan dan anjuran dokter anak, maka akan tetap aman, Ma. 

4. Vaksinasi sangat penting bagi anak

4. Vaksinasi sangat penting bagi anak
Unsplash/Nicole Leeper

Beberapa orangtua mungkin ada yang beranggapan bahwa sebagian vaksinasi tidak wajib sehingga tidak penting untuk diberikan. Padahal, setiap vaksin memiliki fungsinya tersendiri. 

Masing-masing vaksin bisa mencegah penyakit yang berbeda. Sebagian vaksin pun sudah disubsidi oleh pemerintah Indonesia sehingga lebih mudah didapatkan dan terjangkau oleh setiap anak-anak, seperti vaksinasi Hepatitis B, BCG, polio, DPT kombo, dan campak.

Namun, bukan berarti vaksin lain di luar subsidi pemerintah tersebut tidak penting, Ma. Vaksin lainnya, seperti vaksin PCV tetap perlu diberikan karena dapat mencegah peradangan paru-paru (pneumonia) dan peradangan selaput otak (meningitis). Mengingat pneumonia adalah penyebab kematian balita nomor satu di Indonesia.

Selain itu, vaksin rotavirus juga sama pentingnya karena bisa mencegah diare akibat rotavirus. Hal ini karena diare adalah
penyebab kematian balita nomor dua di Indonesia.

Jadi, jangan sampai pemberian vaksin pada anak terlewat ya, Ma. 

5. Anak sedang batuk pilek, bolehkah vaksin?

5. Anak sedang batuk pilek, bolehkah vaksin
Unsplash/CDC

"Kondisi batuk pilek ringan tanpa demam bukanlah kontraindikasi untuk vaksinasi. Dokter akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan anak tidak berada dalam kondisi penyakit berat," jelas dr. Caessar.

Sebagian besar obat-obatan, termasuk antibiotik, tidak memengaruhi potensi vaksin. Namun, bila anak mendapatkan
pengobatan yang bersifat menekan imunitas untuk jangka waktu lama maka dokter akan menunda pemberian vaksin.

Jika akhirnya ditunda dan menyebabkan vaksin terlambat, vaksin tetap dapat disusulkan karena anak belum memiliki kekebalan dari penyakit tersebut. Dengan catatan, pemberian vaksin yang sifatnya serial tidak perlu mengulang dari awal apabila ada yang terlambat, Ma.

6. Panduan vaksinasi saat pandemi Covid-19

6. Panduan vaksinasi saat pandemi Covid-19
Unsplash/Macau Photo Agency

Dalam melaksanakan vaksinasi, ada beberapa panduan dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) agar pemberian vaksin tetap aman saat pandemi, berikut di antaranya:

  • Adanya pengaturan jadwal kedatangan untuk menghindari kepadatan anak atau orangtua saat menunggu,
  • ada proses skrining gejala atau kontak dengan individu yang terdiagnosis COVID-19, untuk ditangani khusus,
  • dilakukan pemisahan anak sakit dan sehat, di poliklinik yang berbeda,
  • dilakukan pengaturan jarak selama proses menunggu,
  • disediakan hand sanitizer atau area cuci tangan.

7. Orangtua harus cermat menentukan tempat vaksin

7. Orangtua harus cermat menentukan tempat vaksin
Unsplash/CDC

Selama pandemi Covid-19, ada beberapa hal penting yang perlu orangtua perhatikan saat membawa anak untuk melakukan vaksinasi.

Menurut dr. Caessar, "Lokasi vaksinasi yang lebih kecil tidak menjamin risiko lebih rendah. Yang terpenting, orangtua harus aktif mencari informasi apakah lokasi vaksinasi menerapkan panduan-panduan IDAI tersebut serta penggunaan alat pelindung diri (APD) dan disinfeksi rutin yang sesuai standar."

Selain itu, perlu diingat bahwa penundaan atau tidak diberikannya vaksinasi dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit pada bayi dan anak, seperti difteri, pertusis, hepatitis B, campak, dan lain-lain.

Itulah beberapa informasi mengenai pentingnya vaksinasi bagi anak yang perlu Mama ketahui. Semoga dapat bermanfaat ya, Ma. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.