5 Alasan Mengapa MPASI Bahan Lokal Lebih Baik

MPASI bahan lokal punya sejumlah kelebihan yang jarang disadari

31 Maret 2021

5 Alasan Mengapa MPASI Bahan Lokal Lebih Baik
Pexels/Andrea Piacquadio

Siapa yang selama ini berpikir MPASI dengan bahan impor lebih baik? Mulai dari butter buatan negara tetangga, aneka MPASI instan merek internasional, sayuran yang jarang tumbuh di Indonesia seperti kabocha dan zucchini, hingga ikan salmon.

Jika Mama tinggal di kota besar dan memang ada budget untuk itu, membeli bahan impor tersebut bukan masalah. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Mama yang tinggal di daerah lain. 

Itulah mengapa IDAI dan WHO merekomendasikan pemberian MPASI bahan lokal. Sayangnya, bahan pangan lokal kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat. 

Padahal, MPASI bahan lokal punya sejumlah kelebihan, seperti dirangkum Popmama.comberikut ini dari berbagai sumber.

1. Mudah diperoleh dari pasar terdekat

1. Mudah diperoleh dari pasar terdekat
Freepik/pvproductions

Pernahkah Mama berpikir betapa panjang rantai distribusi makanan impor untuk sampai ke dapur rumah kita? 

Bahan pangan impor bisa jadi butuh waktu berminggu-minggu untuk tiba di Indonesia. Namun, tidak semua pasar atau supermarket menyediakan makanan tersebut. 

Sebaliknya, bahan pangan lokal mudah diperoleh di pasar terdekat. Bahkan, tukang sayur langganan mama pasti punya semua bahan tersebut, seperti ikan laut atau ikan air tawar, sayuran dan buah-buahan segar, tahu tempe, serta ayam dan daging.

Di mana pun Mama tinggal, semua bahan pangan tersebut cukup mudah dijumpai. Plus, pasti mudah diolah sesuai dengan kebiasaan dan menu harian keluarga di rumah.

Editors' Picks

2. Harga relatif murah

2. Harga relatif murah
Pexels/meru-bi

Konsekuensi dari bahan pangan lokal yang mudah diperoleh adalah harga yang relatif murah. Ya, dibandingkan bahan pangan impor, perbedaan harganya bisa jauh sekali, Ma.

Sebagai contoh, kabocha atau labu kuning Jepang per 500 gram sekitar Rp27.000, sedangkan labu parang dengan berat sama dijual separuhnya saja, sekitar Rp13.000. 

Kandungan gizi kedua jenis labu itu pun mirip-mirip sehingga bisa saling menggantikan satu sama lain.

3. Kondisi bahan dalam keadaan segar

3. Kondisi bahan dalam keadaan segar
Freepik

Masih berkaitan dengan panjang pendeknya rantai distribusi makanan, bahan pangan lokal tiba lebih ‘cepat’ dibandingkan bahan impor. Otomatis, Mama bisa memperoleh bahan makanan tersebut dalam keadaan segar.

Misalnya, seberapa sering Mama mendapati ikan salmon segar di Indonesia? Rasanya sulit ya, Ma, karena kebanyakan sudah dalam kondisi beku. 

Makanan beku atau frozen bukan berarti tidak baik. Namun, jika Mama bisa mendapatkan bahan makanan segar untuk diolah, mengapa tidak?

4. Kandungan gizi yang lebih baik

4. Kandungan gizi lebih baik
Pixabay/cgowson1

Semakin segar suatu bahan pangan, semakin lezat cita rasanya dan semakin kaya pula gizinya. Perlu Mama tahu, nilai gizi suatu bahan pangan bakal menurun sejak dipanen hingga sampai di piring kita.

Bukan tidak mungkin, buah dan sayur impor dipanen lebih dini agar ‘matang’ dalam perjalanan. Namun, cita rasanya tentu tidak akan selezat jika dibiarkan matang secara alami dan benar-benar dipanen saat sudah siap.

Meskipun begitu, tanpa memandang proses distribusi makanan, beberapa bahan pangan lokal punya kandungan gizi yang lebih baik daripada pangan impor.

Misalnya, ikan salmon dan ikan kembung. Kandungan omega 3 dalam ikan salmon hanya 1,4 gram, sedangkan dalam ikan kembung mencapai 2,6 gram. Begitu pula dengan kandungan protein dan zat besi dalam ikan kembung.

5. Membiasakan anak dengan kuliner lokal

5. Membiasakan anak kuliner lokal
Freepik/bearfotos

Ternyata memberikan MPASI bahan pangan lokal akan membantu anak terbiasa dengan kekayaan kuliner. 

Sederhananya begini, Mama terbiasa menyantap ayam goreng kuning dan tumis tempe yang kaya rempah, apa iya si Kecil hanya akan makan ayam goreng crispy terus menerus? 

Memperkenalkan variasi menu lokal juga akan mempermudah anak melalui masa transisi menuju hidangan keluarga. Maka, menyajikan MPASI sebetulnya sederhana, Mama bisa memasak apa saja masakan keluarga sehari-hari dan memberikannya pada bayi. Tinggal atur kadar gula dan garam berikut tekstur sesuai kesiapan makan si Kecil.

Demikian lima alasan mengapa MPASI bahan pangan lokal lebih unggul daripada bahan pangan impor. Yuk, kita biasakan anak menyantap makanan bergizi, sehat, dan terjangkau sesuai hidangan keluarga di rumah!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.