Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Diare pada Bayi

Jika tidak segera diobati, diare menyebabkan risiko kematian pada bayi, lho!

8 Mei 2020

Ini Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi Diare Bayi
Pixabay/Joffi

Salah satu penyakit yang seringkali dialami oleh bayi dan balita adalah diare. Pada umumnya, penyakit ini disebabkan oleh virus (rotavirus), infeksi bakteri, dan parasit yang menyerang saluran pencernaan. Diare ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar, tinja terlihat lebih encer, dan dalam kasus diare yang parah bahkan tinja berwarna hitam hingga terdapat bercak darah.

Penyakit ini akan membuat anak kehilangan cairan tubuh secara drastis, yang menyebabkan risiko terjadinya dehidrasi. Sebab, pada saat yang bersamaan usus tidak mampu menyerap cairan dan elektrolit yang diberikan. Sehingga cairan tubuh yang hilang tidak cepat tergantikan.

Kondisi inilah yang menyebabkan anak terlihat lemah, bibir kering, rewel, dan diiringi dengan demam akibat kurang cairan. Diare bahkan bisa menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani.

Di bawah ini Popmama.com rangkum penyebab, gejala, dan cara mengatasi diare pada bayi.

Penyebab Diare

Penyebab Diare
Pixabay/PublicDomainPictures

Diare disebabkan adanya infeksi virus, bakteri atau parasit pada saluran cerna. Pada bayi, sebagian besar kasus diare diakibatkan kontaminasi kuman dan bakteri yang masuk melalui mainan atau benda-benda yang dimasukkan bayi ke dalam mulutnya.

Selain itu, diare juga bisa disebabkan oleh keracunan makanan atau alergi terhadap jenis makanan atau obat tertentu.

Editors' Picks

Gejala Diare pada Bayi

Gejala Diare Bayi
c2.staticflickr

Sangat mudah untuk mendeteksi bayi yang terkena diare. Jika bayi terlihat lebih sering BAB, minimal 5 kali dalam sehari serta tekstur feses yang cair menyerupai air dan berbau tajam, tandanya bayi mama sedang diare. 

Diare juga menyebabkan anak terlihat lesu dan rewel. Bagian bawah mata anak terlihat lebih cekung serta bibir kering.

Untuk mendeteksi apakah anak mengalami dehidrasi, Mama bisa mencubit pelan bagian perut bayi. Pada kondisi normal, kulit pada area yang dicubit akan segera kembali. Namun, Mama harus waspada ketika kulit perut bayi tidak cepat kembali setelah dicubit.

Segera periksakan ke dokter apabila bayi semakin sering BAB, terlihat lesu dan haus, sangat rewel, serta menolak minum. 

Cara Mengatasi Diare

Cara Mengatasi Diare
Pixabay/tung256

Efek terburuk dari diare adalah dehidrasi. Maka untuk mencegah terjadinya dehidrasi, pastikan bayi mendapat asupan cairan yang cukup. Jika bayi masih minum ASI, maka tingkatkan intensitas menyusui. Sedangkan pada bayi yang minum susu formula, sebaiknya turunkan tingkat kekentalan susu atau ganti dengan susu bebas laktosa sementara waktu. Hal ini bertujuan untuk meringankan kerja usus sehingga diare tidak semakin parah.

Mama juga disarankan untuk memberikan oralit, berupa campuran garam, gula, dan air untuk menggantikan cairan tubuh serta elektrolit yang hilang. Saat ini sudah banyak cairan oralit yang bisa Mama dapatkan di apotek, sehingga lebih praktis dan rasanya pun lebih enak.

Jika bayi sudah mulai MPASI, sebaiknya hindari memberikan makanan tinggi serat seperti sayur, buah-buahan, keju dan daging. Tidak masalah jika pada saat ini Mama harus menurunkan tekstur makanan bayi agar lebih mudah dicerna. Mama bisa memberikan pisang, saus apel, bubur, dan cereal guna memadatkan feses sehingga diare pun lebih cepat berhenti.

Pencegahan Diare

Pencegahan Diare
Unsplash/Minato-ku

Mayoritas kasus diare yang terjadi pada bayi dan balita disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri yang masuk melalui mulutnya. Oleh sebab itu sangat penting untuk menjaga kebersihan.

Lakukan ini untuk mencegah diare pada anak.

  • Cuci bersih seluruh mainan atau peralatan makan yang sering disentuh oleh bayi. Jika bayi minum ASI perah atau susu formula, maka pastikan kebersihkan botol susu serta tempat penyimpanannya.
  • Jangan lupa mencuci tangan bayi setelah beraktivitas. Hal ini juga berlaku pada siapapun yang hendak menggendong si kecil, termasuk Mama ya.
  • Bersihkan lantai dari debu dan kotoran jika bayi sudah memasuki tahap merangkak atau sering bermain di atas lantai.
  • Perhatikan makanan yang akan diberikan kepada si Kecil. Pastikan Mama sudah mencuci bersih bahan makanan serta peralatan memasak demi menghindari infeksi kuman pada bayi.
  • Berikan vaksin Rotavirus pada bayi berusia kurang dari 6 bulan. Pemberian vaksin ini bertujuan agar kondisi bayi tidak terlalu parah saat terserang diare. Namun sayangnya, vaksin ini sudah tidak dapat ‘bekerja’ jika diberikan pada bayi diatas enam bulan.  

Diare sebenarnya bukanlah penyakit kronis yang membutuhkan obat-obatan serta perawatan intensif di rumah sakit. Mama pun bisa merawat si Kecil di rumah, asalkan kondisi diare yang dialami bayi masih tergolong ringan. Mama hanya perlu memastikan bayi cukup mendapat asupan cairan dan makanan untuk menghindari terjadinya dehidrasi.

Sedangkan pada kasus diare berat, sebaiknya segera periksakan si Kecil ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.