Kenali Fimosis yang Bisa Terjadi pada Bayi

Mama juga harus mulai mengetahui gejala dan cara menangani fimosis

14 Desember 2019

Kenali Fimosis Bisa Terjadi Bayi
Unsplash/Picsea

Sudah pernah mendengar fimosis belum nih, Ma?

Untuk Mama yang memiliki anak laki-laki, informasi mengenai fimosis perlu diperkaya lagi. Fimosis adalah kelainan pada alat kelamin pada laki-laki. Adanya perlekatan antara bagian kulit kulup dengan kepala penis, sehingga lubang penis akan tertutup. Penyempitan pada ujung kulit depan penis ini tentunya akan menyiksa dan mengganggu kesehatan si Kecil. 

Untuk Mama yang ingin mengenal fimosis mulai dari gejala hingga penanganan terbaik, berikut rangkuman dari Popmama.com.

Yuk Ma, dibaca!

1. Fimosis bisa terjadi pada bayi 

1. Fimosis bisa terjadi bayi 
Unsplash/Michal Bar Haim

Fimosis bisa terjadi pada laki-laki dengan segala jenis usia. Bahkan setiap bayi laki-laki yang dilahirkan punya kecenderungan fimosis. 

Kondisi fimosis yang terjadi pada bayi dikarenakan kelainan bawaan sejak lahir. Namun, bisa juga terjadi akibat kebersihan penis yang tidak terjaga dengan baik. Jika Mama perhatikan fimosis akan menjadi gangguan serius karena akan timbul gejala kemerahan, peradangan pada kepala penis hingga demam akibat masalah saluran kemih. 

Umumnya fimosis pada bayi akan kembali normal saat usianya sudah 2 tahun. Namun, jika kulup si Kecil saat sudah berusia 2 tahun belum kembali normal sebaiknya Mama harus segera memeriksakan ke dokter anak. 

Editors' Picks

2. Gejala fimosis yang harus diperhatikan orangtua

2. Gejala fimosis harus diperhatikan orangtua
Unsplash/Kelly Sikkema

Setiap penyakit tentu ada gejala atau tanda-tanda yang bisa terlihat, begitu pun dengan fimosis. Tanda-tanda fimosis pada usia si Bayi juga bisa terlihat, asalkan Mama peka. Beberapa tanda dari fimosis yang harus Mama kenali dan tidak boleh diabaikan begitu saja, seperti: 

  • Kulup tidak bisa ditarik ke bagian belakang, sehingga kepala penis tidak terlihat. Jika ini terlihat oleh Mama saat memandikan si Kecil, ada kemungkinan dirinya yang mengalami fimosis. Ujung penis si Kecil juga terlihat menyempit, perlu Mama ingat kalau kulup seharusnya bersifat elastis. 
  • Saat si Kecil ingin pipis, kepala penis akan menggelembung karena urine tertahan di kulit. Saat gelembungnya sudah cukup tinggi, maka urine akan baru keluar. Pada kondisi ini, Mama bisa melihat ada bocoran air dari kulit penis. Urine pun semakin lama kurang lancar keluar. 
  • Biasanya urine akan tersisa di balik kulit penis. Perhatikan selalu kebersihan dan kondisi kulit penis si Kecil ya, Ma. Jika urine terus tersisa, lama-kelamaan sisa urine dan kotoran lainnya akan tertimbun dan memicu pertumbuhan bakteri pada penis. 
  • Penis si Kecil mengalami bengkak. Pembengkakan penis yang terjadi padanya ini pasti akan disertai dengan rasa nyeri dan mengalami peradangan (balanitis).
  • Si Kecil akan mulai mengalami demam. Hal ini dikarenakan terjadinya infeksi pada saluran kemih akibat pertumbuhan bakteri. Infeksi terjadi pada sekitar kulit, bagian kepala penis hingga saluran kemih. Inilah yang menyebabkan si Kecil mengalami demam.
  • Tidak ada nafsu makan atau minum susu. Efek dari demam yang terjadi pada si Kecil ini berdampak pada kondisi nafsu makan dan menurunkan konsumsi minum susu. Ini terjadi karena dirinya merasa kurang nyaman ditambah lagi dengan kondisi tubuh yang demam.  

Baca juga: Jenis-Jenis Penyakit Kuning Pada Bayi yang Perlu Mama Pahami

Baca juga: Fimosis Pada Anak Balita, Bahayakah?

3. Bentuk penanganan fimosis pada bayi

3. Bentuk penanganan fimosis bayi
Pixabay/regina_zulauf

Banyak yang beranggapan jika fimosis pada bayi tidak perlu dikhawatirkan. Namun, Mama tidak boleh menyepelekan kondisi ini karena bisa membahayakan. 

Jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik, kondisi fimosis akan menetap hingga si Kecil bertambahnya umur. Dalam pertumbuhannya, hal ini bisa menimbulkan beberapa gangguan misalnya kesulitan untuk buang air kecil. 

Tak hanya itu, fimosis yang berkepanjangan dapat memicu berbagai risiko lain. Si Kecil akan mengalami rasa nyeri, iritasi bahkan akan sulit berhubungan seksual saat dirinya dewasa. Maka dari itu, fimosis yang terjadi saat usia bayi harus diatasi sejak dini sebelum semuanya terlambat. 

Saat menangani fimosis, hindari menari secara paksa terhadap pelekatan antara kulup dengan kepala penis. Tindakan seperti ini akan berisiko menyebabkan luka pada kulit kulup si Kecil. Dalam merawat dan menangani fimosis, Mama perlu melakukan beberapa tindakan agar kondisi ini tidak semakin parah di antaranya:

  • Tidak terlalu sering menggunakan diapers. Pemakaian diapers yang terlalu lama dalam durasi seharian akan memicu si Kecil terkena infeksi pada kulit kelamin. Kebiasaan ini tentu meningkatkan risiko dirinya terkena fimosis. Mama sebaiknya bisa memberikan jeda tanpa menggunakan diapers setidaknya 15 menit per hari. Ini berguna agar kulit si Kecil bisa dibiarkan untuk bernapas. 
  • Menjaga kebersihan area genital bayi. Perlu Mama ingat kalau kebersihan tentu akan meminimalisir risiko terkena penyakit, begitu pun dengan fimosis. Mama perlu membersihkan penis si Kecil setiap hari dengan air hangat saat sedang mandi. Saat dirinya buang air kecil, Mama perlu menggunakan kasa untuk mengusap kotoran atau urine hingga bersih. Kemudian bilas dengan air hangat untuk strerilisasi. Bersihkan juga secara keseluruhan dari area penis hingga selangkangan, lalu keringkan hingga benar-benar kering sebelum si Kecil menggunakan popok.  
  • Memberi krim kortikosteroid. Atas anjuran dokter dan sudah berkonsultasi, Mama bisa mengoleskan krim kortikosteroid pada ujung kulit kulup pada kepala penis. Lakukan ini 3 kali sehari selama kurun waktu 1 bulan karena ini berguna dalam membantu mengendurkan kulit kulup. 
  • Melakukan sunat (sirkumsisi). Sirkumsisi atau yang lebih dikenal dengan istilah sunat menjadi salah satu cara paling dianjurkan untuk mengatasi fimosis. Saat disunat, kulit kulup yang menutupi kepala penis akan dipotong sehingga saluran kencing bisa kembali terbuka. Namun, Mama perlu melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Dari konsultasi, Mama tentu akan mendapatkan saran dan penanganan yang tepat. 
  • Hindari menggunakan bedak dan sabun yang mengandung pewangi. Mama harus kembali memerhatikan setiap produk yang akan diberikan ke si Kecil, jangan sampai produk yag digunakan justru semakin memperparah kondisi fimosis. Penggunaan bedak atau sabun yang mengandung pewangi bisa menyebabkan iritasi. 

Beberapa bentuk penanganan fimosis di atas bisa Mama terapkan ke si Kecil. Semoga informasi dari Popmama.com mengenai fimosis pada bayi bisa berguna ya, Ma. 

Baca juga: Seorang pria kena kanker karena bedak bayi

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!