hanco

Kapankah Bayi Boleh Mulai Mengonsumsi Makanan Mengandung Cokelat?

Di balik rasanya yang nikmat dan bikin nagih, apakah bayi boleh mengonsumsinya?

16 Juni 2019

Kapankah Bayi Boleh Mulai Mengonsumsi Makanan Mengandung Cokelat
kaegi.com

Cokelat. Ya, hampir semua orang, baik anak maupun orang dewasa menyukai makanan yang berasal dari biji kakao ini. Paduan rasa sedikit pahit dengan gurihnya susu dan manisnya gula serta berbagai isian pelengkapnya, membuat makanan yang satu ini jadi idola, khususnya bagi anak-anak.

Namun, di balik kepopuleran kenikmatan rasanya, banyak orangtua yang masih ragu kapan saat yang tepat untuk memberikan cokelat pada si Kecil. Apalagi jika ini berkaitan dengan dampak kesehatan dan efek alergi yang mungkin saja terjadi. Lantas, bolehkah bayi di bawah 1 tahun makan cokelat?
 

Kandungan Zat pada Cokelat Tak Cocok untuk Bayi

Kandungan Zat Cokelat Tak Cocok Bayi
Wavebreakmedia / Freepik

Sebelum memutuskan memberikan cokelat pada si Kecil, ada baiknya Mama tahu bahwa camilan yang memiliki tekstur lumer di lidah ini mengandung sedikit kafein. Kafein merupakan sejenis stimulan yang dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung.

Selain itu, cokelat juga mengandung stimulan lain seperti gula, theobromine, dan phenylethylamine yang dapat menyebabkan efek stimulasi dalam sistem saraf bayi. Kandungan anandamide-nya juga dapat mempengaruhi sistem kerja pada otak anak.

Editors' Picks

Dampak Konsumsi Cokelat pada Bayi di Bawah Usia 1 Tahun

Dampak Konsumsi Cokelat Bayi Bawah Usia 1 Tahun
yimg.com

Cokelat merupakan salah satu bahan makanan yang berpotensi mencetuskan alergi pada sebagian orang. Khususnya pada mereka yang memiliki alergi gluten dan celiac disease. 

Selain itu, pemberian cokelat pada bayi di bawah 1 tahun juga dapat menimbulkan risiko kesehatan, antara lain:

Gangguan pencernaan

Tidaklah tepat memberikan cokelat pada bayi di bawah 1 tahun apalagi di bawah usia 6 bulan. Sebab, di masa itu sistem pencernaanya tidak dikondisikan untuk memproses cokelat dan makanan padat lainnya yang akan berpengaruh pada sistem pencernaannya. 

Kerusakan gigi

Kandungan gula pada cokelat sangat rentan bagi pertumbuhan dan kesehatan gigi bayi. Sebab, gula dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri penghasil asam yang dapat menyebabkan kesehatan gigi yang buruk.

Bahaya tersedak

Cokelat yang mengandung kacang atau bahan makanan bisa menimbulkan bahaya tersedak untuk bayi. Jadi, demi keselamatan bayi, sebaiknya hindari pemberian makanan ini hingga saatnya bayi dapat mengunyah dengan baik. 

Sebenarnya jika dikonsumsi secara tepat, cokelat dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dan mengurangi risiko kerusakan sel. Namun, di usia pertumbuhannya, sebaiknya berikan dalam porsi secukupnya saja dan perkenalkan jenis makanan sehat lainnya pada anak

Kapan Saat yang Tepat Memperkenalkan Cokelat pada Anak?

Kapan Saat Tepat Memperkenalkan Cokelat Anak
Pexels/freestocks.org

Jika Mama tak yakin pada usia berapa si Kecil diperbolehkan makan cokelat, cobalah bersabar menunggu setidaknya hingga ia berusia satu tahun. Namun, sebelum memberikan cokelat pada anak, pastikan tidak ada kandungan alergen potensial misalnya seperti kacang tanah, susu, buah beri, kedelai, jagung, gluten dan gandum yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi alergi yang dapat membahayakan kesehatannya.

Dilansir dari parenting.firstcry.com, sebenarnya tidak ada pedoman khusus tentang bagaimana cara memperkenalkan cokelat pada si Kecil. Sebaiknya anak mulai diperkenalkan tentang rasa setelah ia berusia satu tahun dan dapat ditingkatkan jumlahnya sedikit demi sedikit.

Waspadalah jika setelah pemberian cokelat timbul beberapa gejala alergi pada anak, seperti ruam atau gatal, kesulitan bernapas, bersin terus-menerus, pembengkakan tenggorokan dan lidah, diare atau muntah. Hentikan pemberian cokelat dan jangan tunda lagi untuk mengajak si Kecil ke dokter agar segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!