Tetap Sehat hingga Dewasa, Ini 5 Tips Cegah Bayi Obesitas Sejak Dini

Bayi gemuk memang menggemaskan, tapi kalau jadinya berpenyakit ... Wah, bahaya tuh, Ma

26 Oktober 2020

Tetap Sehat hingga Dewasa, Ini 5 Tips Cegah Bayi Obesitas Sejak Dini
Pixabay/angel4leon

Para ahli kesehatan sepakat, tiga tahun pertama kehidupan anak sangatlah krusial. Terutama dari segi tumbuh-kembangnya. Di masa-masa keemasan ini, penting bagi orangtua untuk membentuk berbagai kebiasaan yang baik untuk bekal anak di masa depan. Termasuk membentuk kebiasaan makan yang sehat.

Bayi dan anak-anak yang gemuk seringkali dikaitkan dengan sosok yang sehat dan menggemaskan. Padahal, jika berlebihan, justru dapat menjadi bumerang di kemudian hari. Risiko kelebihan berat badan hingga obesitas yang membawa berbagai penyakit berbahaya pun mengintai sejak dini. 

Lalu, bagaimana caranya membentuk kebiasaan makan yang sehat sejak dini agar nantinya anak tumbuh dengan berat badan yang ideal? Berikut Popmama.com merangkum tips mencegah bayi obesitas sejak dini, dilansir dari Ask Dr. Sears:

1. Minum ASI

1. Minum ASI
Unsplash/Hollie Santos

Para ahli kesehatan meyakini bahwa bayi yang minum susu formula cenderung lebih mudah menjadi kegemukan ketimbang mereka yang minum ASI. Dengan menyusui, secara tidak langsung bayi belajar mengendalikan nafsu makannya berdasarkan sinyal dari tubuhnya sendiri. Ia belajar tentang seberapa banyak yang ia makan dan seberapa sering ia makan, didukung dengan ibu yang responsif. 

Sementara itu, bayi yang minum susu formula tidak dapat mengontrol sendiri susu formula yang menjadi makannya. Sang Mama harus menghitung takaran susunya sesuai dengan petunjuk kemasan dan menerapkan jam-jam makan yang pasti. Sementara ibu yang menyusui lebih cenderung memberi makan bayinya berdasarkan isyarat lapar yang ditunjukkan bayi. 

Selain itu, kandungan kalori dalam ASI bervariasi, tergantung dengan kebutuhan bayi tiap kali disusui. Pada awal menyusui, ketika bayi sangat lapar, ia mendapat banyak foremilk yang kaya protein dan karbohidrat, tapi rendah kalori. Jika bayi sangat lapar, ia terus mengisap dan kadar lemak dalam ASI akan meningkat (hindmilk). Tubuh mama seolah terkoneksi dan memberitahu bayi bahwa inilah saatnya memperlambat makannya karena perutnya sudah penuh.

Editors' Picks

2. Jangan terlalu cepat memulai MPASI

2. Jangan terlalu cepat memulai MPASI
Freepik/Cookie-studio

Kebanyakan orangtua merasa sang Bayi sudah kelaparan sehingga ingin segera memberikannya MPASI, bahkan sebelum usia enam bulan. Padahal, dengan memulai MPASI di usia yang tepat, dapat meminimalisir risiko bayi kelebihan berat badan. Terutama pada bayi yang terlihat gemuk atau memiliki orangtua dengan genetik gemuk. 

Saat ia mulai makan makanan padat, mulailah dengan makanan yang padat nutrisi tetapi dengan kalori yang sedikit. Seperti sayur-sayuran, ketimbang buah-buahan dan biji-bijian. Secara perlahan, barulah menambahkan buah-buahan dan biji-bijan ke dalam makanannya.

3. Hindari mengasumsikan bayi menangis selalu karena lapar

3. Hindari mengasumsikan bayi menangis selalu karena lapar
Shutterstock/goodluz

Banyak orangtua baru menafsirkan setiap tangisan bayi sebagai isyarat lapar. Tetapi, bisa jadi bayi mama merasa kesepian, tidak nyaman karena udara, atau sekadar ingin digendong. Terutama bagi bayi yang minum susu formula.

Sebelum Mama memberikan susu kepadanya, cobalah tenangkan si Kecil terlebih dahulu dengan menggendong atau bermain dengannya. Jika ia tidak juga tenang, cobalah beri sedikit minum untuk mengecek apakah ia benar-benar lapar.

4. Hindari memberi jus pada bayi

4. Hindari memberi jus bayi
dermaclara.com

Jangan berikan jus buah pada bayi di bawah usia satu tahun. Jus bukanlah makanan yang padat nutrisi. Jus buah kemasan apalagi. Jus buah kemasan mengandung kalori yang hampir sama banyaknya dengan volume susu formula yang sama, tetapi gizinya kurang dan tidak mengenyangkan. 

Bayi cenderung mengonsumsi jus dalam jumlah yang jauh lebih banyak ketimbang ASI atau susu formula tanpa merasa kenyang. Akibatnya, kebiasaan ini turut berkontribusi terhadap obesitas pada bayi. 

5. Tak perlu memaksanya menghabiskan makanan

5. Tak perlu memaksa menghabiskan makanan
Freepik

Tahukah Mama, perut bayi ukurannya hanya sebesar kepalan tangannya. Menyusu dalam jumlah kecil tetapi sering secara fisiologis lebih tepat, daripada pemberian makanan yang banyak tetapi jarang. Pola ini menyerupai pola pemberian ASI eksklusif.

Tak perlu memaksa bayi menghabiskan makannya, apalagi jika ia menyusu susu formula dari botol. Bandingkan isi botol dengan kepalan tangannya. Dengan mengetahui takaran ini, sebetulnya si Kecil sudah cukup kenyang kok hanya dengan makanan yang bagi kita tampak sedikit. 

Selama tahun pertama, bayi makan banyak karena tumbuh-kembang mereka sangat pesat. Tak heran jika berat badan mereka berlipatganda dari berat lahir ketika menginjak usia satu tahun. Tetapi, saat memasuki usia balita, berat badannya mungkin hanya bertambah sepertiga dari berat badannya di usia satu tahun dan dua tahun. 

Banyak balita tumbuh secara proporsional karena mereka mulai aktif sehingga kalori yang terbakar pun cukup banyak. Itulah mengapa banyak balita yang dulunya gemuk, berangsur-angsur tampak lebih kurus. Hal ini normal dan dialami sebagian besar balita sehingga Mama tak perlu terobsesi dengan pola makannya. 

Kebiasaan makan yang dibangun sejak kecil akan menjadi norma dalam kehidupannya. Secara alamiah, bayi akan menyadari apa itu makan dan memahami inilah yang seharusnya dirasakan oleh tubuh ketika lapar atau kenyang. 

Semoga informasi di atas mengenai cara mencegah bayi obesitas sejak dini bermanfaat ya, Ma.

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.