Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Dessy Ilsanti M. Psi. dalam acara Motherverse
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Intinya sih...

  • Emotional depletion adalah kondisi kelelahan emosi yang banyak dialami Mama akibat rutinitas memberi tanpa jeda pemulihan

  • Kondisi ini sering tidak disadari karena Mama tetap berfungsi menjalani peran, meski energi emosionalnya terus terkuras

  • Dengan memenuhi kebutuhan diri dan meluangkan me time berkualitas, Mama dapat mengisi ulang energi emosional agar kembali seimbang

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bangun pagi, siapkan sarapan anak, antar sekolah, berangkat kerja, lalu pulang masak lagi, begitu seterusnya sampai Mama merasa menjalani hidup seperti robot.

Kondisi ini ternyata dialami banyak Mama dan menjadi perhatian Motherverse yang menyelenggarakan acara gathering bertema "Time to Reset and Recharge, A Journey Back to Yourself" pada Minggu (8/2/2026).

Acara ini menghadirkan Dessy Iisanti M.Psi., psikolog klinis untuk membahas fenomena emotional depletion. Dessy menjelaskan bahwa emotional depletion adalah kondisi ketika energi emosional Mama terkuras habis karena terus memberi tanpa diisi ulang.

Berikut Popmama.com rangkum 5 tanda emotional depletion dan cara mengatasinya yang dibagikan di acara Motherverse.

1. 5 tanda emotional depletion pada Mama

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Emotional depletion adalah kondisi yang sering terjadi pada Mama tanpa disadari. Menurut Dessy, ada lima tanda utama yang perlu Mama waspadai, yaitu:

  • Mama menjadi mudah marah atau tersinggung tanpa alasan yang jelas. Hal ini terjadi karena emosi sudah terlalu penuh dan tidak ada ruang lagi untuk menampung perasaan baru.

  • Mama merasa mati rasa dan menjalani rutinitas seperti robot atau dalam mode autopilot. Mama bangun pagi, siapkan sarapan anak, antar ke sekolah, bekerja, semua dilakukan tanpa perasaan apapun.

  • Mama merasa hampa dan kosong meskipun sudah menjalankan semua peran dengan baik.

  • Mama mengalami kesulitan tidur atau merasa lelah berkepanjangan meskipun sudah beristirahat.

  • Mama kehilangan spark atau semangat hidup dan merasa tidak ada yang bermakna lagi.

Jika Mama mengalami tanda-tanda ini, penting untuk segera mengenali dan mengatasinya sebelum kondisi memburuk.

2. Perbedaan burnout dan emotional depletion

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Banyak Mama yang sering salah mengartikan kondisi yang dialami. Dessy menjelaskan perbedaan antara burnout dan emotional depletion agar Mama bisa lebih memahami apa yang sedang terjadi.

Burnout adalah kondisi kelelahan berkepanjangan yang terjadi akibat peran yang terlalu lama menuntut tanpa adanya pemulihan. Burnout bisa terjadi di kantor maupun di rumah ketika Mama terus bekerja tanpa istirahat yang cukup.

Sementara itu, emotional depletion terjadi ketika energi emosi Mama habis, seperti baterai handphone yang rusak karena terus dipakai tanpa di-charge. Mama masih bisa berfungsi, tetapi sudah tidak optimal lagi.

Dessy menekankan bahwa keduanya, baik burnout dan emotional depletion bukan merupakan tanda bahwa iman Mama lemah atau Mama kurang bersyukur. Semua kondisi ini adalah respon wajar dari tubuh dan pikiran yang sudah terlalu lama bekerja keras dan membutuhkan istirahat serta pemulihan.

3. Kebutuhan Mama yang harus dipenuhi

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Dessy menjelaskan bahwa setiap manusia, termasuk Mama, memiliki tiga kebutuhan psikis dasar yang harus dipenuhi agar tidak mengalami emotional depletion.

  • Kebutuhan otonomi, yaitu memiliki kendali atas hidup sendiri seperti menentukan kapan mau makan, tidur, atau beraktivitas. Ketika Mama tidak memiliki kendali ini, Mama akan merasa seperti tahanan yang harus mengikuti aturan orang lain terus-menerus. Hal ini membuat semangat hidup perlahan hilang.

  • Kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang, Mama perlu merasa bahwa diri Mama terus berkembang, dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang bisa menjadi lebih bisa lagi. Ketika Mama merasa tidak bisa tumbuh lagi, Mama akan kehilangan motivasi.

  • Kebutuhan koneksi sosial, Mama adalah makhluk sosial yang butuh bertemu dan terhubung dengan orang lain.

“We cannot give what we don’t have,”tegas Dessy.

Ketika ketiga kebutuhan ini tidak terpenuhi, energi emosional Mama akan terus terkuras seperti handphone yang tidak pernah di-charge hingga akhirnya tidak berfungsi.

4. 4 cara me time berkualitas untuk Mama

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Me time bukan harus selalu tentang liburan jauh atau kegiatan yang mahal. Dessy membagikan empat cara me time berkualitas yang bisa Mama lakukan kapan saja.

  • Teknik pernapasan lima kali. Mama cukup duduk dengan tenang, ambil napas dalam-dalam dan buang perlahan selama beberapa menit saja. Meskipun terdengar sederhana, teknik ini efektif untuk menenangkan pikiran dan mengisi ulang energi emosional Mama.

  • Gratitude journaling, yaitu menulis hal-hal yang Mama syukuri setiap hari. Kegiatan ini membantu Mama lebih aware dengan hal-hal positif yang terjadi di sekitar, meskipun hari terasa berat.

  • Lakukan refleksi diri dengan bertanya pada diri sendiri "Apa yang bermakna hari ini?" atau "Kapan terakhir kali aku merasa hidup menyala dan penuh semangat?" Pertanyaan ini membantu Mama menemukan kembali makna hidup.

  • Praktik here and now, yaitu fokus pada momen saat ini tanpa memikirkan kekhawatiran masa depan atau penyesalan masa lalu.

Me time yang berkualitas adalah tentang melepaskan diri sejenak tanpa rasa bersalah untuk mengisi ulang energi. Oleh karena itu, penting bagi Mama untuk me time karena merawat diri adalah amanah dan bagian dari ibadah.

Apakah Mama pernah mengalami tanda-tanda emotional depletion? Yuk, mulai sisihkan waktu untuk me time berkualitas!

Editorial Team