Informasi dasar yang dibutuhkan untuk bertahan hidup sudah tersimpan dalam gen mereka sejak lahir melalui proses yang disebut memori genetik. Sistem ini bukan sekadar 'program kaku', tetapi preferensi yang fleksibel dan dapat disesuaikan.
Contoh konkret dari memori genetik bisa dilihat pada tukik penyu yang langsung tahu bahwa laut itu berada di arah yang terang dan bergerak, sehingga begitu menetas mereka langsung berlari menuju arah tersebut.
Anak rusa sudah tahu cara berlari dengan pola zigzag untuk menghindari serangan predator meskipun mereka baru pertama kali melihat pemangsa. Anak kambing juga sudah tahu cara mencari dan menemukan puting susu ibu mereka tanpa pernah diajari atau ditunjukkan caranya.
Preferensi awal membantu anak hewan mengarahkan perhatian ke target yang relevan, sementara mekanisme belajar, seperti imprinting, memperkuat ikatan dengan induk atau sumber makanan.
Dengan kombinasi sistem bawaan sejak lahir dan pembelajaran setelah lahir, anak hewan menjadi fleksibel, mampu beradaptasi dengan variasi lingkungan, dan tetap aman dari kesalahan fatal pada masa awal kehidupan yang paling rentan.
Memori genetik berbeda dengan kecerdasan hasil belajar yang membutuhkan latihan berulang kali dan pengalaman langsung. Kemampuan bawaan ini bekerja dengan sangat cepat dan otomatis, tetapi terbatas hanya pada situasi dan kondisi tertentu yang sudah terprogram.
Sementara itu kemampuan yang dipelajari memang lebih lambat untuk dikuasai, tetapi jauh lebih fleksibel dan bisa diterapkan dalam berbagai situasi baru yang tidak terduga.