Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Anak ayam dengan induk
Freepik/ninjason1

Intinya sih...

  • Anak hewan bisa langsung bergerak dan mengambil keputusan penting sejak lahir untuk bertahan hidup

  • Kemampuan ini didukung oleh kombinasi sinyal sensorik, ukuran otak yang matang, memori genetik bawaan, serta fleksibilitas yang memungkinkan mereka belajar dan beradaptasi sejak awal kehidupan

  • Setiap makhluk hidup memiliki strategi tumbuh kembang yang berbeda sesuai kebutuhan dan lingkungannya

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bayi manusia butuh 10 hingga 18 bulan untuk bisa berjalan, sedangkan anak wildebeest hanya butuh 6 menit untuk bisa berdiri dan mengikuti kawanan.

Setelah lahir, mereka bisa langsung bergerak sambil mengambil keputusan penting. Contohnya, memilih arah lari untuk menghindari predator atau menemukan induk. Mereka sudah bertindak cerdas sejak awal kehidupan

Kemampuan ini muncul sebelum mereka belajar atau memiliki pengalaman sama sekali. Faktor di baliknya meliputi evolusi, biologi, dan cara mereka memproses berbagai sinyal sensorik.

Berikut Popmama.com rangkum alasan anak hewan bisa langsung jalan dan bertindak cerdas setelah lahir.

1. Anak hewan bisa langsung bergerak untuk bertahan hidup

Freepik/wirestock

Habitat terbuka seperti padang rumput dan savana tidak menyediakan tempat persembunyian yang aman untuk anak hewan yang baru lahir. Predator seperti singa, serigala, dan hyena sangat tertarik pada bau dan pemandangan proses kelahiran karena itu menandakan adanya mangsa yang mudah.

Kawanan hewan pemakan rumput terus bergerak mencari makanan dan sumber air, mereka tidak bisa menunggu anak hewan yang baru lahir untuk pulih atau belajar berjalan secara perlahan.

Anak hewan yang tertinggal dari kawanan akan menjadi mangsa mudah bagi pemangsa yang selalu mengintai. Seleksi alam selama jutaan tahun telah membentuk kemampuan ini melalui proses evolusi yang ketat.

Hanya anak hewan yang memiliki tubuh kuat dan mampu langsung bangkit serta berlari yang berhasil bertahan hidup hingga dewasa. Anak-anak hewan inilah yang kemudian menurunkan gen kemampuan bertahan hidup kepada generasi berikutnya, sehingga kemampuan ini terus terjaga hingga sekarang.

2. Masa kehamilan panjang menghasilkan anak hewan yang kuat

Freepik/kamchatka

Masa kehamilan yang lebih lama menghasilkan anak hewan yang jauh lebih matang secara fisik saat dilahirkan. Tulang, otot, dan sendi anak hewan sudah berkembang dengan kuat di dalam kandungan sehingga siap menopang berat tubuh mereka begitu lahir.

Otak mereka juga sudah berkembang khususnya di area motorik yang mengontrol gerakan tubuh dan area sensor yang mendeteksi bahaya di sekitar.

Sebagai contoh, kuda memiliki masa kehamilan selama 11 bulan, jerapah selama 15 bulan, dan unta selama 13 bulan. Masa kehamilan yang panjang ini memberikan waktu yang cukup bagi anak hewan untuk berkembang sempurna di dalam kandungan.

Dibandingkan dengan hewan pemangsa seperti singa, harimau, dan serigala yang hanya hamil selama 3 hingga 4 bulan, mereka lahir dalam kondisi lemah dan membutuhkan perawatan intensif.

Perbedaan masa kehamilan ini menentukan apakah anak lahir siap pakai atau butuh rawatan.

3. Ukuran otak saat lahir menentukan kemampuan gerak

Freepik/wirestock

Hewan menjadi dua kelompok besar berdasarkan kondisi saat lahir. Kelompok pertama adalah precocial yaitu hewan yang siap berjalan sejak lahir, dan kelompok kedua adalah altricial yaitu hewan yang lahir lemah dan membutuhkan perawatan.

Perbedaan ini sangat terlihat dari ukuran otak mereka saat lahir dibandingkan dengan ukuran otak saat dewasa.

Manusia memiliki otak yang hanya 25 hingga 29 persen dari ukuran otak dewasa saat lahir, ini adalah persentase paling kecil dibanding primata lain. Simpanse lahir dengan otak 36 hingga 46 persen ukuran dewasa, sedangkan monyet rhesus lahir dengan 48 hingga 68 persen. Bahkan ada hewan seperti beruang yang lahir dengan otak hanya 2 hingga 8 persen ukuran dewasa sehingga sangat bergantung pada induknya.

HHewan precocial memiliki area otak motorik dan sensor yang sudah matang saat lahir sehingga bisa langsung bergerak. Sebaliknya, hewan altricial lahir dengan otak yang masih sangat belum matang dan sistem motoriknya lemah, sehingga membutuhkan perawatan intensif dari induknya untuk bisa bertahan hidup.

Manusia termasuk altricial karena otak dan tubuh bayi baru lahir masih berkembang secara signifikan setelah lahir, sehingga membutuhkan perhatian dan bantuan orang tua untuk bergerak, makan, dan belajar mengenali lingkungannya.

Penelitian dari University College London menunjukkan bahwa otak bayi manusia sebenarnya tidak kurang berkembang dibanding primata lain, tetapi pertumbuhan otak manusia berlanjut jauh lebih lama setelah lahir sehingga mencapai ukuran dan kompleksitas yang jauh lebih besar.

4. Tujuh anak hewan tercepat yang bisa berjalan

Freepik/wirestock

Wildebeest memegang rekor sebagai hewan tercepat yang bisa berdiri, mereka hanya butuh 6 menit setelah lahir untuk bisa berdiri dan beberapa jam kemudian sudah bisa berlari mengikuti kawanan. Impala menempati urutan kedua dengan kemampuan berdiri dan berjalan dalam 10 menit, bahkan dalam 25 menit mereka sudah mencoba berlari meskipun masih terhuyung.

Zebra bisa berdiri dalam 10 hingga 20 menit setelah lahir dan dalam 30 menit sudah bisa berjalan dengan cukup mantap untuk mengikuti induknya. Bison yang merupakan hewan besar bisa berdiri dan berjalan dalam 30 menit, lalu dalam 1 hingga 2 jam sudah mampu berlari mengikuti induk mereka dengan kecepatan penuh.

Jerapah memiliki tantangan khusus karena mereka terjatuh dari ketinggian 1,8 meter saat dilahirkan, namun dalam 30 menit sudah bisa berdiri dan dalam 1 jam bisa berjalan. Unta yang hidup di gurun pasir bisa berjalan dalam 30 menit hingga 1 jam setelah lahir, kemampuan ini penting karena mereka harus bisa berjalan di pasir yang tidak rata.

Kuda bisa berdiri dan berjalan dalam 1 jam setelah lahir, dan dalam 24 jam sudah bisa berlari kencang. Bandingkan semua ini dengan bayi manusia yang baru bisa berjalan di usia 10 hingga 18 bulan, perbedaan yang sangat mencolok.

Namun, kemampuan fisik untuk berdiri dan berlari saja tidak cukup untuk bertahan hidup. Anak hewan juga harus tahu kemana harus lari, siapa yang harus diikuti, dan bahaya apa yang harus dihindari. Di sinilah sistem pengambilan keputusan yang cerdas berperan penting.

5. Anak hewan menggunakan kombinasi banyak sinyal untuk ambil keputusan

Freepik/byrdyak

Contoh paling jelas dari kemampuan bawaan terlihat pada tukik penyu yang baru menetas. Begitu keluar dari pasir, tukik langsung tahu harus merangkak menuju laut yang berjarak puluhan meter dari sarangnya.

Tukik menggunakan kombinasi beberapa sistem navigasi: merangkak ke arah cahaya yang lebih terang dan rendah di cakrawala, menghindari siluet gelap vegetasi, serta berenang melawan arah ombak begitu masuk air.

Mereka bahkan bisa mengatur arah berdasarkan medan magnet bumi sehingga tetap bisa menuju laut lepas meski daratan tidak terlihat.

Kombinasi cahaya, gelombang, dan medan magnet ini membuat tukik lebih akurat dan fleksibel dalam mengambil keputusan.

Semua kemampuan ini didukung oleh memori genetik, sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan sejak lahir tanpa belajar dari induknya.

6. Memori genetik membantu anak hewan tahu apa yang harus dilakukan

Freepik/wirestock

Informasi dasar yang dibutuhkan untuk bertahan hidup sudah tersimpan dalam gen mereka sejak lahir melalui proses yang disebut memori genetik. Sistem ini bukan sekadar 'program kaku', tetapi preferensi yang fleksibel dan dapat disesuaikan.

Contoh konkret dari memori genetik bisa dilihat pada tukik penyu yang langsung tahu bahwa laut itu berada di arah yang terang dan bergerak, sehingga begitu menetas mereka langsung berlari menuju arah tersebut.

Anak rusa sudah tahu cara berlari dengan pola zigzag untuk menghindari serangan predator meskipun mereka baru pertama kali melihat pemangsa. Anak kambing juga sudah tahu cara mencari dan menemukan puting susu ibu mereka tanpa pernah diajari atau ditunjukkan caranya.

Preferensi awal membantu anak hewan mengarahkan perhatian ke target yang relevan, sementara mekanisme belajar, seperti imprinting, memperkuat ikatan dengan induk atau sumber makanan.

Dengan kombinasi sistem bawaan sejak lahir dan pembelajaran setelah lahir, anak hewan menjadi fleksibel, mampu beradaptasi dengan variasi lingkungan, dan tetap aman dari kesalahan fatal pada masa awal kehidupan yang paling rentan.

Memori genetik berbeda dengan kecerdasan hasil belajar yang membutuhkan latihan berulang kali dan pengalaman langsung. Kemampuan bawaan ini bekerja dengan sangat cepat dan otomatis, tetapi terbatas hanya pada situasi dan kondisi tertentu yang sudah terprogram.

Sementara itu kemampuan yang dipelajari memang lebih lambat untuk dikuasai, tetapi jauh lebih fleksibel dan bisa diterapkan dalam berbagai situasi baru yang tidak terduga.

7. Pelajaran dari kemampuan anak hewan untuk manusia

Freepik/rawpixel.com

Intinya, Ma, setiap makhluk hidup memiliki strategi tumbuh kembang yang berbeda sesuai kebutuhan dan lingkungannya.

Anak hewan memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan hidup sejak lahir, berkat sistem bawaan yang canggih dan fleksibel hasil evolusi jutaan tahun.

Mereka bisa langsung bergerak, mengambil keputusan, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kompleks, menggunakan kombinasi berbagai sinyal dari penglihatan, gerakan, suara, hingga medan magnet.

Fleksibilitas ini memastikan mereka tetap aman dan mampu menghadapi tantangan di masa awal kehidupan yang paling rentan. Kemampuan anak hewan sejak lahir menunjukkan betapa alam merancang kehidupan dengan cara yang menakjubkan.

Editorial Team