Penyebab Amenorrhea, Kondisi Haid Tidak Kunjung Datang pada Anak

Ketahui tipe-tipe amenorrhea, cara diagnosis, penanganan dan pencegahannya Ma

14 April 2020

Penyebab Amenorrhea, Kondisi Haid Tidak Kunjung Datang Anak
Pexels/Vanessa Ramirez

Tak hanya perubahan sifat serta perilaku yang lebih dewasa, anak perempuan yang sedang dalam masa pubertas juga akan mengalami perubahan fisik. Ada beberapa area tubuh yang tumbuh mulai menonjol dan ini perlu diberitahu lebih dulu kepada anak.

Mulai dari membesarnya bagian payudara, tumbuhnya rambut halus di sekitar kemaluan hingga terjadinya siklus haid bulanan atau menstruasi. 

Apa itu menstruasi pada anak?

Menstruasi adalah kondisi keluarnya darah melalui vagina selama 3-8 hari. Pendarahan dari vagina ini terjadi karena sel telur dan dinding rahim meluruh ketika proses pembuahan tidak terjadi. Biasanya, menstruasi akan terjadi setiap 28-40 hari atau sebulan sekali.

Menstruasi pada anak adalah kondisi dimulainya siklus haid yang normalnya terjadi setiap bulan.  

Lalu, bagaimana jika anak perempuan mama tidak kunjung menstruasi atau mengalami siklus haid tidak lancar? Apakah kondisi tersebut wajar atau justru berbahaya ya, Ma? 

Dalam istilah medis, kondisi haid yang tidak kunjung datang pada perempuan disebut sebagai amenorrhea.

Seorang perempuan akan dicurigai menderita amenorrhea apabila tidak kunjung haid meski sudah memasuki masa pubertas.

Secara lebih lanjut, berikut Popmama.com jelaskan mengenai amenorrhea pada anak remaja mama.

1. Tipe amenorrhea terbagi dalam dua jenis

1. Tipe amenorrhea terbagi dalam dua jenis
Pexels/Cotton Bro

Mengutip laman medicalnewstoday, terjadinya amenorrhea pada perempuan yang sudah remaja terbagi ke dalam 2 tipe, yaitu tipe primer dan sekunder. 

  • Amenorrhea primer

Amenorrhea primer adalah kondisi mengacu pada kurangnya haid, baik karena haid tidak pernah dimulai atau karena mereka berhenti. Pada amenorrhea primer ini haid tidak terjadi saat masa pubertas.

Meskipun, amenorrhea primer jarang terjadi, tetapi perlu diwaspadai dan jika ditemukan gejala perlu dibawa ke dokter segera. 

  • Amenorrhea sekunder

Amenorrhea sekunder adalah haid dimulai saat masa pubertas, tetapi kemudian berhenti. Berhentinya siklus haid ini akan dianggap normal jika perempuan mengalami kehamilan atau menyusui.

Dokter akan mempertimbangkan amenorrhea sekunder jika seorang perempuan pernah memiliki periode teratur dan kemudian tidak memiliki selama 3-6 bulan.

Pada dua jenis tipe amenorrhea di atas, perempuan yang mengalami akan memiliki gejala lain, seperti:

  • sakit kepala,
  • mual,
  • rambut rontok,
  • perubahan ukuran payudara,
  • adanya cairan susu pada payudara,
  • keputihan pada vagina.

Editors' Picks

2. Penyebab amenorrhea pada perempuan

2. Penyebab amenorrhea perempuan
Pexels/Andrea Piacquadio

Penyebab terjadinya amenorrhea pada perempuan bermacam-macam dan bergantung pada tipenya, yaitu:

  • Amenorrhea primer

Penyebab umum amenore primer adalah riwayat keluarga mengalami haid yang tertunda. Namun, terkadang ada masalah genetik.

Kondisi genetik yang dapat menghentikan ovarium bekerja dengan baik, yaitu adanya turner androgen insensitivity syndrome yang mengarah ke tingkat testosteron yang tinggi, cacat mullerian atau malformasi organ reproduksi, dan kondisi rahim dan saluran tuba yang tidak terbentuk sebagaimana mestinya.

Kondisi genetik tersebut bisa dipengaruhi oleh masalah struktural yang berkaitan dengan alat kelamin sejak lahir.

Terkadang, rahim dan saluran tuba perempuan dapat hilang atau terjadi masalah fusi, di mana tabung rahim tidak menyatu dengan benar.

Sedangkan dalam agenesis Mullerian atau sindrom Mayer-Rokitansky-KusterHauser (MRKH), ovarium, payudara, dan klitoris terbentuk dengan benar, tetapi tidak ada lubang vagina, dan serviks dan uterus mungkin tidak terbentuk dengan baik.

Adanya kondisi yang tidak normal tersebut membuat organ reproduksi perempuan tidak berjalan dengan baik sehingga haid dapat terjadi. 

  • Amenorrhea sekunder

Pada amenorrhea sekunder, tidak terjadinya haid dapat disebabkan oleh gangguan ginekologis, penyakit serius, dan stres fisik yang menyebabkan indeks massa tubuh (BMI) yang sangat rendah. 

Penurunan berat badan yang serius ini dapat disebabkan oleh penyakit fisik atau gangguan makan.

Selain itu, olahraga yang dilakukan dengan keras dan berlebihan juga dapat menyebabkan amenorrhea sekunder. Hal ini biasa terjadi pada perempuan dengan profesi sebagai pelari jarak jauh yang kompetitif atau penari balet profesional.

Pergolakan emosional yang hebat atau stres yang ekstrem juga dapat menyebabkan siklus haid berhenti.

Bahkan beberapa obat, seperti kontrasepsi khusus progesteron dan sejumlah obat psikiatris dapat menyebabkan haid berhenti.

Obat lain yang bisa memengaruhi haid selanjutnya, yaitu antipsikotik, kemoterapi kanker, antidepresan, obat tekanan darah dan obat alergi.

Kondisi kesehatan jangka panjang perempuan pun bisa menjadi penyebab amenorrhea sekunder ini.

Beberapa penyakit jangka panjang yang disebabkan oleh kondisi amenorrhea sekunder adalah sindrom ovarium polikistik (PCOS), kegagalan ovarium prematur, masalah hipofisis thalamik.

Tak hanya itu, kondisi hipofisis atau tiroid yang kurang aktif dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon sehingga muncul masalah pada siklus haid anak perempuan mama.

3. Tes diagnosa untuk mengetahui amenorrhea

3. Tes diagnosa mengetahui amenorrhea
Popmama.com/Dr. Alberta Claudia Undarsa

Amenorrhea dapat dipastikan melalui beberapa tes secara medis. Tentu saja cara diagnosa amenorrhea ini berbeda tergantung pada tipenya. 

  • Amenorrhea primer

Jika seseorang belum mulai haid pada usia 16 tahun, seorang dokter mungkin bertanya tentang riwayat keluarga.

Kemudian, melakukan sejumlah tes untuk menilai kadar hormon follicle stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), dan tiroid stimulating hormone (TSH). Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik.

  • Amenorrhea sekunder

Apabila seseorang pernah mengalami haid sebelumnya dan tidak haid selama 3-6 bulan, dokter akan fokus pada penyebab masalah yang mendasarinya.

Menurut penjelasan Dr. Alberta Claudia Undarsa, "Di awal masa mulai haid, hingga 1-2 tahun, masih mungkin wajar jika haid belum teratur karena pada fase haid tersebut masih belum terjadi ovulasi. Jika haid terus-menerus tak teratur hingga bertahun-tahun, atau jika Mama merasa khawatir, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter kandungan."

Sebelum melakukan tes apa pun, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mencari tahu terkait usia dimulainya haid yang dialami oleh anak mama. Pertanyaan bisa seputar:

  • kemungkinan kehamilan,
  • keaktifan secara seksual (ini hanya berlaku pada orang dewasa yang sudah menikah), 
  • panjang dan keteraturan siklus haid,
  • apakah perdarahannya berat atau ringan.

Setelah itu, dokter dapat merekomendasikan sejumlah tes, tergantung pada apa penyebabnya. Beberapa tesnya meliputi tes kehamilan, tes fungsi tiroid, tes fungsi ovarium, androgen dan tes hormon lainnya.

Dokter juga mungkin akan melakukan tes pencitraan berupa MRI, CT, atau pemindaian ultrasound
histeroskopi, di mana dokter menggunakan kamera tipis dan terang yang dimasukkan melalui vagina serta leher rahim untuk memeriksa rahim dari dalam. 

4. Penanganan pada penderita amenorrhea

4. Penanganan penderita amenorrhea
Pexels/Ready Made

Mengutip laman familydoctor, pilihan pengobatan untuk amenorrhea bervariasi berdasarkan penyebabnya. Misalnya, dengan bantuan terapi hormon sehingga hormon dapat kembali seimbang. 

Selain bantuan medis, penderita amenorrhea perlu melakukan perubahan gaya hidup, seperti diet, aktivitas, dan mengelola stres.

Pada beberapa kasus, operasi juga bisa saja dilakukan untuk memperbaiki cacat genetik atau kromosom, menghilangkan tumor pituitari (otak), atau menghilangkan jaringan parut uterus.

Perempuan yang mengalami amenorrhea dan melakukan perawatan secara tepat akan mendapatkan siklus haid seperti sedia kala. Namun, perempuan dengan riwayat amenorrhea ini mungkin saja mengalami masalah terkait kesuburan. 

5. Pencegahan yang dapat dilakukan

5. Pencegahan dapat dilakukan
Pexels/Andrea Piacquadio

Sebenarnya, amenorrhea ini sulit untuk dicegah dan bisa muncul tanpa diduga sebelumnya. Namun, ada beberapa hal yang mungkin bisa meminimalisir terjadinya amenorrhea.

Dengan cara memertahankan diet sehat dan olahraga teratur. Apabila kekurangan atau kelebihan berat badan, bicarakan dengan dokter menemukan keseimbangan.

Saat masa haid datang, cobalah untuk mencatat tanggal haid setiap bulan. Hal ini dapat membantu mengidentifikasi amenorrhea sejak dini serta membantu dalam diagnosis dan perawatan. Anak mama juga bisa menggunakan aplikasi atau tracker untuk mengetahui siklus haid.

Selain itu, catatan siklus haid bulanan juga merupakan praktik yang baik untuk perencanaan hamil di masa depan.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.