Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Anak SD Tewas di Asrama Karena Dirundung, Awalnya Disebut Masuk Angin
Pexels/Mikhail Nilov
  • Seorang siswa SD berinisial DRP (11) di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Nurul Falah, Wonogiri, meninggal dunia setelah awalnya disebut karena masuk angin namun ditemukan tanda kekerasan.
  • Penyelidikan polisi mengungkap peristiwa bermula dari ejek-ejekan nama orangtua antara korban dan pelaku sebaya yang kemudian berubah menjadi pertengkaran serius di dalam kelas tanpa pengawasan guru.
  • Korban mengalami kekerasan fisik hingga kepalanya terbentur lantai, sempat muntah dan pusing sebelum akhirnya meninggal dunia saat dibawa ke klinik terdekat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kasus meninggalnya seorang siswa SD di lingkungan asrama Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Nurul Falah, Wonogiri, menjadi sorotan publik. Korban berinisial DRP (11) awalnya disebut meninggal karena masuk angin, tetapi keluarga menemukan sejumlah kejanggalan hingga akhirnya kasus ini diselidiki lebih lanjut oleh pihak kepolisian.

Hasil penyelidikan mengarah pada dugaan perundungan dan kekerasan fisik yang terjadi di lingkungan sekolah. Tragisnya, baik korban maupun terduga pelaku sama-sama masih berusia anak-anak. Kasus ini pun menjadi pengingat penting bagi orangtua, sekolah, dan lingkungan pendidikan untuk lebih serius memperhatikan keamanan serta kesehatan mental anak.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya, beserta pengingat untuk orangtua yang memiliki anak bersekolah di asrama.

1. Siswa kelas 5 tewas di lingkungan sekolahnya

Pinterest.com

Peristiwa memilukan ini menimpa seorang anak laki-laki berinisial DRP (11), siswa kelas V SD Nurul Falah yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Nurul Falah, Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri. Korban dilaporkan meninggal dunia pada hari Sabtu, 14 Februari 2026 lalu.

Awalnya, penyebab tewa DRP disimpulkan sebagai masuk angin. Namun, banyak kejanggalan dari sana hingga akhirnya kasusnya diselidiki lagi. Diduga DRP tewas karena menjadi korban kekerasan di dalam ruang kelasnya saat jam pergantian pelajaran.

Kasus ini menjadi sorotan publik karena melibatkan anak di bawah umur baik sebagai korban maupun pelaku. Penyelidikan kepolisian segera dilakukan setelah pihak keluarga merasa ada yang tidak wajar dengan kondisi jenazah korban.

2. Pemicu sepele: Saling ejek nama orangtua

Pexels/Mikhail Nilov

Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, konflik antara korban dan pelaku yang berinisial R (11) dipicu oleh masalah yang tergolong sepele bagi anak-anak, yakni saling ejek nama orangtua. Selain mengejek nama orangtua, keduanya juga terlibat saling gurau dengan cara dijodoh-jodohkan dengan teman perempuan sekelas mereka.

Ejekan yang semula dianggap main-main tersebut kemudian berubah menjadi pertengkaran serius di dalam ruang kelas yang saat itu sedang tidak ada guru. Meskipun sempat ada tiga orang teman sekelas yang mencoba melerai, perkelahian fisik antara DRP dan R (terduga pelaku saat itu) tetap tidak terhindarkan.

3. Kronologi korban mengalami kekerasan fisik yang tatal

IDN Times/Faisal

Kekerasan terjadi dengan sangat cepat di mana pelaku R menjegal korban hingga terjatuh dan menyebabkan kepalanya membentur lantai kelas. Tidak berhenti di situ, dalam kondisi korban terjatuh, pelaku diduga menindih tubuh korban, mencekik, serta mendorong kepala korban kembali ke lantai.

Pasca kejadian tersebut, kondisi kesehatan DRP menurun drastis. Ia sempat mengeluh pusing dan mengalami muntah sebanyak tiga kali di ruang wudhu dan kamar mandi. Pihak sekolah sempat membawa korban ke klinik terdekat, namun nyawanya tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.

4. Alasan 'masuk angin' hingga dilakukan ekshumasi makam

Pexels/Mikhail Nilov

Hal yang sempat memicu kemarahan keluarga adalah pernyataan awal dari pihak sekolah yang menyebutkan bahwa DRP meninggal dunia karena masuk angin. Namun, keluarga menemukan kejanggalan saat melihat jenazah mengeluarkan darah dari hidung dan mulut serta adanya busa, padahal korban berangkat sekolah dalam kondisi sehat tanpa riwayat penyakit.

Guna mengungkap penyebab pasti kematian secara ilmiah, Polres Wonogiri melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam korban di Makam Prayan, Desa Conto pada Selasa, 17 Februari 2026 lalu. Tim forensik dari RS Bhayangkara Polda Jawa Tengah dilibatkan untuk melakukan otopsi guna memastikan apakah kekerasan fisik tersebut merupakan penyebab utama kematian.

5. Status pelaku dan evaluasi dunia pendidikan

Pexels/Mikhail Nilov

Polisi akhirnya resmi menetapkan R sebagai anak yang berkonflik dengan hukum (pelaku) setelah adanya bukti-bukti yang cukup dan pengakuan dari yang bersangkutan. Mengingat usia pelaku masih 11 tahun, ia kini dititipkan di Yayasan Pembinaan Anak Nakal (YPAN) Solo untuk menjalani pembinaan selama tiga bulan sesuai dengan aturan perlindungan anak.

Tragedi ini memicu reaksi keras dari Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, yang menyayangkan mengapa kejadian tersebut tidak segera dilaporkan secara jujur kepada pihak berwajib. Beliau memerintahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan evaluasi menyeluruh serta meningkatkan edukasi karakter agar tindakan perundungan atau bullying serupa tidak terulang kembali di lingkungan sekolah.

6. Orangtua perlu lebih peka jika anak tinggal di asrama

Freepik

Kasus yang mirip dengan korban DRP ini tidak hanya sekali terjadi. Tentunya ini menjadi pengingat penting bagi orangtua yang memiliki anak tinggal di asrama atau boarding school untuk rutin memantau kondisi fisik dan emosional anak. 

Jangan abaikan perubahan perilaku seperti anak mendadak murung, takut kembali ke asrama, sering mengeluh sakit, sulit tidur, atau enggan bercerita tentang kesehariannya di sekolah.

Selain menjaga komunikasi terbuka dengan anak, orangtua juga perlu aktif menjalin komunikasi dengan pihak sekolah maupun pengasuh asrama. Pastikan lingkungan tempat anak tinggal memiliki sistem pengawasan yang jelas, respons cepat terhadap konflik antarsiswa, serta edukasi anti-bullying agar anak merasa aman selama menempuh pendidikan.

7. Anak yang mengalami perundungan perlu segera mencari bantuan

Unsplash/Road Ahead

Anak-anak yang mengalami perundungan di sekolah penting untuk tahu bahwa mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Jika mengalami kekerasan fisik, ejekan berulang, ancaman, atau perlakuan yang membuat takut dan tidak nyaman, anak perlu segera bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya seperti orangtua, guru, wali kelas, atau pengasuh asrama.

Selain itu, anak juga perlu diajarkan untuk tidak menyimpan rasa takut atau malu sendirian. Dokumentasikan jika ada luka atau bentuk kekerasan yang dialami, hindari menghadapi pelaku sendirian, dan segera cari bantuan profesional apabila mulai muncul tanda trauma seperti takut ke sekolah, sulit tidur, cemas berlebihan, atau menarik diri dari lingkungan sosial.

Itulah tadi informasi mengenai siswa SD tewas di asrama karena dirundung. Semoga kejadian serupa tidak terjadi lagi ke depannya ya.

Editorial Team