Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Asal-Usul Tren Zero Post di Gen Z dan Gen Alpha, Ini Sebabnya!
Pexels/Brett Jordan
  • Tren zero post muncul karena kejenuhan Gen Z dan Gen Alpha terhadap budaya oversharing serta keinginan menjaga privasi di tengah hiruk-pikuk media sosial.
  • Algoritma yang memprioritaskan konten besar membuat anak muda beralih ke ruang digital privat seperti close friends dan DM untuk kontrol lebih atas kehidupan pribadi.
  • Pemerintah merilis PP TUNAS guna melindungi anak di dunia maya, mengatur batas usia penggunaan media sosial, serta mencegah eksploitasi data dan paparan konten berisiko.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tren Zero Post menjadi fenomena nyata di mana media sosial tidak lagi menjadi album foto yang riuh. Tren ini banyak dilakukan oleh Gen Z dan Gen Alpha yang mulai remaja dan sudah memiliki media sosial. 

Namun, rupanya tren zero post ini juga menjadi ruang bagi Generasi Z untuk menjadi penonton sunyi yang bersembunyi di balik layar. Berdasarkan data survei Ofcom UK tahun 2026, minat mengunggah konten merosot tajam dari 61 persen di tahun 2024 menjadi hanya 49 persen responden yang masih aktif membagikan konten.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya mengenai asal-usul tren zero post di kalangan Gen Z dan Gen Alpha.

1. Tren zero post muncul sebagai bentuk “lelah” di media sosial

Pexels/Omkar Patyane

Tren zero post pertama kali dipopulerkan oleh Kyle Chayka lewat esainya berjudul Infinite Scroll. Ia menyebut fenomena ini sebagai posting ennui, yaitu kondisi ketika orang mulai lelah membagikan kehidupan pribadi di media sosial karena bosan dengan hiruk-pikuk dunia digital.

Fenomena ini muncul sebagai antitesis dari era oversharing, ketika media sosial sebelumnya dipenuhi unggahan detail kehidupan sehari-hari demi validasi sosial. Kini, banyak Gen Z dan Gen Alpha justru memilih membiarkan feed kosong atau jarang mengunggah kehidupan pribadi mereka.

2. Algoritma media sosial membuat anak muda makin malas posting

Pinterest.com

Salah satu pemicu tren zero post adalah kejenuhan terhadap algoritma media sosial yang kini lebih memprioritaskan iklan, kreator besar, dan konten AI dibanding unggahan personal pengguna biasa. Banyak pengguna merasa postingan mereka tidak lagi benar-benar dilihat teman dekat, sehingga aktivitas memposting terasa kurang bermakna.

Menurut riset Meta, Gen Z lebih memilih ruang digital yang lebih privat seperti fitur close friends, stories, atau DM dibanding unggahan publik di feed utama. Mereka merasa ruang privat memberi kontrol lebih besar terhadap siapa saja yang bisa melihat kehidupan pribadi mereka.

3. Zero post berkaitan erat dengan kesehatan mental

Pexels/Abdulkadir Emiroğlu

Secara psikologis, tren zero post berkembang sebagai bentuk perlindungan diri dari tekanan media sosial. Banyak anak muda memilih mengurangi unggahan untuk menghindari vulnerability hangover, yaitu rasa cemas atau tidak nyaman setelah membagikan kehidupan pribadi ke publik.

Dengan tidak banyak mengunggah konten, mereka merasa lebih aman dari penilaian orang lain, komentar negatif, hingga tekanan validasi dari jumlah likes dan komentar. Selain itu, zero post juga membantu mengurangi kelelahan mengkurasi identitas digital agar selalu terlihat estetik dan sempurna, sehingga mereka bisa lebih fokus menjalani kehidupan nyata tanpa tekanan standar media sosial yang tidak realistis.

4. Tetap perhatikan aturan pemerintah soal penggunaan media sosial anak

Dok. Komdigi

Di tengah maraknya fenomena zero post di mana Gen Z mulai membatasi jejak digital mereka demi privasi dan kesehatan mental, penting bagi kita untuk memahami bahwa pemerintah telah merilis payung hukum baru untuk melindungi anak-anak di dunia maya. 

Pemerintah Indonesia merilis aturan baru bernama PP TUNAS. Aturan ini tertuang dalam PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak.

Regulasi tersebut dibuat untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak-anak. Tidak hanya mengatur penggunaan media sosial berdasarkan usia, PP TUNAS juga hadir untuk melindungi data pribadi anak dari eksploitasi digital, paparan konten berbahaya, hingga risiko kecanduan media sosial yang semakin meningkat pada generasi muda.

5. Anak di bawah 16 tahun kini punya aturan khusus bermedia sosial

Dok. Komdigi

Dalam PP TUNAS, anak usia di bawah 13 tahun hanya diperbolehkan memiliki akun pada layanan digital dengan risiko rendah dan khusus anak, serta wajib mendapat izin orangtua. Sementara usia 13-15 tahun sudah bisa mengakses platform dengan risiko sedang, tetapi tetap memerlukan persetujuan orangtua atau wali.

Selain itu, platform digital juga diwajibkan menyediakan verifikasi usia, fitur persetujuan orangtua, parental control, hingga menyaring konten yang tidak layak untuk anak. Regulasi ini juga melarang platform melakukan profiling atau pengumpulan data perilaku anak untuk kepentingan komersial, sehingga anak tidak dijadikan “komoditas” dalam ekosistem digital.

Fenomena zero post pada Gen Z dan Gen Alpha menunjukkan semakin tingginya kesadaran anak muda terhadap privasi, kesehatan mental, dan jejak digital mereka. Sejalan dengan itu, hadirnya PP TUNAS menjadi bentuk perlindungan hukum dari negara agar anak-anak tetap aman di ruang digital melalui pembatasan akses media sosial, perlindungan data pribadi, dan pengawasan penggunaan platform sesuai usia.

Itulah tadi informasi mengenai tren zero post di Gen Z dan Gen Alpha yang kini makin ramai dibahas di media sosial. 

Editorial Team