59 Remaja di Garut Dibaiat NII Tanpa Sepengetahuan Orangtua

Orangtua baru menyadari setelah melihat sikap menyimpang dari sang anak

9 Oktober 2021

59 Remaja Garut Dibaiat NII Tanpa Sepengetahuan Orangtua
Pexels/Ahmet Polat

Seorang anak di Garut dibaiat (dilantik) menjadi anggota Negara Islam Indonesia (NII). Kelompok ini ingin berusaha menggantikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Negara Islam Indonesia (NII). 

Menurut Muhammadiyah Garut, NII bertentangan dengan Pancasila. Sedangkan, menurut Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian MUI, Prof Utang Ranuwijaya, dari kasus-kasus NII terdahulu paham ini mendoktrin calon pengikutnya untuk menilai pemerintah Indonesia adalah pemerintah thogut (perintah yang menyuruh umat manusia untuk tidak menaati hukum Allah). 

Maka dari itu, NII gencar mencari massa agar NKRI benar-benar terganti menjadi NII, salah satunya anak-anak di Garut. Hingga kini, telah terungkap bahwa ada 59 remaja Garut yang telah dibaiat NII.

Untuk mengetahui kasus NII yang melibatkan anak-anak di Garut, berikut ini Popmama.com telah merangkum informasinya. Simak yuk, Ma! 

1. Awal baiat NII pada remaja Garut terungkap

1. Awal baiat NII remaja Garut terungkap
Pixabay/mohammedweb

Orangtua berinisial M (49 tahun) di Kelurahan Sukamentri, Garut, Jawa Barat, tidak menyangka anaknya dibaiat menjadi pengikut NII. Ia baru mengetahui hal itu ketika sang anak mengalami kecelakaan motor. 

Mulanya M hanya mengetahui sang anak mengikuti pengajian di bersama kelompoknya di Masjid Al Mughni di Kampung Pajagalan, Kelurahan Sukamentri.

“Awalnya dia tidak membuka, tapi setelah kejadian kecelakaan, waktu itu bawa motor saya, akhirnya kebongkar,” kata M.

Saat mengalami kecelakaan, anak sempat tidak pulang hingga 2 hari dengan alasan menginap di rumah temannya. 

Namun, M menduga sebenarnya sang anak tidak pulang karena takut dimarahi karena jatuh dari motor miliknya. Akan tetapi M selalu menelepon sang anak hingga akhirnya dia pulang. 

Sesampainya di rumah sang anak bercerita mengenai kelompok pengajian yang selama ini ia ikuti. Dari situlah M menyadari anaknya mengikuti ajaran yang menyimpang. 

“Yang jadi permasalahan, ada penyimpangan-penyimpangan di pengajian itu, yaitu mengkafirkan orang di luar kelompok mereka. Jadi apa-apa yang dibaiatkan ke murid-murid pengajian tersebut tidak sesuai dengan umumnya," tutur M. 

Editors' Picks

2. Awal mula anak-anak di Garut dibaiat menjadi anggota NII 

2. Awal mula anak-anak Garut dibaiat menjadi anggota NII 
Freepik/rawpixel.com

Mulanya, anak dari M mulai mengikuti pengajian di sebuah masjid di dekat rumahnya yang dulu. 

Kemudian, M mengatakan bahwa sang anak bergabung menjadi NII setelah diajak oleh teman dekatnya. Setelah sang anak setuju, maka ia langsung dibaiat oleh gurunya. 

Jadi, dapat disimpulkan banyaknya remaja Garut yang dibaiat NII melalui ajakan teman.

3. Perubahan perilaku anak ketika telah dibaiat menjadi anggota NII 

3. Perubahan perilaku anak ketika telah dibaiat menjadi anggota NII 
Freepik/Mdjaff

Walaupun M tidak mengetahui anaknya sudah dibaiat menjadi NII, namun M telah merasakan perubahan tingkah laku sang anak.

Sejak dua tahun lalu, tepatnya sang anak berada di kelas 2 SMP, M merasa anaknya berani melawan orangtua dan lebih patuh pada kelompok pengajiannya.

Selain itu, anaknya pun memutuskan tidak mau melanjutkan sekolah.

4. Kasus ini langsung ditindaklanjuti oleh pihak yang berwajib 

4. Kasus ini langsung ditindaklanjuti oleh pihak berwajib 
Pixabay/Succo
Ilustrasi

Setelah mengetahui sang anak terlibat menjadi NII, M langsung melapor ke aparat pemerintah kelurahan setempat. 

Kini, 59 remaja yang diduga telah dibaiat oleh NII sedang menjalani pembinaan secara intensif dengan cara melakukan pengajian rutin dan memberi pemahaman tentang ideologi NKRI. 

Sedangkan pendoktrin atau orang yang mengajak anak-anak untuk bergabung dengan NII akan dikenakan pasal sesuai yang berlaku. 

Namun, hingga kini kedua pelaku belum diproses secara hukum karena masih mencocokkan pasal yang pas dengan perilaku yang dilakukan oleh kedua pendoktrin. 

Dapat diambil pelajaran, saat anak sudah remaja pun tetap perlu untuk diawasi, dibimbing dan ditanamkan ilmu agama pancasila, serta tolenrasi. Dengan begitu, anak akan terlindungi dari kelompok yang menyimpang. Selain itu, anak pun dengan sendirinya akan mengetahui antara hal yang baik dan buruk sertahal yang benar benar dan salah. 

Hal penting lainnya, jika Mama mengetahui ada yang tidak benar dari sikap si Anak, coba langsung rangkul dan ajak dia ngobrol. Dengan begitu, Mama akan mengetahui lebih cepat apakah anak mengalami penyimpangan atau tidak. Jika, Iya, Mama bisa langsung melakukan pembinaan terhadap anak-anak. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.