5 Tipe Bullying yang Harus Mama dan Anak Kenali

Kenali tipe bullying ini sebelum menjadi korbannya

9 Desember 2018

5 Tipe Bullying Harus Mama Anak Kenali
koreaboo.com

Bullying menjadi ancaman serius bagi anak dan remaja. Baik sebagai pelaku maupun korban mengalami dampak buruk yang akan mengubah karakter mereka.

Bullying pada usia anak kadang tidak terlalu nampak sehingga Mama mungkin tidak menyadari apa yang dialami si Anak. Anak Mama juga mungkin saja tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi korban bullying.

Nah, yuk pelajari tipe-tipe bullying agar paham bahwa bullying nggak cuma masalah kekerasan fisik.

1. Verbal bullying

1. Verbal bullying
Pixabay/Pezibear

Jenis bullying ini sering tidak sadar dilakukan karena tersamarkan sebagai lelucon atau ejekan.

Kalimat kasar yang terlontar dari mulut orangtua saat memarahi anak juga masuk kategori bullying. Karena dampaknya tidak terlihat secara langsung, banyak orang yang nyaman melakukan penindasan verbal. Padahal efeknya jangka panjang dan lebih membekas.

Mama perlu waspada jika anak mama terbiasa berkata kasar, atau membuat lelucon yang tidak pantas. Ia akan dengan mudah menertawakan keburukan orang dan membuatnya jadi bahan guyonan. Kalau hal-hal ini sudah ia lakukan, bisa jadi di luar sana ia terbiasa sebagai pelaku bullying.

Sedangkan anak yang menjadi korban bullying verbal, biasanya menjadi takut berbicara atau mengemukakan pendapat. Ia juga takut tampil di muka umum karena trauma pada tanggapan atau ucapan buruk.

Editors' Pick

2. Bullying fisik

2. Bullying fisik
upload.wikimedia.org

Berbeda jauh dengan tanda-tanda bullying verbal, penindasan fisik meninggalkan bekas yang mudah terlihat. Penanganannya relatif lebih cepat, karena pelaku maupun korban dapat diidentifikasi segera.

Anak yang menjadi pelaku bullying fisik, biasanya bersifat emosional dan kurang berempati dengan lingkungan sekitarnya. Sedangkan anak yang menjadi korban, tentu nampak bekas-bekas penindasannya, atau mengalami trauma yang lebih parah.

Penindasan fisik tak hanya berupa pukulan atau aksi yang meninggalkan bekas. Bisa juga berupa penghadangan di tengah jalan, menggertak dengan membawa rombongan, atau melempari dengan benda-benda kecil.

Mama perlu waspada jika si Anak terlihat ‘ringan tangan’ di rumah. Ia tak segan-segan melakukan penindasan pada saudara atau bahkan mainannya.

Jika anak Mama menjadi korban penindasan fisik, ia cenderung menunjukkan ketakutan berlebih saat harus bertemu dengan pelakunya. Ia bisa tiba-tiba malas pergi ke sekolah, meminta pindah sekolah, atau menangis ketakutan saat teringat peristiwa bullying.

3. Bullying sosial

3. Bullying sosial
Pixabay/ BlueMix

Tindakan yang termasuk dalam bullying sosial adalah pengucilan atau intimidasi tidak langsung yang dilakukan berkelompok.

Anak yang menjadi korban tindakan ini terlihat sering menyendiri karena kesulitan mencari teman.

Mama perlu mengenali penyebab anak menerima bullying sosial.

Bisa karena ia pernah melakukan tindakan yang tidak disukai teman-temannya, terlalu menonjol sehingga yang lain iri, atau memang sulit berinteraksi dengan orang lain sejak kecil.

Korban pengucilan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena bisa berdampak pada masa dewasanya kelak. Ia menjadi terbiasa menutup diri dan rentan mengalami depresi.

4. Cyber bullying

4. Cyber bullying
maxpixel.freegreatpicture.com

Kategori bullying yang satu ini tergolong baru, karena baru muncul sejak sosial media dan internet menjadi konsumsi masyarakat luas termasuk anak-anak.

Tak hanya berbentuk status atau unggahan gambar bernada negatif, cyber bullying juga bisa berupa obrolan via aplikasi chat.

Mama yang sudah mulai memberikan ponsel sendiri kepada si Anak, harus mewaspadai kategori bullying yang satu ini.

Amati bagaimana perilakunya saat menggunakan ponsel. Apakah ekspresi wajahnya sering menunjukkan kekesalan atau justru terlihat sedih.

5. Sexual bullying (pelecehan seksual)

5. Sexual bullying (pelecehan seksual)
Pixabay/Annakovalcuck

Dewasa ini makin banyak juga kasus pelecehan seksual yang menimpa anak-anak. Sexual harassment dapat juga dikategorikan sebagai bullying karena pelakunya memiliki motif tendensi negatif.

Sejak dini, Mama sebaiknya mulai memberikan edukasi seks dasar pada anak. Kemas obrolan tentang seks menjadi hal yang menyenangkan dan tidak canggung.

Ajarkan anak Mama bagaimana menjaga dirinya dari potensi pelecehan seksual.

Dengan mengenal tipe-tipe bullying ini, anak Mama bisa menghindar dari perilaku menindas, baik sebagai pelaku maupun korban.

Mari hidup lebih tenteram!

Baca juga:

The Latest