Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Fakta Sungai Barito di Kalimantan yang Kini Mengering karena Kemarau
Instagram.com/danaecco
  • Debit Sungai Barito di sekitar Jembatan Kalahien, Barito Selatan, menyusut drastis hingga memunculkan hamparan pasir luas setelah periode tanpa hujan berkepanjangan.
  • BMKG mencatat curah hujan Kalimantan Tengah di bawah normal, sementara sejumlah wilayah Barito Selatan mengalami Hari Tanpa Hujan hingga 31–60 hari.
  • Kementerian PU memastikan alur utama Sungai Barito masih mengalir selebar sekitar 100 meter dan dapat dilalui, meski kemarau meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sungai Barito di Kalimantan Tengah saat ini menjadi perhatian setelah kondisi permukaan airnya menyusut hingga memperlihatkan hamparan dataran pasir yang luas.

Pemandangan tersebut terlihat di sekitar Jembatan Kalahien, Desa Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, dan videonya kemudian beredar di media sosial.

Fenomena ini terjadi ketika wilayah Kalimantan Tengah sedang menghadapi musim kemarau dengan curah hujan yang rendah.

BMKG mencatat sejumlah wilayah di Barito Selatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam kategori panjang hingga sangat panjang, sementara puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

Meski tampak seperti mengering, kondisi Sungai Barito ternyata tidak sepenuhnya kehilangan aliran air. Lantas, seperti apa fakta selengkapnya? Berikut Popmama.com telah rangkum faktanya.

1. Berlokasi di Desa Kalahien, Barito Selatan

Pinterest.com/Nizar Ghifari

Fenomena penyusutan debit Sungai Barito terjadi di sekitar Jembatan Kalahien, Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.

Kondisi tersebut mulai menjadi perhatian setelah beredar video di media sosial instagram oleh akun @theonewhd yang memperlihatkan hamparan pasir cukup luas di bagian tengah sungai. Dari atas jembatan, permukaan sungai bahkan tampak seperti daratan yang sangat luas.

2. Debit air Sungai Barito menyusut drastis

Instagram.com/ermayulihastin

Munculnya hamparan pasir di Sungai Barito merupakan dampak dari penurunan muka dan debit air. Kondisi ini terjadi setelah wilayah Barito Selatan mengalami periode tanpa hujan yang cukup panjang.

Mengutip dari Tirto.id, BMKG mencatat sejumlah wilayah di Barito Selatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) selama sekitar 21–30 hari hingga 31–60 hari. Minimnya hujan membuat pasokan air permukaan berkurang sehingga debit sungai ikut menyusut.

Hal ini menjadi gambaran nyata mengenai tekanan musim kemarau terhadap ketersediaan air di wilayah Barito Selatan.

3. Memunculkan daratan pasir bak gurun

Salah satu hal yang membuat kondisi Sungai Barito ramai diperbincangkan adalah munculnya hamparan pasir di sejumlah bagian sungai.

Dalam video yang beredar diketahui area di bawah Jembatan Kalahien terlihat seperti padang pasir karena permukaan air yang biasanya menutupi bagian tersebut mengalami penyusutan. Kondisi ini kemudian membuat sejumlah orang mengira Sungai Barito telah mengering sepenuhnya.

Melansir dari berbagai sumber, diketahui Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Sandi Eriyanto menjelaskan bahwa hamparan pasir tersebut merupakan bagian sungai yang tidak lagi teraliri air akibat turunnya muka air.

4. Kemarau ekstrim dan curah hujan rendah menjadi penyebabnya

Pexels/kevin yung

Penyusutan debit Sungai Barito tidak terjadi tanpa sebab, Ma. Kondisi tersebut berkaitan dengan minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir.

Melansir dari Tirto.id BMKG mencatat sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah mengalami sifat hujan di bawah normal. Curah hujan yang tercatat berada di kisaran 0–20 milimeter, dengan persentase terhadap kondisi normal sekitar 0–50 persen.

Selain itu, puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah diprediksi berlangsung pada Agustus–September 2026. Jika periode kering terus berlanjut, tekanan terhadap ketersediaan air berpotensi semakin besar.

5. Transportasi sungai ikut terganggu

Instagram.com/danaecco

Penyusutan debit air juga berpotensi berdampak terhadap masyarakat yang masih mengandalkan Sungai Barito untuk berbagai aktivitas, termasuk transportasi air.

Kondisi sungai yang lebih dangkal dapat memengaruhi aktivitas pelayaran dan mobilitas masyarakat. Selain transportasi, penurunan debit air juga berpotensi berdampak terhadap kebutuhan air, perikanan, serta kegiatan ekonomi di sekitar bantaran sungai.

Meski begitu, kondisi ini tidak berarti seluruh jalur Sungai Barito sudah tidak dapat dilalui.

6. Kementerian PU memastikan alur utama masih mengalir

Pinterest.com/BAROKAH BERSAMA

Di tengah viralnya video Sungai Barito yang tampak seperti mengering, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memberikan klarifikasi mengenai kondisi sebenarnya.

Melansir dari Tirto.id hasil dari pemantauan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, alur utama Sungai Barito di sekitar Kalahien masih memiliki aliran air. Bahkan, alur tersebut memiliki lebar sekitar 100 meter dan masih dapat dilalui kapal maupun perahu.

Mengutip dari Tirto.id Sandi Eriyanto Kepala BWS Kalimantan III, menjelaskan, alur utama sungai masih berair dan tetap berfungsi sebagai jalur transportasi.

Berdasarkan pernyataan Sandi Eriyanto Kepala BWS Kalimantan III, dapat diartikan bahwa benar Sungai Barito memang mengalami penyusutan debit yang signifikan, tetapi tidak benar-benar kering secara keseluruhan.

7. Waspada karhutla dan gunakan air secara bijak

Pexels/Atlantic Ambience

Kemarau panjang tidak hanya menyebabkan debit sungai menyusut, tetapi juga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Periode tanpa hujan yang panjang membuat vegetasi dan lapisan permukaan tanah menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api. Selain itu, BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk menggunakan air secara bijak dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan maupun karhutla selama periode kemarau.

Itulah fakta mengenai Sungai Barito di Kalimantan yang kini mengering karena kemarau. Kondisi Sungai Barito yang menyusut menjadi pengingat bahwa musim kemarau perlu dihadapi dengan bijak. Yuk, Ma, gunakan air secukupnya dan tetap waspada terhadap risiko karhutla di sekitar kita.

Editorial Team

Related Article