Nicholas Saputra Ingin Anak Indonesia Sehat Secara Mental saat Pandemi

Nicholas Saputra tidak ingin anak-anak menyakiti diri sendiri akibat kesehatan mental yang buruk

7 Juni 2020

Nicholas Saputra Ingin Anak Indonesia Sehat Secara Mental saat Pandemi
Instagram.com/unicefindonesia

Sebagai Duta Nasional UNICEF Indonesia, Nicholas Saputra merasa khawatir terhadap kesehatan mental anak-anak di tengah pandemi Covid-19. 

Melalui sebuah video berdurasi 1 menit 46 detik yang diunggah di Instagram UNICEF Indonesia, Nicholas Saputra memberikan sebuah pesan penting agar anak-anak bisa memahami kesehatan mental mereka selama pandemi ini berlangsung. 

Covid-19 telah memengaruhi kita dalam banyak hal. Harus tetap di rumah, tidak bisa ke sekolah, melihat orangtua kehilangan pekerjaan atau sakit, tidak bisa bertemu teman-teman atau melakukan banyak kegiatan yang kita suka. 

Banyak dari kita merasa tidak berdaya, sehingga menjadi khawatir, sedih, kecewa bahkan marah. Sangat wajar jika kita mengalami perasaan-perasaan seperti itu. 

Nicholas tidak ingin kalau anak-anak terlalu mengabaikan segala perasaan negatif yang muncul, baik itu rasa sedih, khawatir, kecewa atau bahkan marah. 

"Jangan abaikan perasaanmu, terutama jika kamu merasa tidak nyaman. Mengalami perasaan sedih dan kecewa itu wajar, jadi penting untuk menerima dan merasakannya karena itu akan membantumu untuk merasa lebih baik," ucap Nicholas. 

Jika Mama ingin mengetahui beberapa pesan lain yang dibagikan oleh Nicholas Saputra untuk anak-anak, kali ini Popmama.com telah merangkumnya. 

Editors' Picks

1. Nicholas Saputra tidak ingin anak-anak menyakiti dirinya sendiri atau orang lain

1. Nicholas Saputra tidak ingin anak-anak menyakiti diri sendiri atau orang lain
unicef.org

Dalam video tersebut, Nicholas Saputra ingin anak-anak bisa melakukan kegiatan yang mereka suka walau sedang berada di dalam rumah. 

Tetap melakukan kegiatan rutin, seperti mengerjakan tugas sekolah, berolahraga dan melakukan hal-hal yang kamu sukai di rumah.

Kita akan merasa lebih baik jika kita berkomunikasi dengan orang-orang yang kita cintai, bisa juga melalui telepon atau membantu teman dengan pekerjaan rumah mereka secara online dan membantu orangtua di rumah.

Jika perasaan negatif mulai muncul dan mulai terasa menganggu segala aktivitas di rumah, Nicholas menyarankan untuk meminta bantuan kepada orang-orang yang dipercaya.  

"Segera minta pertolongan dari orang-orang yang kamu percaya, misalnya kawan baikmu, saudara, orangtua atau tenaga kesehatan," ucapnya.  

Nicholas tidak ingin anak-anak menyakiti diri sendiri atau bahkan orang lain akibat kesehatan mental yang buruk di tengah pandemi Covid-19. 

2. Bagaimana peran orangtua dalam mendukung kesehatan mental anak?

2. Bagaimana peran orangtua dalam mendukung kesehatan mental anak
Freepik/peoplecreations

Saat Mama mengetahui si Anak mulai terlihat memiliki masalah atau terjadi perubahan perilaku, ada baiknya untuk segera membantunya. Perlu disadari kalau kesehatan mental itu sama pentingnya seperti kesehatan pada fisik.  

Dalam kondisi pandemi Covid-19 ini bukan berarti kesehatan mental anak terjaga sepenuhnya, walau sedang berada di dalam rumah saja. Kepekaan Mama sebagai orangtua perlu digunakan agar anak-anak memiliki kesehatan mental yang bagus. 

Jika ingin memberikan dukungan ke si Anak dalam menjaga kesehatan mental, berikut beberapa cara yang bisa digunakan yaitu: 

  • Cobalah untuk terbiasa bercerita bersama anak. Ini secara tidak langsung dapat membantu anak lebih berani mengungkapkan segala permasalahan yang sedang terjadi padanya. 
  • Luangkan waktu sejenak untuk mengajarkan anak melakukan meditasi. Meditasi bisa menjadi cara yang paling mudah dalam mengatasi kecemasan dan tingkat stres akibat permasalahan hidup. 
  • Mendorong anak untuk menulis atau menggambar, sehingga membantunya dalam mengekspresikan segala perasaan. Ini menjadi salah satu cara agar anak bisa secara bebas menuangkan segala perasaan serta harapan atas segala permasalahannya. 

Selain itu, orang perlu berusaha menenangkan perubahan perilaku anak jika sewaktu-waktu terjadi. 

Mama harus setidaknya perlu peka dalam menafsirkan ekspresi wajah anak-anak. Jika muncul wajah yang sekira memperlihatkan rasa sedih, marah atau kecewa perlu sekali untuk segera menenangkannya. 

Dengan berusaha memberikan kontak fisik berupa pelukan atau sebuah ciuman, setidaknya bisa membuat perasaan anak menjadi lebih tenang. 

3. Orangtua bisa mencoba metode emotional volcano

3. Orangtua bisa mencoba metode emotional volcano
Pixabay/Nastya_gepp

Setiap masing-masing orangtua di dalam keluarga seringkali memiliki cara tersendiri untuk menjaga kesehatan anak mereka. 

Cara lain yang bisa orangtua lakukan dalam menjaga kesehatan anak-anak yakni dengan mencoba metode emotional volcano. 
Dalam metode ini, Mama bisa menggambarkan sebuah gunung api di papan tulis. Kemudian bisa menjelaskan kepada anak bahwa setiap orang memiliki perasaan yang berbeda-beda di sepanjang hari. 

Namun, dalam mengungkapkan perasaan semua orang bisa memilih antara menahan atau justru mengeluarkan emosinya seperti gunung merapi yang sedang meletus. 

Banyak orang seringkali salah menilai bahwa emosi yang keluar layaknya gunung merapi diakibatkan karena penumpukkan dari berbagai macam masalah. Padahal ledakan emosi tersebut bisa dicegah ketika emosi yang muncul dapat ditangani. 

Pemahaman mengenai metode emotional volcano bisa diperkenalkan kepada anak-anak yang sudah mulai beranjak remaja. Penjelasan tersebut dirasa cukup bisa dimengerti, sehingga bermanfaat untuknya. 

Melalui metode tersebut, anak-anak bisa lebih terbuka dan berbicara mengenai perasaan yang sedang dihadapinya. Lalu ini akan membantu si Anak dalam melepaskan beban mereka satu demi satu agar permasalahannya cepat selesai. 

Itulah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental anak di tengah pandemi Covid-19. 

Semoga ini bisa bermanfaat untuk kesehatan anak kesayangan mama ya!

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.