5 Dampak Buruk Dari Pengasuhan Otoriter pada Anak yang Perlu Dihindari

Dampak jangka panjangnya baru bisa terlihat saat anak tumbuh remaja

26 November 2021

5 Dampak Buruk Dari Pengasuhan Otoriter Anak Perlu Dihindari
Freepik/peoplecreations

Seperti yang Mama tahu, ada banyak metode parenting yang diterapkan para orangtua untuk anaknya, namun di antara semuanya, adateknik pengasuhan otoriter.

Dalam pengasuhan otoriter, seorang anak dibesarkan dengan didikan yang keras dan tegas, dengan tuntutan bahwa anak harus selalu menurut dan patuh keinginan orangtuanya. 

Meskipun setiap pengasuhan ada kelebihan dan kekurangannya, teknik pengasuhan otoriter ini bisa membawa dampak buruk bagi perkembangan anak.

Seringkali teknik pengasuhan ini tidak terlihat buruk, saat anak masih kecil. Tapi setelah anak tumbuh remaja, orangtua mungkin akan melihat dampak buruk dari parenting yang otoriter.

Lantas, apa sajakah dampak buruknya? Berikut Popmama.com telah merangkum lima dampak buruk dari pengasuhan otoriter pada anak.

1. Tidak bersemangat dalam menjalani hidupnya

1. Tidak bersemangat dalam menjalani hidupnya
Freepik/Rawpixel-com

Dampak buruk yang pertama pada anak jika dibesarkan dengan cara otoriter adalah, ia merasakan sepanjang hidupnya terasa hampa dan kosong. Mengapa?

Hal ini terjadi karena pengasuhan otoriter yang orangtua terapkan, terlalu mengatur hidup anak sepenuhnya sehingga ia tidak bisa menjalani hidupnya dengan bebas. Sejak usia muda, anak diatur untuk mengikuti perintah orangtua atas segala keputusan dan jalan hidupnya.

Sehingga tentu wajar jika akhirnya anak pun merasa hampa atas hidupnya sendiri, tidak bersemangat, dan tidak memiliki gairah terhadap hal-hal yang ia jalani. Bahkan tak menutup kemungkinan, hal-hal yang anak lakukan dalam hidupnya bukanlah yang ia inginkan. 

Editors' Picks

2. Membuat remaja menjadi sosok yang keras dan tak berempati

2. Membuat remaja menjadi sosok keras tak berempati
Freepik

Dampak yang kedua pada diri anak ketika remaja adalah pribadinya yang terbentuk menjadi sosok yang keras dan kurangnya empati, inilah yang membuat anak kurang belas kasih pada orang lain. Sebab yang diajarkan kepadanya sejak kecil adalah dominasi atas perintah dan keharusannya untuk patuh. 

Keinginan orangtua untuk membuat anak agar memiliki mental yang kuat mungkin berguna ketika anak menjadi pemimpin.Tetapi di sisi lain, remaja juga bisa jadi pemimpin yang dingin dan tak berperasaan. Sehingga, dampak buruknya pun tak hanya berakibat pada anak, namun juga pada orang-orang disekitarnya.

3. Anak akan tumbuh menjadi pemberontak

3. Anak akan tumbuh menjadi pemberontak
Freepik/our-team

Saat anak masih kecil mungkin dampak yang satu ini belum kelihatan, tapi seiring berjalannya waktu dan semakin bertumbuhnya usia anak, akan memperlihatkan dampak buruk pengasuhan otoriter. Yaitu remaja yang membangkang dan banyak memberontak. 

Mungkin tak semua remaja yang dibesarkan secara otoriter akan tumbuh seperti ini, tapi sebagian besar anak yang telah diberikan tekanan dan segala tuntutan sejak usia muda, akan melawan pada orangtuanya ketika ia sudah menunjukkan kemandiriannya. 

Hal ini adalah akibat dari ketidaktahanan anak pada tekanan yang dipendam di dalam dirinya sejak muda. Sehingga saat anak sudah remaja dan membangun rasa mandiri, ia pun akan melawan karena merasa memiliki hak untuk melakukan hal-hal yang ia sukai.

4. Mengembangkan harga diri yang rendah

4. Mengembangkan harga diri rendah
Pexels/Pixabay
Ilustrasi

Mama mungkin menemukan bahwa seorang anak menunjukkan harga diri yang lebih rendah ketika dibesarkan oleh orang tua yang otoriter. Hal ini disebabkan kurangnya kemampuan mereka untuk mengkomunikasikan kebutuhannya dan menjadi individu.

Bukan hal yang mengherankan lagi jika seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan otoriter tidak diperbolehkan untuk menjadi pemikir bebas atau untuk mengungkapkan pikirannya kepada orangtua. Mereka telah dibesarkan untuk taat, diam, dan menyembunyikan perasaannya.

5. Mengajari anak-anak bahwa menjadi pelaku bully itu baik-baik saja

5. Mengajari anak-anak bahwa menjadi pelaku bully itu baik-baik saja
Pexels/RODNAE Productions

Dampak yang terakhir ini mungkin adalah dampak yang paling merugikan. Tak hanya berdampak buruk untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain. Orangtua seringkali menggunakan intimidasi dalam pengasuhan otoriter untuk memaksa anak menyelesaikan tugasnya.

Alih-alih mendorong anak untuk memutuskan pilihan yang baik, orangtua menetapkan harapan yang tinggi pada anak. Dan ketika anak menghadapi kegagalan, umpan balik negatif seperti dimarahi hingga mendapatkan hukuman fisik biasanya terjadi dalam pengasuhan ini.

Melihat contoh dari orangtuanya yang berperilaku negatif saat menuntut sesuatu dari orang lain, membuat anak belajar bahwa ini adalah perilaku yang normal dan tak menutup kemungkinan bahwa perilaku ini yang ia bawa ke sekolah.

Itulah beberapa informasi seputar dampak buruk pengasuhan otoriter pada anak. Meski bisa mengajarkan anak disiplin, tegas, dan kepemimpinan yang baik, teknik pengasuhan ini juga bisa membawa dampak buruk bagi anak-anak di masa remajanya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.