9 Dampak Buruk Kebiasaan Multitasking pada Otak Anak

Dapat merusak otak anak secara permanen lho!

24 Juni 2021

9 Dampak Buruk Kebiasaan Multitasking Otak Anak
Freepik/pressfoto

Seringkali kemampuan multitasking dianggap praktis dalam menyelesaikan banyak tugas sekaligus. Bahkan tak jarang, remaja mampu mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Seperti belajar sambil menjaga adik, membuka ruang obrolan, sambil makan, dan lain-lain

Walaupun multitasking mungkin membantu lebih cepat dalam mengerjakan tugas-tugas, otak justru mengatakan sebaliknya. Dikutip dari The Ladders, menurut ahli saraf, otak manusia tidak dibangun untuk melakukan lebih dari satu hal pada satu waktu.

Dan ketika remaja mencoba untuk melakukan banyak tugas, itu bisa merusak otak dengan cara yang berdampak negatif pada kesejahteraan, kinerja mental, dan produktivitas.

Apakah kebiasaan multitasking dapat berbahaya bagi remaja?

Kali ini Popmama.com akan membahas seputar dampak buruk multitasking bagi otak dan produktivitas anak remaja. Mari simak informasinya berikut ini!

1. Multitasking dapat menyebabkan kerusakan otak permanen

1. Multitasking dapat menyebabkan kerusakan otak permanen
Unsplash/Robina Weemeijer

Sebuah studi dari University of Sussex (Inggris) membandingkan struktur otak partisipan dengan jumlah waktu yang mereka habiskan di perangkat media, seperti mengirim pesan teks atau menonton TV.

Pemindaian MRI para partisipan, menunjukkan bahwa para multitasker (orang yang melakukan multitasking) yang tinggi memiliki kepadatan otak yang lebih sedikit di anterior cingulate cortex, yang merupakan wilayah otak yang bertanggung jawab atas empati dan kendali emosional.

"Saya merasa penting untuk menciptakan kesadaran bahwa cara kita berinteraksi dengan perangkat mungkin mengubah cara kita berpikir, dan perubahan ini mungkin terjadi pada tingkat struktur otak,” ujar Kep Kee Loh, yang merupakan ketua peneliti dan ahli saraf.

Keterkaitan temuan mereka adalah bahwa multitasking, terutama yang melibatkan penggunaan perangkat media, dapat secara permanen mengubah struktur otak setelah penggunaan yang lama.

2. Multitasking mengurangi efisiensi dan kinerja mental

2. Multitasking mengurangi efisiensi kinerja mental
Freepik

Selain itu, Earl Miller, ahli saraf di MIT dan salah satu pakar tentang kognisi, perhatian, dan pembelajaran manusia mengatakan bahwa banyak yang menganggap multitasking dapat berjalan dengan baik, namun ada serangkaian perubahan kecil yang tidak dirasakan.

“Ketika kita beralih antar tugas, prosesnya sering kali terasa mulus, tetapi pada kenyataannya, ini membutuhkan serangkaian perubahan kecil," menurut Miller.

Setiap perubahan kecil menimbulkan upaya kognitif. Misalnya, setiap kali anak beralih antara menanggapi ruang obrolan dan menulis esai penting, ia menguras sumber daya dan energi otak yang berharga.

Miller juga mengatakan bahwa multitasking dapat merusak produktivitas, membuat kesalahan, dan menghalangi pemikiran kreatif. Hal ini karena manusia punya  kapasitas yang sangat terbatas untuk pemikiran simultan, dan hanya dapat menyimpan sedikit informasi dalam pikiran pada saat apapun.

Untuk memperkuat temuan Miller, studi lain yang dilakukan di University of California, menemukan bahwa dibutuhkan rata-rata 23 menit dan 15 detik untuk kembali fokus pada tugas setelah gangguan.

Dan itu hanya satu gangguan, Mama dapat membayangkan berapa jumlah waktu yang dapat terbuang dari gangguan berulang sepanjang hari.

3. Multitasking mengurangi fokus dan konsentrasi

3. Multitasking mengurangi fokus konsentrasi
Freepik/Strelkova

Mungkin Mama sering melihat ketika anak yang sedang belajar, terkadang teralihkan pada media sosial, tayangan televisi, atau bermain hewan peliharaan. Multitasking yang dilakukannya mengurangi fokus dan konsentrasi anak saat belajar.

"Multitasking menciptakan respon berputar seperti kecanduan dopamin, yang secara efektif memberi penghargaan pada otak karena kehilangan fokus dan terus mencari rangsangan eksternal." ujar Daniel Levitin, seorang ahli saraf dan penulis buku.

Levitin juga mengatakan bahwa wilayah otak yang sama untuk tetap fokus pada suatu tugas mudah terganggu. Setiap kali aanak melakukan banyak tugas, menjelajahi internet, menggulir media sosial, memeriksa tugas, dan sebagainya, ia melatih otak untuk kehilangan fokus dan teralihkan.

Sama seperti efek obat, otak bisa kecanduan dopamin karena berpindah tugas dan kehilangan fokus. Jika tidak dicegah sejak dini, maka akan menjadi sangat sulit untuk menghentikan kebiasaan multitasking tersebut.

Editors' Picks

4. Multitasking bisa membuat IQ turun

4. Multitasking bisa membuat IQ turun
Freepik/Jofreepik

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of London, menemukan bahwa partisipan yang melakukan banyak tugas, mengalami penurunan poin IQ, hingga ke level rata-rata anak berusia 8 tahun.

Penelitian juga menunjukkan bahwa multitasking juga menghalangi pembelajaran. Pada tahun 2011, para peneliti, Reynol Junco dan Shelia R. Cotton, menerbitkan sebuah penelitian tentang efek multitasking pada kinerja pelajar.

Mereka menemukan bahwa rata-rata, siswa yang menggunakan media sosial dan menanggapi obrolan, saat mengerjakan tugas sekolah, memiliki IPK dan nilai yang lebih rendah, daripada mereka yang tidak.

Para peneliti mencatat bahwa, "Pemrosesan informasi manusia tidak cukup untuk menangani beberapa aliran yang masuk dan untuk melakukan tugas secara bersamaan."

Karena fokus dan perhatian yang berkualitas diperlukan untuk pembelajaran, multitasking menghalangi kemampuan anak untuk belajar dan menafsirkan informasi secara efektif.

5. Multitasking menciptakan stres dan kecemasan

5. Multitasking menciptakan stres kecemasan
Freepik

Dilansir dari theladders.com, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa multitasking meningkatkan produksi kortisol otak, yang merupakan hormon yang menciptakan stres.

Begitu anak stres dan lelah secara mental, maka menyebabkan kecemasan meningkat. Dan ini menyebabkan stres menumpuk. Sehingga multitasking merupakan lingkaran berbahaya karena menyebabkan stres dan kecemasan yang terus-menerus.

Tapi, tidak semua aktivitas multitasking sama-sama membuat stres. Salah satu penyebab stres utama pada anak adalah perubahan belajar secara daring. Kortisol berlebih diproduksi saat anak beralih antara mendengarkan panggilan video dan suara-suara yang ada di rumah.

6. Multitasking membunuh kreativitas

6. Multitasking membunuh kreativitas
Freepik.com/photoroyalty

Earl Miller, juga mengatakan bahwa multitasking dapat menghalangi kreativitas dan inovasi karena tidak mampu berpikir mendalam.

"Bagaimanapun juga, pemikiran inovatif berasal dari konsentrasi yang diperpanjang, saat mencoba melakukan banyak tugas, anak biasanya tidak cukup jauh untuk menemukan sesuatu yang orisinal karena ia terus-menerus beralih dan mundur.” ujar Miller.

Kemampuan kreatif anak dapat terbuang percuma dengan beralih antar tugas. Serta, ide-ide terobosan yang mungkin telah muncul dipikiran anak, justru hanya terlewat begitu saja pada saat-saat multitasking.

7. Multitasking dapat mengurangi kecerdasan emosional

7. Multitasking dapat mengurangi kecerdasan emosional
Freepik

Menurut penelitian ekstensif yang dilakukan oleh Travis Bradberry, penulis buku dan pakar kecerdasan emosional, kecerdasan emosional adalah ciri umum dalam 90 persen orang yang memiliki kinerja terbaik di bidang apa pun.

Bradberry mengatakan bahwa multitasking dapat merusak bagian otak, anterior cingulate cortex, yang bertanggung jawab atas kecerdasan emosional.

Selain itu, dua komponen kunci kecerdasan emosional, kesadaran diri dan sosial, juga dapat berkurang secara signifikan karena multitasking.

8. Multitasking menyebabkan kewalahan dan kelelahan

8. Multitasking menyebabkan kewalahan kelelahan
Freepik/Olga_nikiforova

Menurut ahli saraf, Daniel Levitin, multitasking membebani otak dan menghabiskan energi yang berharga.

“Meminta otak mengalihkan perhatian dari satu aktivitas ke aktivitas lain, menyebabkan korteks prefrontal dan striatum membakar glukosa beroksigen, bahan bakar yang sama dibutuhkan untuk tetap bertahan pada tugas,” menurut Levitin.

Levitin menambahkan, jenis perpindahan yang cepat dan terus-menerus yang dilakukan dengan multitasking menyebabkan otak membakar bahan bakar dengan sangat cepat, sehingga anak mudah merasa lelah dan bingung bahkan dalam waktu yang singkat, karena menghabiskan nutrisi di otak.

Jika anak pernah bertanya-tanya mengapa ia merasa lelah terus-menerus setelah multitasking, bahkan ketika liburan panjang atau tidur nyenyak, Mama kini tahu alasannya kan?

9. Multitasking dapat merusak keterampilan pengambilan keputusan

9. Multitasking dapat merusak keterampilan pengambilan keputusan
Freepik

Multitasking juga merusak keterampilan pengambilan keputusan. Dengan terus-menerus berpindah antar tugas, kekuatan anak yang berharga dapat habis dengan cepat.

Hal ini mengarah pada decision fatigue, istilah psikologis yang mengacu pada penurunan kualitas keputusan, setelah anak membuat serangkaian keputusan yang panjang.

Levitin mengatakan bahwa multitasking juga dapat menyebabkan perilaku impulsif dan keputusan yang buruk.

“Salah satu hal pertama yang hilang adalah kontrol impuls. Ini dengan cepat berubah menjadi kondisi di mana setelah membuat banyak keputusan yang tidak penting, anak akhirnya dapat membuat keputusan yang benar-benar buruk tentang sesuatu yang penting,” kata Levitin.

Akibatnya, anak akan menjadi jauh lebih sulit untuk menunda rasa kepuasan, serta menunda melatih tingkat pengendalian diri yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

Itulah beberapa dampak buruk multitasking pada otak dan produktivitas remaja, Ma. Maka dari itu, Mama harus selalu mengingatkan anak untuk mengerjakan sesuatu secara satu per satu ya, agar anak tetap fokus pada satu tugas terlebih dahulu dan setelah menyelesaikannya dengan cepat ia bisa beralih ke tugas lainnya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.