Penting! 10 Etika Menggunakan Media Sosial yang Perlu Remaja Ketahui

Dengan menerapkan ini, anak akan membuat media sosial menjadi tempat yang aman dan menyenangkan

28 Juli 2021

Penting 10 Etika Menggunakan Media Sosial Perlu Remaja Ketahui
Freepik

Kemajuan teknologi membuat hampir setiap remaja telah menggunakan media sosial. Saat ia menggulir feeds atau beranda media sosialnya, mudah untuk menemukan ungghan yang tidak senonoh, komentar yang mengerikan, atau konten yang mengganggu.

Ini bisa membuat pada anak mama mengikutinya, ketika anak menganggap bahwa konten-konten dan komentar negatif tersebut adalah sesuatu yang wajar di media sosial. 

Daripada memaksa anak untuk menonaktifkan akun media sosialnya, cobalah untuk mengajarkan anak seputar etika menggunakan media sosial yang tepat oleh pengguna pribadi. Seperti apa cara menggunakan media sosial dengan baik dan benar?

Beberapa di antarnya telah Popmama.com rangkum di bawah ini. Yuk beri tahu anak!

1.Jangan menjelek-jelekan sesuatu atau seseorang

1.Jangan menjelek-jelekan sesuatu atau seseorang
Freepik

Seringkali mungkin Mama melihat media sosial adalah wadah bagi banyak video kucing yang menggemaskan dan gambar meme yang menghibur, media sosial kini juga dipenuhi dengan kebencian dan kemarahan.

Media sosial harus menjadi platform untuk memulai diskusi yang bermakna dan mempromosikan komunikasi yang lebih baik. Sehingga ingatkan anak bahwa media sosial bukanlah tempat untuk melampiaskan kemarahan pada sesuatu atau seseorang.

Sehingga, jangan sampai anak menambah toksisitas atau keburukan media sosial dengan mengunggah, memberi komentar, atau menyebarkan hal negatif.

2. Menghargai pendapat pengguna lain

2. Menghargai pendapat pengguna lain
Pexels/Katerina Holmes

Penting untuk mengingatkan anak bahwa kenyataannya tidak semua orang memiliki pendapat yang sama dengannya. Betapapun masuk akalnya pendapat anak, ia tidak akan bisa meyakinkan semua orang.

Etika ini sangat penting saat anak akan berkomentar, memposting, atau membagikan apa pun di media sosialnya. Jika Mama melihat anak dalam perdebatan panas dengan pengguna lain, selalu ingatkan ia untuk bersikap hormat pada siapapun.

Pastikan pernyataannya didasarkan pada fakta. Selain itu, hindari menyerang orang tersebut secara pribadi dan jangan pernah menggunakan ancaman karena hal ini dapat dihukum secara sah.

3. Selalu ingat siapa yang menjadi "followers"-nya

3. Selalu ingat siapa menjadi "followers"-nya
Freepik

Alasan nomor satu mengapa sebagian besar pengguna menemukan masalah di media sosial adalah karena ia gagal mengingat siapa saja "followers"-nya.

Dengan mempertimbangkan pengikut di media sosial, anak harus dapat memilah apa yang layak dibagikan atau diposting dan apa yang tidak.Perhatikan siapa yang dapat melihat unggahan, komentar, dan foto yang ditandai.

Apakah mungkin ada guru di sekolah, keluarga besar, orangtua dari temannya, anak harus memerhatikan siapa pun yang menjadi pengikut aktifnya.

Dalam hal ini anak mengubah pengaturan privasi di akun media sosialnya, untuk mengontrol apa saja yang dapat dilihat atau disembunyikan dari pengikut tertentu.

4. Tahu kapan boleh dan tidak boleh untuk menandai orang lain di foto

4. Tahu kapan boleh tidak boleh menandai orang lain foto
Freepik

Seiringan dengan etika sebelumnya, situs media sosial harus menjadi tempat yang damai dan menyenangkan, terutama jika anak lebih peka dalam hal menandai postingan atau foto. Hal ini karena sebagai pengguna media sosial, anak harus menghormati privasi satu sama lain.

Meminta izin sebelum menandai akun temannya di media sosial adalah praktik yang baik, karena potret yang tidak menarik dapat merusak citra pribadi seseorang. Memberi tag pada foto yang salah bahkan dapat membuat temannya kehilangan kepercayaan diri.

Editors' Picks

5. Perhatikan frekuensi unggahan di media sosial

5. Perhatikan frekuensi unggahan media sosial
Freepik

Postingan berisi spam atau berbagi konten secara berlebihan dapat mengganggu, kecuali jika remaja mama memiliki pekerjaan yang mengharuskannya untuk mengunggah di media sosial, seperti content creator.

Anak tidak harus membagikan aktivitas atau kehidupan pribadinya di media sosial, mulai dari ia bangun tidur hingga waktunya tidur di malam hari.

6. Membangun reputasi yang positif

6. Membangun reputasi positif
Freepik

Untuk menjelaskan ini pada anak, cobalah mengajak anak untuk melihat profilnya sendiri. Lalu buatlah anak seakan-akan dirinya orang asing yang mengunjungi akun media sosialnya, apa yang akan anak pikirkan atau katakan tentang profilnya?

Ini adalah praktik yang baik untuk memeriksa profilnya sendiri, dan mengidentifikasi seperti apa citra dirinya melalui unggahan yang ia bagikan.

Unggahan atau komentar dapat menjadi jejak digital yang mungkin menghancurkan masa depan anak, terutama ketika ingin mendaftar di perguruan tinggi atau ingin melamar pekerjaan. Petugas perekrutan sekarang memeriksa media sosial untuk menemukan dan menyaring bakat potensial.

Nantinya mereka mungkin akan memeriksa ulang latar belakang anak melalui profil media sosial. Maka dari itu, penting untuk selalu mengingatkan anak agar berhati-hati dengan apa pun yang ia bagikan atau posting, mungkin itu tidak berdampak saat ini, tetapi bisa berdampak untuk masa depannya.

7. Selalu menuliskan sumber pada karya orang lain

7. Selalu menuliskan sumber karya orang lain
Pexels/Pixabay

Ketika anak menemukan berbagai gambar yang bagus di media sosial dan ingin mengunggah ulang di profilnya, pastikan ia meminta izin dan mengutip sumber karya/materi/konten milik orang lain yang membuatnya.

Yup, media sosial adalah wadah yang tepat untuk membagikan karya agar bisa dilihat oleh banyak orang. Berikan gambaran ketika anak berusaha semaksimal mungkin untuk membuat karya yang unik, dan ada orang lain yang menggunakannya secara diam-diam, tentu anak akan merasa marah bukan?

Maka dari itu penting bagi anak untuk bersikap sopan dan menghargai siapapun yang membuat karya dengan meminta izin dan mengutip sumbernya.

8. Jangan menyebarkan berita palsu

8. Jangan menyebarkan berita palsu
Freepik/Pvproduction

Media sosial kini juga menjadi platform untuk menginformasikan berita, terutama untuk para remaja dan dewasa muda agar lebih sadar akan keadaan sekitarnya dan dunia. Namun tak sedikit berita-berita hoax yang tersebar di media sosial.

Meskipun ada banyak konten hebat di media sosial, adalah tanggung jawab moral dan sosial para penggunanya untuk tidak menyesatkan orang lain dengan menyebarkan berita palsu.

Ketika anak melihat pemberitaan hebat yang ia ikuti atau minati, ingatkan agar ia selalu periksa sumbernya dan bersikap kritis dengan apa yang dibaca. Jangan mudah tertipu dengan informasi yang tidak dapat dipercaya.

9. Jangan melakukan cyberbullying

9. Jangan melakukan cyberbullying
Freepik

Ketika Mama memberikan ponsel dan izin bagi anak untuk menggunakan media sosial, ketahuilah bahwa ini akan menjadi tanggung jawab anak yang cukup dewasa dan mengerti untuk menentang dan tidak menjadi bagian dari cyberbullying.

Penting bagi anak untuk selalu peka saat berinteraksi dengan orang lain di media sosial. Tekankan aturan "The Golden Rule" pada anak, di mana ia harus memperlakukan orang lain seperti sebagaimana ia ingin diperlakukan, walaupun hanya melakukan interaksi sebatas daring.

10. Menjaga privasi akun media sosial anak dengan baik

10. Menjaga privasi akun media sosial anak baik
Freepik/Peoplecreations

Bagian dari membangun reputasi yang baik secara online adalah menjaga segala sesuatunya tetap pribadi. Pastikan bahwa anak mampu menjaga keamanan informasi pribadinya, dan ini akan membantu melindunginya dari penipuan online dan pencurian identitas.

Manfaatkan pengaturan privasi saluran media sosial yang anak gunakan. Pengaturan ini sekarang lebih fleksibel dan membantu menjaga konten dan profil anak tetap aman dari tangan-tangan yang jahil.

Nah itulah beberapa etika dalam menggunakan media sosial yang dapat Mama ajarkan pada anak remaja ketika ia mulai menggunakan media sosial. Dengan etiket media sosial yang tepat, remaja sebagai generasi muda akan membuat media sosial menjadi tempat yang lebih baik dan menyenangkan seperti seharusnya!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.