Lebih Rentan Stres, 8 Fakta Penting Seputar Perkembangan Otak Remaja

Anak suka menghabiskan waktu dengan tidur? Jangan dimarahi dulu Ma, ada alasannya lho!

5 Juli 2021

Lebih Rentan Stres, 8 Fakta Penting Seputar Perkembangan Otak Remaja
Freepik/Luis-molinero

Tahukah Ma, bahwa anak remaja saat ini berada di tengah-tengah tahap perkembangan otak yang kritis? Saat memasuki usia remaja, otak anak sedang mengalami beberapa perubahan besar, dan ini adalah sumber pendorong di balik beberapa perilaku remaja yang suka menantang.

Mama mungkin telah mengetahui tentang perkembangan anak yang bergantung pada pertumbuhan otak yang terus terbentuk, bahkan hingga masa remaja.

Karena itulah, kali ini Popmama.com akan membahas beberapa fakta otak remaja yang mengejutkan, dan dapat membantu Mama memahami perubahan yang anak alami, dan bagaimana perubahan ini dapat memengaruhi perilakunya.

Baca terus ya!

1. Memerlukan lingkungan yang tenang dan aman

1. Memerlukan lingkungan tenang aman
Freepik/Demanna

Ukuran tubuh remaja terkadang menjulang di atas orangtuanya, tetapi jangan biarkan tinggi dan pertumbuhan fisik anak menipu Mama. Ingatlah kembali bahwa anak mama pasti belum dewasa saat ia masih remaja.

Faktanya, otak remaja masih mengalami begitu banyak perubahan sehingga benar-benar membutuhkan lingkungan yang aman untuk berkembang.

Dilansir dari Kids Health, lingkungan yang aman, di mana remaja memiliki dukungan orangtua yang penuh kasih dan konsisten sangat penting bagi otaknya untuk berkembang dengan baik.

Masa remaja menjadi masa kritis untuk perkembangan otak, dan anak dapat memperoleh manfaat besar dari memiliki lingkungan yang tenang dan aman di rumah.

2. Otak remaja perlu didorong

2. Otak remaja perlu didorong
Freepik/Zinkevych

Sekarang Mama telah mengetahui bahwa otak remaja masih terbentuk dan berkembang dan membutuhkan tempat yang aman untuk tumbuh dan berkembang. Namun, ada satu elemen lagi yang perlu Mama ingat.

Otak remaja membutuhkan banyak dorongan agar dapat tumbuh dengan sehat. Remaja mencari pengakuan, dukungan, dan pengertian orangtua, dan mengandalkan mereka untuk bersikap pengertian dan berempati terhadapnya.

Seorang remaja membutuhkan orangtua untuk percaya dan mendukung minatnya.

3. Otak remaja berkembang pada hadiah, bukan hukuman

3. Otak remaja berkembang hadiah, bukan hukuman
Freepik/Sviatkovskyi

Ada banyak manfaat yang dihasilkan dari menawarkan hadiah kepada anak-anak dari segala usia. Bentuk apresiasi seperti penghargaan yang lebih sehat dan optimis, bekerja untuk memotivasi remaja agar berbuat lebih baik, bertujuan lebih tinggi, dan mencapai hal-hal besar.

Sedangkan metode hukuman mengakui perilaku buruk dan menganggapnya sebagai sumber masalah.

Masih dilansir dari Kids Health, para ahli menunjukkan bahwa otak remaja akan berkembang saat ditantang untuk mencapai tujuan yang positif dan realistis, sehingga pemberian apresiasi akan membantunya tetap fokus pada pertumbuhan dan peningkatan.

Editors' Picks

4. Bagian otak remaja yang paling sering digunakan berhubungan dengan perasaan

4. Bagian otak remaja paling sering digunakan berhubungan perasaan
Freepik

Jika Mama telah menghabiskan banyak waktu dengan anak, Mama mungkin akan menyadari betapa dramatis dan emosionalnya anak. Ini sebenarnya merupakan tanda dari kondisi perkembangan otak remaja saat ini.

Dilansir dari Kids Health, penelitian telah dilakukan untuk menunjukkan bahwa remaja sering “berpikir dengan perasaannya”.

Orang dewasa menggunakan korteks prefrontal untuk melihat wajah dan mencoba memutuskan emosi apa yang sedang terjadi. Sedangkan remaja paling banyak menggunakan amigdala daripada korteks prefrontalnya dari waktu ke waktu.

Dilansir dari Healtline, amigdala berperan dalam memberikan makna pada emosi, mengingatnya, dan melekatkannya pada asosiasi dan tanggapan terhadapnya (ingatan emosional). Dengan kata lain, ini adalah fakta bahwa remaja menggunakan emosi untuk mencoba dan memahami emosinya.

5. Otak remaja diprogram untuk mengambil risiko

5. Otak remaja diprogram mengambil risiko
Freepik/Bearphotos

Mama terkejut mengetahui bahwa perilaku berani mengambil risiko yang ditunjukkan anak remaja bukan disebabkan karena kurangnya rasa hormat pada batas-batas yang telah ditetapkan.

Dilansir dari Brain Facts, peningkatan konektivitas dan ketidakseimbangan antara bagian otak yang bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan dan pengendalian diri, dan yang terlibat dalam motivasi dan emosi, dapat mengarahkan remaja untuk mencari pengalaman baru.

Hal ini membuat remaja lebih cenderung mengambil risiko dan mencari pengalaman baru dalam kegembiraan, dan dapat menyebabkan situasi bermasalah dengan zat, alkohol, dan perilaku berisiko tinggi lainnya.

6. Perubahan hormon memengaruhi otak, membuat remaja tampil egois

6. Perubahan hormon memengaruhi otak, membuat remaja tampil egois
Freepik/Rawpixel-com

Dilansir dari Live Science, perubahan hormon saat pubertas memiliki efek besar pada otak, salah satunya adalah memacu produksi lebih banyak reseptor untuk oksitosin.

Hal ini menyebabkan remaja merasa seolah-olah ada banyak fokus dan perhatian yang diberikan kepadanya, dan mengarahkannya untuk menampilkan dirinya sebagai orang yang egois atau narsis pada waktu-waktu tertentu.

Ini adalah pertama kalinya di mana remaja dapat melihat bagaimana ia bisa menyesuaikan diri dengan dunia, dan dapat mulai berkomunikasi serta memahami perannya dalam masyarakat.

7. Otak remaja lebih rentan terhadap stres

7. Otak remaja lebih rentan terhadap stres
Freepik

Mama mungkin menyadari fakta bahwa stres berbahaya bagi manusia dalam banyak hal. Namun, Mama juga harus memerhatikan fakta bahwa otak remaja jauh lebih rentan terhadap stres pada tahap perkembangan yang sensitif ini.

Para ahli di National Institute of Mental Health mengatakan bahwa karena otak remaja masih berkembang, remaja dapat merespons stres secara berbeda dari orang dewasa, yang dapat menyebabkan gangguan mental terkait stres seperti kecemasan dan depresi.

8. Otak remaja butuh banyak tidur

8. Otak remaja butuh banyak tidur
Freepik/user17067123

Mama suka melihat anak menghabiskan waktu akhir pekan dengan tidur siang? Jika iya, mungkin saja anak mama sebenarnya sama sekali tidak malas, tetapi ia membutuhkan lebih banyak tidur daripada yang Mama kira sebelumnya.

Studi yang dilakukan oleh National Institute of Mental Health Research, menunjukkan bahwa tingkat melatonin atau hormon tidur dalam darah secara alami lebih tinggi di malam hari, dan turun di pagi hari pada remaja daripada pada kebanyakan anak-anak dan orang dewasa.

Perbedaan ini mungkin menjelaskan mengapa banyak remaja begadang dan berjuang untuk bangun di pagi hari.

Faktanya, jumlah tidur yang disarankan untuk remaja adalah antara 9-10 jam tidur, jadi tak apa-apa membiarkan anak untuk tidur siang, otaknya mengharuskan untuk beristirahat!

Nah itulah beberapa fakta menarik seputar perkembangan otak remaja yang perlu Mama ketahui. Dalam hal ini penting bagi orangtua untuk lebih sering berkomunikasi dengan anak saat ia tumbuh remaja.

Lingkungan yang aman di mana remaja memiliki dukungan yang konsisten dan penuh kasih sangat penting bagi otaknya untuk berkembang dengan baik. Walaupun fisiknya tampak lebih besar, anak tetap membutuhkan Mama untuk mempercayainya dan mendorongnya lho!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.