5 Hal yang Tak Boleh Orangtua Lakukan saat Anak Tidak Sopan

Terkadang ada perilaku orangtua yang memicu anak untuk tidak sopan lho!

26 Mei 2021

5 Hal Tak Boleh Orangtua Lakukan saat Anak Tidak Sopan
Freepik/Escapejaja

Perilaku tidak sopan dari remaja bisa datang dalam berbagai bentuk, seperti memutar mata, mengutuk, menghina, berbicara di belakang, mengabaikan permintaan, hingga mengeluarkan komentar sinis.

Jika Mama berjuang dengan perilaku tidak sopan dari anak remaja mama, Mama tidak sendirian.

Perilaku tidak sopan merupakan salah satu cara yang tidak tepat bagi anak-anak terutama remaja, untuk mencoba menyelesaikan masalahnya.

Secara alami, anak mencari cara untuk meningkatkan kemandirian seiring bertambahnya usia, dan sikap tidak hormat adalah salah satu cara untuk mengungkapkan kemandirian. Itulah kadang yang jadi pola pikir mereka.

Meskipun dalam beberapa kasus itu mungkin normal, perilaku tidak sopan bukanlah sesuatu yang dapat dibiarkan begitu saja.

Tanpa disadari ada beberapa perilaku orangtua yang justru mendorong perilaku tidak sopan pada anak.

Kali ini Popmama.com akan memberikan informasi seputar perilaku orangtua yang mendorong anak menjadi tidak sopan dan apa saja yang dapat Mama lakukan sebagai gantinya:

1. Jangan mengambil segalanya secara pribadi atau berlebihan

1. Jangan mengambil segala secara pribadi atau berlebihan
Freepik/Alf061

Hampir setiap remaja suka meledek orangtuanya tanpa henti, mengungkapkan rasa frustrasi dengan berbagai cara. Mata berputar, mengejek, menyeringai, itu semua adalah perilaku remaja yang menunjukkan ketidakpeduliannya.

Dan seperti yang Mama tahu, perilaku ringan dan menjengkelkan itu terkadang bisa mengganggu Mama. Jika tersinggung, akan sulit bagi Mama untuk merespons secara efektif. Meskipun hal-hal ini mengganggu, belum tentu merupakan sesuatu yang harus diperbaiki.

Apa yang harus dilakukan:

Putuskan perilaku mana yang akan Mama fokuskan, dan perilaku mana yang dapat diabaikan. Misalnya ketika anak bergumam pelan saat melakukan apa yang Mama perintahkan, bertingkah lakulah seperti melihat anak normal pada umumnya.

Namun Mama perlu memperbaiki perilakunya, saat anak memperlakukan Mama atau orang lain dengan buruk sambil menolak untuk memenuhi permintaan. Ingatlah bahwa perilaku yang menjengkelkan itu bukanlah tentang Mama, namun hanyalah ekspresi frustrasi seorang remaja.

Peran Mama adalah menangani perilaku anak seobyektif mungkin.

Ini bukan berarti Mama tidak akan kesal. Temukan saja cara untuk menangani emosi itu jauh dari interaksi dengan anak, jika memungkinkan. Biarkan saja, dan tetap fokus pada aktivitas Mama.

Editors' Pick

2. Jangan menjelek-jelekkan orang lain

2. Jangan menjelek-jelekkan orang lain
Freepik/drobotdean

Tak dapat dipungkiri, hidup terkadang bisa membuat Mama menjadi lebih stres, seperti banyak tumpukan pekerjaan, pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, hingga anggota keluarga bisa menjengkelkan.

Sebagai orangtua, Mama memiliki banyak kesempatan untuk menunjukkan kepada anak bagaimana mengelola perilaku saat kesal.

Bukan rahasia umum lagi jika anak dapat belajar dari perilaku orangtuanya. Jika Mama berbicara buruk tentang orang lain, atau memperlakukan orang lain dengan tidak hormat, jangan kaget jika anak mengikutinya.

Apa yang harus dilakukan:

Orangtua harus menjadi teladan perilaku yang lebih baik untuk anak. Ingat, anak selalu mengawasi, meskipun ia tampak tidak peduli dengan apa yang dilakukan orangtuanya. Jika Mama menghargai rasa hormat, teladanlah perilaku yang penuh hormat. Lakukan yang terbaik untuk menunjukkan kepada anak cara melakukannya.

3. Jangan selalu memihak anak

3. Jangan selalu memihak anak
Freepik/Zinkevych

Katakanlah remaja mama mengeluh tentang banyaknya pekerjaan rumah yang ia miliki, menyebut seorang guru yang tidak menghormati murid-muridnya karena memberikan banyak tugas.

Mama mungkin setuju bahwa guru ini memang memberikan terlalu banyak pekerjaan rumah.

Jika memihak anak dalam kasus ini, Mama mungkin mengatakan setuju bahwa gurunya tidak profesional dan melakukan pekerjaan yang buruk.

Mama setuju bahwa anak tidak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah karena jelas gurunya salah.

Ketika berpihak pada anak, sebagai akibatnya Mama juga bergabung dengan anak dalam perilaku tidak hormat.

Hal ini menunjukkan kepada anak bahwa ia tidak harus menghormati seseorang yang tidak disetujui.

Sehingga, pesan yang didengar anak seperti “Jika menurutmu seseorang salah, kamu berhak untuk bersikap kasar.”

Apa yang harus dilakukan:

Ketika anak merasa tidak setuju dengan perilaku orang lain seperti guru, beri tahu anak bahwa apa pun perilakunya.

Gurunya tersebut masih perlu menemukan cara untuk bertindak dengan tepat.

Salah satu keuntungan dari pendekatan ini adalah kemungkinan besar anak nantinya akan bertemu dengan banyak orang di masa dewasanya yang mungkin gagasannya tidak ia setujui.

Bantu anak dalam mempelajari keterampilan yang dibutuhkan untuk menangani perselisihan itu dengan tenang dan tepat.

4. Jangan lupa memperhatikan perilaku baiknya

4. Jangan lupa memperhatikan perilaku baiknya
Freepik/Wavebreakmedia

Mungkin Mama selalu berpikir untuk selalu mengoreksi dan mengarahkan ulang perilaku remaja setiap ada kesempatan. Namun terkadang, anak dapat berhasil melakukan sesuatu dengan benar, tetapi masa-masa sulitnya jauh lebih besar terlihat daripada kemajuannya.

Anak remaja bisa sama seperti orang dewasa, ketika dikoreksi terus-menerus dapat menimbulkan kebencian.

Jika Mama tidak pernah menyadari saat anak berhasil mengendalikan perilakunya, anak mungkin akan berhenti berperilaku negatif dan mengembangkan perilaku yang lebih baik.

Memberikan perhatian terhadap kegagalan yang disertai tanpa pengakuan pada kesuksesan kecil, dapat meningkatkan perilaku tidak sopan anak.

Apa yang harus dilakukan:

Remaja dapat menanggapi pujian dengan baik. Pujian tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberi anak umpan balik yang penting, yaitu mengakui perilaku yang baik dan memperkuat keterampilan itu.

Jika melihat anak melakukan sesuatu dengan baik, Mama dapat berkata:

“Ketika kamu berusaha untuk lebih tenang daripada marah-marah, itu bagus. Mama tahu kamu telah berusaha mengendalikan amarahmu. Mama menghargainya. ”

5. Jangan menuntut rasa hormat

5. Jangan menuntut rasa hormat
freepik/peoplecreations

"Mama ini orangtuamu dan kamu harus menghormati Mama!" Apakah ini terdengar familiar?

Dilansir dari empoweringparents.com, faktanya, banyak anak yang tidak selalu menghormati orangtuanya.

Hal ini bisa sangat normal ketika anak remaja mama berpikir bahwa ia tahu lebih banyak daripada Mama.

Hampir setiap remaja berpikir bahwa ia lebih pintar dan lebih mengerti daripada orangtuanya.

Jadi inilah masalahnya, rasa hormat adalah perasaan, dan Mama tidak dapat mengatur perasaan remaja. Mencoba memaksa anak untuk menghormati orangtua, sulit untuk berhasil.

Tetapi jika orangtua tidak dapat menuntut rasa hormat remaja, bagaimana bisa menghentikannya dari bertindak begitu buruk?

Jawabannya terletak pada perilaku remaja, bukan perasaannya.

Apa yang harus dilakukan:

Mama tidak dapat menuntut rasa hormat, tetapi dapat meminta anak untuk bertindak dengan hormat di situasi apapun. Salah satu cara efektif untuk melakukannya yaitu, jika remaja berperilaku tidak hormat, Mama dapat memberi tahunya,

“Kamu tidak harus menyukai aturan, tetapi kamu harus mematuhinya. Hanya karena kamu kesal bukan berarti kamu harus memalingkan wajah saat Mama berbicara," Ingat, tetap fokus pada perilakunya, dan biarkan perasaan itu sendiri.

Dalam jangka panjang, anak akan lebih menghormati jika Mama tetap tenang dan menegakkan aturan secara konsisten.

Nah, itulah beberapa hal yang perlu Mama ketahui dalam menanggapi anak remaja yang tidak sopan. Hindari sikap di atas ya, Ma.

Ketahuilah bahwa Ini akan membutuhkan waktu dan latihan, tetapi sebagai orangtua, Mama dapat membantu anak belajar berperilaku dengan cara yang lebih menunjukkan rasa hormat dan sopan pada siapapun.

Cara-cara ini berlaku untuk sikap tidak hormat ringan hingga sedang.

Jika perilaku anak lebih ekstrim dari contoh di atas, pastikan untuk menghubungi dukungan lebih lanjut.

Baca juga:

The Latest