12 Tanda Remaja Mulai Sembuh dari Trauma Masa Kecil

Walaupun bukan proses yang cepat, tanda-tanda pemulihan ini akan terlihat

19 Juni 2021

12 Tanda Remaja Mulai Sembuh dari Trauma Masa Kecil
Freepik/Artfolio

Beberapa remaja memiliki tumbuh dengan pengalaman trauma masa kecil. Trauma masa kecil dapat terjadi ketika remaja pernah menyaksikan atau mengalami pengalaman negatif yang di masa kanak-kanak yang membuatnya kewalahan. Ini bisa terjadi dalam hubungan misalnya pelecehan, penelantaran, kekerasan.

Meskipun tidak tepat satu ukuran untuk semua, remaja dapat menunjukkan tanda-tanda kemajuan dari proses penyembuhan traumanya.

Namun, perlu diingat bahwa penyembuhan trauma adalah sebuah proses, yang memakan waktu tidak sebentar dan ada kemunduran dan kemajuan.

Untuk membantu Mama menilai kemajuan anak, kali ini Popmama.com akan membahas tanda-tanda bahwa anak remaja mulai sembuh dari traumanya.

Simak yuk apa saja tanda-tandanya!

1. Anak menjadi lebih baik dalam memberi nama pada perasaannya

1. Anak menjadi lebih baik dalam memberi nama perasaannya
Freepik/Kukota

Berkurangnya kecerdasan emosional sangat umum, terutama bagi remaja yang dibesarkan di lingkungan di mana ia pernah diejek atau dipermalukan karena menunjukkan emosi, mengatakan apa yang dianggap tidak penting, atau diberitahu bahwa perasaannya adalah masalah sepele.

Karena anak yang pernah mengalami masa-masa tidak dicintai, tidak belajar mengelola emosi negatif, ia juga cenderung menyingkirkan perasaannya secara sadar. Sehingga semakin sulit baginya untuk mengetahui dengan tepat apa yang dirasakannya.

Namun, saat menjalani masa penyembuhan trauma, kecerdasan emosional anak dapat dipupuk, dilatih dan diasah.

Sehingga saat sembuh, ia mampu menjelaskan atau memberi label nama pada perasaannya.

Anak perlu mengetahui kapan ia marah, sedih, malu, atau senang.

2. Anak tidak langsung menyalahkan diri sendiri ketika ada yang salah

2. Anak tidak langsung menyalahkan diri sendiri ketika ada salah
Freepik

Menyalahkan atau mengkritik diri sendiri dan mengkritik diri sendiri, adalah kebiasaan yang menganggap kesalahan sebagai sifat karakter diri yang tetap dan tidak dapat diubah.

Menurut Psychology Today, perilaku ini cenderung terjadi pada anak perempuan yang merasa tidak dicintai.

Terkadang, menyalahkan diri sendiri hanyalah “gema” dari apa yang dikatakan anak ketika bersama lingkungan asalnya, terutama jika ia banyak disalahkan dalam segala situasi.

Ini juga membuat anak menahan untuk berbicara kebenaran menurut dirinya sendiri dan memilih diam karena takut memicu permasalahan.

Sebuah tanda kemajuan ketika anak mulai mampu melihat kegagalan dan kesalahan dengan cara yang lebih kompleks, ketika ia secara sadar mengakui kesalahan yang disebabkan oleh peran orang lain, peran diri sendiri, serta faktor-faktor lain.

3. Anak tidak secara otomatis menebak-nebak atau merenungkan

3. Anak tidak secara otomatis menebak-nebak atau merenungkan
Freepik/Wavebreakmedia-micro

Penyembuhan ini disebut peningkatan kepercayaan diri, dan itu dimulai sebagai bibit yang harus terus anak rawat sampai benar-benar mulai tumbuh. Kepercayaan diri juga menjadi penangkal kebiasaan anak yang sering berpikir negatif.

Misalnya sebelumnya selalu memiliki kritik negatif di kepalanya tengah malam, yang meragukan setiap keputusannya, dan membuat anak selalu bertanya-tanya “Apakah aku pernah melakukan sesuatu dengan benar?”

4. Anak dapat berbicara tanpa khawatir

4. Anak dapat berbicara tanpa khawatir
Freepik/Pressmaster

Banyak remaja yang takut untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya, meskipun dengan alasan yang berbeda-beda.

Beberapa merasa ingin bersembunyi agar tidak menarik perhatian, misalnya karena merasa orangtuanya sangat agresif dan siap untuk berkelahi, atau memiliki orangtua yang sangat mementingkan diri sendiri.

Dalam buku Rethinking Narcissism, Dr. Craig Malkin menyebut sifat yang dipelajari ini sebagai “echoisme.”

Anak terlalu fokus untuk menyenangkan orang lain sehingga ia tidak mampu menyuarakan pendapat dan kebutuhan.

Ciri penyembuhan diri yang berkembang, yaitu anak harus berani menunjukkan pendapatnya.

5. Anak menjadi tidak terlalu sensitif terhadap penolakan atau penghinaan

5. Anak menjadi tidak terlalu sensitif terhadap penolakan atau penghinaan
Freepik/Wavebreakmedia-micro

Ini menjadi salah satu ciri keterikatan yang dipenuhi kecemasan.

Beberapa anak yang tidak merasa dicintai sejak masa kanak-kanak, muncul dengan masalah sensitif terhadap penolakan atau penghinaan.

Ia menjadi waspada setiap hari, jika merasa seseorang akan meninggalkan atau menolaknya. 

Sayangnya, risiko masalah ini adalah respons emosional ketika anak bereaksi cenderung membuat orang lain menjauh.

Hal ini memungkinkan seorang remaja akan mengalami terlalu banyak drama dalam hubungan sosialnya. Namun, tanda kemajuan yang sebenarnya adalah anak menyadari apa yang menjadi pemicunya, dan tidak merendahkan diri saat mengalami penolakan atau penghinaan.

Editors' Picks

6. Anak mengenali, memberi label, dan membongkar pemicu trauma

6. Anak mengenali, memberi label, membongkar pemicu trauma
Freepik/Zinkevych

Bukan hanya dari sensitivitas penolakan saja, tetapi penyembuhan trauma juga bisa dilihat dari bagaimana anak mulai mengenali pemicu trauma lain di lingkungan sekitarnya.

Bahkan ketika tidak disadari, ini tidak akan membuat anak pergi ke pengalaman traumatisnya yang mulai muncul dalam kesadaran.

Kabar baiknya di sini adalah, bahwa anak berbeda dari dirinya sewaktu masih kecil dahulu, ia akhirnya mampu “mengemudikan” dirinya sendiri dengan baik.

7. Anak menghormati batasan dan menetapkan batasannya sendiri

7. Anak menghormati batasan menetapkan batasan sendiri
Freepik/user12688291

Sementara anak yang terikat dengan cemas salah melihat batas sebagai tanda penolakan, anak remaja dengan kemampuan yang berkembang, mampu mengenali batasan yang sehat, baik batasan orang lain maupun diri sendiri.

Ini menjadi sebuah tanda kemampuan anak untuk terhubung dengan cara yang lebih sehat. Saat anak mulai melihat dirinya secara utuh, ia menjadi lebih mudah untuk melihat orang lain dengan cara yang sama.

8. Anak bangga dengan apa yang ia tangani dengan baik, dan mengatasi apa yang gagal

8. Anak bangga apa ia tangani baik, mengatasi apa gagal
Freepik/Senivpetro

Kemampuan remaja untuk memberi selamat kepada diri sendiri dan merayakan kemajuannya, serta mengatasi salah langkah, kesalahan, dan kegagalan, adalah cara lain untuk mengukur seberapa jauh anak sembuh dari trauma.

Memiliki kemampuan introspeksi diri, terutama ketika ia melakukan kesalahan, adalah penanda yang sangat penting, meskipun biasanya lambat datangnya.

Namun sikap menghancurkan diri sendiri secara mental dan emosional, membutuhkan waktu untuk penyembuhan.

9. Anak mulai melihat diri sendiri secara sepenuhnya

9. Anak mulai melihat diri sendiri secara sepenuhnya
Freepik/Rawpixel-com

Salah satu pertumbuhan mental yang negatif adalah, ketidakmampuan anak untuk melihat diri sendiri dengan jelas, kebiasaan mengkritik diri sendiri, dan memperbesar kekurangan yang ia miliki.

Ini juga merupakan masalah bagi para keluarga yang terlalu banyak mengkritik, meremehkan, atau mengontrol, sehingga membuat dampak besar yang harus dihadapi seorang remaja.

Melihat diri sendiri juga dapat diartikan secara harfiah ketika anak mulai melepaskan beberapa hal negatif yang ia miliki tentang tubuh dan penampilan fisiknya.

10. Anak tidak lagi malu

10. Anak tidak lagi malu
Freepik/User16766420

Titik balik yang besar adalah pengakuan anak bahwa perlakuan negatif orang lain terhadapnya tidak ada hubungannya dengan fisik atau perilakunya, dan semuanya berkaitan dengan orang tersebut itu sendiri.

Rasa malu karena tidak dicintai, merasa dikucilkan, dan perasaan terasing perlahan-lahan mulai memudar ketika anak semakin menjadi dirinya sendiri.

Berikan pemahaman bahwa anak tidak sendirian, dan bahwa banyak orang lain menghadapi krisis serupa, tujuannya untuk membantu anak dalam mengatasi apa yang seharusnya tidak pernah terjadi padanya sejak awal.

11. Anak menetapkan tujuan pribadi

11. Anak menetapkan tujuan pribadi
Freepik/beshenayabelka

Ini sebenarnya masalah yang sangat besar ketika anak yang tidak dicintai sering merasakan ketidakberdayaan yang mendalam, terutama dalam hal pertumbuhan pribadi.

Pikiran-pikiran tersebut bahkan mungkin tidak secara sadar diterima sebagai "kebenaran" tentang siapa dirinya.

Secara berlawanan, penilaian diri ini dapat hidup berdampingan ketika anak menjadi seseorang yang berprestasi di dunia nyata, dan mengarah pada "Imposter Syndrome" atau perilaku yang seringkali membuat anak meragukan atau merasa tidak pantas meraih pencapaiannya sendiri.

Namun jika anak mulai menetapkan tujuan pribadi dan mencapainya langkah demi langkah, adalah tanda kemajuan nyata.

12. Anak mulai mengelola emosinya dengan keterampilan

12. Anak mulai mengelola emosi keterampilan
Freepik/Miksturaproduction

Saat anak mulai menggunakan teknik untuk mengelola emosi, ia akan melihat perubahan kecil namun bertahap.

Mama akan melihat bahwa anak kini mampu mengantisipasi situasi stres dan dapat menemukan strategi untuk menghadapinya,

Bahkan anak bisa menjadi lebih mahir dalam menenangkan diri. Namun, seperti biasa, langkah kecil ini bertambah seiring waktu.

Nah itulah beberapa tanda seorang remaja mulai sembuh dari pengalaman traumatisnya. Pahami bahwa penyembuhan adalah proses yang panjang dan lambat, tetapi akan ada tanda-tanda perubahan dan pertumbuhan di sepanjang prosesnya.

Dan ingatlah untuk menjadi pemandu sorak bagi anak, dan menunjukkan belas kasih ketika anak kembali ke kebiasaan lama.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.