Dalam keyakinan Islam, peristiwa kenaikan Nabi Isa Almasih ke langit merupakan mukjizat besar yang membuktikan kekuasaan Allah SWT dalam melindungi utusan-Nya.
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا ٱلْمَسِيحَ عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ لَفِى شَكٍّۢ مِّنْهُ ۚ مَا لَهُم بِهِۦ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًۢا ١٥٧
Wa qaulihim innā qatalnal-masīḥa ‘īsabna maryama rasūlallāh(i), wa mā qatalūhu wa mā ṣalabūhu wa lākin syubbiha lahum, wa innal-ladzīnakhtalafū fīhi lafī syakkim minhu, mā lahum bihī min ‘ilmin illat-tibā‘aẓ-ẓanni, wa mā qatalūhu yaqīnā.
Artinya: “dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Almasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) Isa, selalu dalam keragu-raguan tentang siapa yang dibunuh. Mereka benar-benar tidak tahu (siapa sebenarnya yang dibunuh), melainkan mengikuti persangkaan belaka, jadi mereka tidak yakin telah membunuhnya,”
Ayat ini menjadi dasar bahwa Nabi Isa tidak dibunuh maupun disalib, melainkan ada seseorang yang "diserupakan" (shubbiha lahum) untuk menggantikan posisi beliau.
Terdapat 2 versi yang menjelaskan sosok yang menyerupai Nabi Isa. Versi pertama mengisahkan tentang seorang pemuda paling muda di antara para sahabat yang memiliki keberanian luar biasa. Ia mengangkat tangan bukan hanya sekali, melainkan hingga tiga kali untuk menunjukkan kesungguhan dan keikhlasannya dalam berkorban.
Di tengah kepungan kaum yang memusuhi dan berniat membunuhnya, Nabi Isa dengan tenang menawarkan sebuah kemuliaan kepada para sahabatnya dengan bertanya, “Siapa yang mau diserupakan denganku, dibunuh menggantikan aku, dan menjadi temanku di surga?” Di sinilah muncul dua versi besar mengenai siapa sosok yang akhirnya diserupakan tersebut.
Namun, terdapat versi kedua yang juga populer dalam berbagai tafsir, yang menyebutkan bahwa sosok yang diserupakan adalah Yudas Iskariot. Sebagai murid yang berkhianat dan membocorkan lokasi persembunyian demi imbalan materi, Allah memberikan balasan setimpal dengan mengubah wajah Yudas menjadi sangat mirip dengan Nabi Isa di tengah kekacauan pengepungan tersebut.
Akibatnya, para prajurit salah menangkap orang dan justru menyalib sang pengkhianat, sementara Nabi Isa telah diangkat ke langit.
Kedua versi ini pada akhirnya bermuara pada satu keyakinan yang sama, bahwa rencana manusia tidak akan pernah bisa mengalahkan ketetapan Ilahi.