Nabi Ilyasa adalah nabi ke-20 dalam daftar 25 nabi yang wajib diimani umat Islam. Kisah hidupnya erat kaitannya dengan Nabi Ilyas, yang juga seorang nabi dari Bani Israil. Nabi Ilyasa dikenal karena keteguhan hatinya dalam berdakwah, keimanan yang luar biasa, serta mukjizat yang diberikan Allah untuk menolong umatnya. Akan tetapi, sebelum menjadi seorang nabi, perjalanan hidup Nabi Ilyasa dipenuhi dengan cobaan.
Apa sajakah itu? Dan bagaimana kisahnya?
Awal Pertemuan Nabi Ilyasa dengan Nabi Ilyas
Di masa mudanya, Nabi Ilyasa mengalami sakit parah yang hampir merenggut nyawanya. Dalam kondisi ini, ia bertemu dengan Nabi Ilyas yang sedang melarikan diri dari kemurkaan kaum Bani Israil di Balabak.
Nabi Ilyas pada saat itu memperingatkan kaumnya untuk meninggalkan penyembahan berhala dan kembali kepada Allah. Namun, seruan tersebut justru dianggap penghinaan oleh kaum yang marah hingga mereka mengejar Nabi Ilyas.
Ketika Nabi Ilyas bertemu Nabi Ilyasa, ia berdoa kepada Allah agar penyakit Ilyasa disembuhkan. Doa itu dikabulkan, dan Nabi Ilyasa sembuh secara ajaib. Sejak saat itu, Nabi Ilyasa menjadi pengikut setia Nabi Ilyas dan belajar banyak hal tentang dakwah serta keimanan.
Nabi Ilyasa Menjadi Anak Angkat Nabi Ilyas
Karena kesetiaannya, Nabi Ilyas mengangkat Nabi Ilyasa menjadi anak angkat. Keduanya menjadi sahabat dalam dakwah, memperjuangkan kebenaran di tengah-tengah kaum Bani Israil yang semakin terjerumus dalam kemaksiatan. Nabi Ilyasa juga kerap menemani Nabi Ilyas dalam setiap misinya untuk memperingatkan kaumnya. Namun, perjuangan mereka tidaklah mudah. Banyak penduduk yang menolak ajakan mereka, bahkan setelah diberi peringatan berupa kemarau panjang sebagai azab dari Allah.
Tongkat Estafet Dakwah
Ketika Nabi Ilyas wafat, Nabi Ilyasa meneruskan tongkat estafet dakwah untuk mengembalikan Bani Israil ke jalan Allah. Namun, tugas ini jauh dari kata mudah. Setelah kematian Nabi Ilyas, penduduk Bani Israil kembali melakukan penyembahan berhala dan berbagai tindakan yang melanggar syariat. Meski begitu, Nabi Ilyasa tidak menyerah. Ia terus berdakwah dengan penuh kesabaran, bahkan ketika hanya sedikit yang mau mendengarkan.