Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Mengapa Seseorang Menangis saat Sedih? Ini Penjelasan yang Terjadi!
Freepik.com/rawpixel.com

Banyak orangtua ingin mengajarkan anaknya untuk menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi berbagai masalah. Salah satunya dengan tidak mudah menangis di hadapan orang lain.

Padahal, menangis adalah hal wajar sebagai refleksi diri terhadap perasaan seseorang. Baik perempuan atau laki-laki, semua orang tak ada salahnya kok jika merasa sedih dan mengeluarkan air mata.

Justru, air mata emosional yang dihasilkan diketahui menjadi hasil kinerja yang menakjubkan dari tubuh kita, lho.

Bagaimana sih penjelasannya? Mengapa seseorang menangis saat sedih padahal yang sakit bukan di bagian matanya.

Berikut akan Popmama.com rangkumkan informasi selengkapnya seperti dilansir dari unggahan Riza Putranto, peneliti senior dalam Genomik Molekuler. Jadi informasi baru bagi anak-anak, Ma!

1. Dari mana tangisan anak bermula?

Pexels/SHVETS production

Penjelasan pertama yang dibagikan Riza Putranto dalam Instagram pribadinya adalah menjelaskan dari mana tangisan seseorang bermula. 

Perlu anak ketahui, tangisan yang mereka alami akan selalu berawal dari adanya stimulus emosional (baik positif maupun negatif) yang diterima oleh indera mereka.

Semua stimulus emosional tersebut kemudian diproses oleh otak, terutama oleh bagian amigdala hipotalamus atau regulasi emosi dan sistem saraf otonom. Inilah yang kemudian membuat akhirnya anak bisa mengeluarkan tangis air matanya.

2. Efek yang dirasakan ketika menangis

Freepik/Creativebird

Saat seseorang menangis, biasanya mereka akan merasakan efek yang begitu kentara dalam tubuhnya. Seperti merasakan bibir an suara yang bergetar karena tangisan yang dikeluarkan.

Anak perlu mengetahui, bahwa efek tersebut merupakan sistem saraf otonom yang memicu respon "fight or flight" ketika anak menangis.

Respon tersebut yang kemudian memicu naiknya detak jantung anak, hingga membuat efek seperti bibir dan suara bergetar, bahkan menurunkan keinginan mereka untuk makan atau pun minum.

3. Sinyal tubuh untuk mengeluarkan kelenjar air mata

Ilustrasi - Freepik/Seventyfour

Tak sekadar menangis karena perasaan sedih atau bahagia yang seseorang rasakan. Rupanya, air mata yang mengalir dari mata kita juga dihasilkan oleh sinyal tubuh untuk mengeluarkan kelenjar air mata, Ma.

Riza Putranto kembali menjabarkan penjelasan ketiganya, bahwa emosi yang dirasakan tubuh 'mengatakan' kepada hipotalamus atau sistem saraf otonom untuk memproduksi neurotransmiter asetilkolin

Asetilkolin yang diterima pada bagian saraf parasimpatetik kemudian akan mengirim sinyal ke kelenjar air mata dan membuat seseorang mulai menangis. 

4. Air mata bisa diproduksi dalam jumlah banyak

Ilustrasi - Freepik/Burdun

Ketika seseorang berada dalam kondisi emosi yang intensi, dalam penjelasannya Riza menambahkan bahwa air mata yang diproduksi pun bisa bertambah dalam jumlah yang lebih banyak.

Kondisi ini tak hanya membuat air mata menetes dari mata ke area pipi, tetapi juga masuk ke dalam rongga hidung melalui saluran lakrimal, atau sistem fisiologis yang terdiri dari struktur-struktur orbital untuk menghasilkan dan menyerap air mata.

Jadi, ketika seseorang tak tertahankan untuk mengeluarkan tangis air matanya, biasanya orang tersebut akan menangis dengan disertai hidung yang meler. Kita semua pasti pernah merasakan hal seperti itu kan, Ma?

5. Merasakan lega pasca menangis

Freepik/karlyukav

Ketika anak mama merasa sedih tak terhingga, biasanya beberapa orang di sekitarnya kerap menyarankan mereka untuk menangis untuk membuat suasana hati menjadi lebih lega.

Apakah hal itu benar adanya? Ya, jawabannya adalah benar, Ma. Hal ini juga dimasukkan ke dalam penjelasan yang dibagikan peneliti senior dalam Genomik Molekuler, Riza Putranto dalam unggahannya.

Ketika seseorang menumpahkan seluruh emosinya, kemudian otak akan memproduksi neurotransmiter endorfin bernama leusin-enkefalin, yang mana berdasarkan Journal of Research in Personality 2011, sensasi pertama yang dirasakan pasca menangis adalah lega.

6. Merasa lebih tenang dan emosinal stabil

Ilustrasi - Freepik/jcomp

Selain merasa lega, penelitian lainnya juga menemukan bahwa seseorang yang menangis juga bisa memberikan sensasi perasaan yang lebih tenang dan juga stabil secara emosional.

Hal ini karena emosi yang ditumpahkan kemudian membuat otak juga akan memproduksi neurotransmiter oksitosin dan serotonin. Seperti dijelaskan dalam penelitian Frontiers in Psychology 2014, anak akan merasa lebih tenang dan secara emosional stabil ketika dirinya selesai menangis.

Itu dia penjelasan terkait tangis emosional merupakan hasil kinerja menakjubkan dalam tubuh seseorang, yang bisa menjadi pembelajaran dan pemahaman baru bagi anak.

Menangis tak ada salahnya kok untuk merefleksikan emosi dan perasaan yang anak rasakan. Seperti yang dikatakan Dion Metzger, M.D., seorang psikiater Amerika Selatan, "Lepaskan tangis hingga merasa lega." 

Maka, tidak apa jika memang anak harus menangis. Menangis bukan tanda kelemahan seseorang, kok!

Editorial Team