Hukum Berteriak pada Anak dalam Islam, Bolehkah?

Sesungguhnya Allah SWT mencintai segala yang lembut, termasuk cara bicara kepada anak

17 Oktober 2021

Hukum Berteriak Anak dalam Islam, Bolehkah
Pexels/august-de-richelieu

Banyak cara yang bisa digunakan oleh orangtua dalam mendisiplinkan anak. Namun, tak jarang cara orangtua tersebut justru bisa menimbulkan trauma dan luka mendalam dibenak si Kecil.

Sebagai orang Islam, kita diajarkan untuk selalu berperilaku baik kepada sesama manusia. Lantas, jika ingin menegur misalnya, apa hukum berteriak pada anak menurut Islam?

Dari beberapa pendapat umum, perkataan yang tidak baik, kasar dan jauh dari hikmah bukanlah termasuk kepada sifat-sifat orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebab, mukim sejati adalah orang yang memiliki perkataan baik, lembut dan hikmah.

Lantas bagaimana jika orangtua berteriak kepada anak? Apakah salah atau diperbolehkan menurut agama Islam?

Berikut Popmama.com rangkum hukum berteriak pada anak menurut Islam, yuk pahami bersama.

1. Orangtua harus memahami anak-anak dari sudut pandangnya

1. Orangtua harus memahami anak-anak dari sudut pandangnya
Freepik/peoplecreations

Tugas membesarkan anak adalah tantangan tersendiri. Tidak semua rencana parenting dari orangtua bisa berjalan lancar. Ada saatnya kita merasa emosi dengan tingkahnya. 

Mungkin tak jarang kita juga marah, lepas kendali, hingga berteriak padanya. Padahal, dalam agama Islam, berteriak pada anak adalah sesuatu yang dilarang. 

Mengutip dari sebuah hadits, orangtua sebaiknya mengingat tingkah laku mereka di masa kecil untuk membantu memahami anak-anak mereka dengan lebih baik. 

"Siapa saja yang memiliki anak harus melatih membawa diri mereka ke tingkat masa kecil mereka," (diriwayatkan oleh Imam Ali A.S).

Editors' Picks

2. Hindari berteriak kepada anak

2. Hindari berteriak kepada anak
Freepik/peoplecreations

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, orang mukmin layaknya berlaku baik. Diantaranya menghindari adab buruk dalam berbicara, misalnya suka berteriak dan meninggikan suara.

"Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai". (Q.S Luqman: 19)

Maksud dari perkataan itu adalah hendaknya kita tidak berlebihan dan tidak meninggikan suara jika tidak diperlukan. Orang yang meninggikan suara disebut tidak ada bedanya seperti keledai karena memiliki suara yang keras dan melengking.

Ini menunjukkan bahwa meninggikan suara saat berbicara merupakan perbuatan sangat tercela dan dilarang dalam agama Islam.3. Hukum berteriak pada anak menurut Islam

3. Hukum berteriak pada anak menurut Islam

3. Hukum berteriak anak menurut Islam
Freepik/peoplecreations

Sebagai orang Islam, kita diajarkan untuk selalu berlaku baik. Bahkan kepada orang yang pernah menyakiti kita sekalipun. Hal itu mengacu kepada kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang selalu berlaku baik pada siapapun.

Perlu kita sadari sebagai orangtua, berteriak pada anak akan memberikan pengaruh buruk kepadanya. Misalnya trauma atau anak akan mencontoh perbuatan kita di saat dewasa.

Kebiasaan berteriak juga bisa membuat anak berperilaku agresif, baik fisik maupun verbal.

Diriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dipuji oleh Allah bahwa beliau tidak suka berteriak-teriak. Perilaku Nabi Muhammad ini sudah selayaknya kita tiru.

Dalam sebuah hadits Allah SWT berfirman,
“Engkau (Muhammad) adalah hamba-Ku dan rasul-Ku, aku namai engkau Al Mutawakkil, engkau bukan orang yang keras dan kasar, bukan orang yang suka berteriak-teriak di pasar, engkau tidak membalas keburukan dengan keburukan, bahkan engkau pemaaf dan lapang dada." (HR. Bukhari no. 6622).

Dalam sebuah hadis disebutkan jika Allah SWT saja mencintai kelembutan dalam semua perkara. Termasuk dengan cara mendidik orangtua kepada anak.

Mendisiplinkan anak bisa dengan membentu kebiasaan berulang yang akan terus dia ingat. Bukan menghukum dengan berteriak atau memukulnya.

4. Selain berteriak, hindari juga memukul anak-anak

4. Selain berteriak, hindari juga memukul anak-anak
Freepik

Kadang kita orangtua bisa habis kesabaran saat menghadapi tingkah anak. Namun, jangan sampai kita juga ringan tangan untuk memukulnya.

Umumnya, orangtua memukul anak di bagian bokong atau dengan menggunakan telapak tangan sebagai bentuk hukuman fisik. Meskipun tidak menyebabkan luka fisik, hal ini dapat mengakibatkan masalah mental yang serius bagi anak. 

Apalagi jika pukulannya keras dan melukai anak, hukuman ini bisa berisiko memengaruhi sifatnya menjadi impulsif dan anti-sosial. Ia juga cenderung berperilaku kasar saat dewasa.

5. Perlakukan anak dengan penuh cinta kasih

5. Perlakukan anak penuh cinta kasih
Pexels/Ksenia Chernaya

Mengutip laman AZislam.com, dibandingkan mendidik anak dengan berteriak, memukul anak atau melakukan kekerasan, lebih baik perlakukan anak dengan cinta dan kasih sayang. Beri mereka pelukan dan ciuman setiap saat agar mereka selalu merasakan cinta dari orangtuanya.

Ada sebuah cerita, seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata "Saya tidak pernah mencium anak saya." Lalu, Nabi pun menjawab pernyataan laki-laki tersebut dan bersabda, "sesungguhnya orang seperti ini akan menjadi penghuni api neraka."

Jadi jika orangtua merasa kesal dengan ulah si Kecil, sebaiknya, tenangkan diri dulu sambil membaca istigfar. Pikirkan dengan matang apa yang hendak kita katakan.

Sejajarkan diri kita dengan mata si Anak dan bicaralah dengan pelan kepadanya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.